oleh

Mahasiswa Mandiri Finansial

Oleh : KINTAN MELATI
(Mahasiswa KPI Semester 3 Universitas Ibn Khaldun Bogor)

Mahasiswa sebagai agen perubahan harus bisa memanfaatkan, atau menciptakan peluang usaha di tengah pandemi Covid-19.

Sudah sekitar sepuluh bulan pandemi Covid-19 berlangsung. Dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa, dan yang paling menonjol adalah merosotnya kondisi ekonomi. Hal tersebut juga diakui oleh Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan Indonesia dalam forum internasional, Governors’ Seminar: Developing Asia Beyond the Pandemic, Jakarta, Kamis (18/9) seperti yang dilansir dari Liputan6.com. 

Terpuruknya perekonomian Indonesia ini tentu dirasakan pula oleh para mahasiswa, baik di universitas negeri maupun swasta. Sebagian dari mereka tidak mampu membayar uang kuliah. Belum lagi untuk keperluan lain, misal unit kegiatan mahasiswa dan organisasi internal kampus seperti HIMA, DEMA, DPM, BEM, dan sebagainya yang memerlukan biaya lebih jika mengadakan suatu acara, demi menjaga produktivitas mahasiswa di masa pandemi Covid-19. 

Hambatan-hambatan yang kerap menjadi alasan mahasiswa “nunggak” salah satunya lantaran orang tua yang terpaksa tidak bekerja. Tidak sedikit perusahaan yang meliburkan karyawan, bahkan sampai terjadinya PHK. Dengan begitu, mahasiswa yang masih mengandalkan orang tua pun jadi kesulitan melunasi uang kuliah.

Beberapa mahasiswa yang merantau juga memiliki masalah tersendiri. Di samping kebutuhan hidup keluarga di daerah asal yang harus terpenuhi, mereka juga perlu memikirkan biaya hidup sehari-hari. Mulai dari biaya kos, makan, transportasi, listrik, air, dan biaya tidak terduga lainnya. 

Seringkali para orang tua pun kebingungan untuk memenuhi segala kebutuhan di masa pandemi. Harga pangan yang melonjak naik, harga produk kesehatan yang menggila, ditambah kewajiban untuk melunasi uang sekolah anak, membuat biaya rumah tangga semakin cepat terkuras. Profesi masyarakat juga menjadi pemicu masalah. Karena berapa pun upah yang mereka dapatkan harus cukup untuk memenuhi kebutuhan selama pandemi berlangsung.

Meski begitu, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menjamin bahwa tidak ada mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) yang drop out cuma karena tidak mampu membayar biaya semester saat pandemi Covid-19. Sebagaimana tercantum dalam Perkemendikbud No. 25 Tahun 2020. 

Namun bagaimana dengan nasib mahasiswa di universitas swasta? Nadiem menjelaskan bahwa ia telah memberikan bantuan UKT sejumlah Rp. 1 triliun untuk mahasiswa PTN dan beberapa PTS. 
Di Universitas Ibn Khaldun Bogor sebagai perguruan tinggi swasta pun sudah memberikan keringanan kapada mahasiswanya dalam membayar uang kuliah. Contohnya, para mahasiswa Fakultas Agama Islam yang terdampak Covid-19 diperbolehkan mengajukan surat keringanan biaya kepada Wakil Dekan II Bidang Pengelolaan Sumber Daya. Kampus yang biasanya meminta mahasiswa untuk segera membayar uang semester sebelum ujian, kini memberi kelonggaran waktu lebih banyak.

Ilustrasi

Meski begitu, mahasiswa yang berperan sebagai agent of change sudah selayaknya bisa menciptakan berbagai solusi demi menghadapi krisis ekonomi. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sudah membuat program berbasis pada kompetensi SDM, yaitu dengan cara menciptakan Wirausaha Baru Tenaga Kerja Mandiri (WBTKM). Program ini memfasilitasi pemuda yang memiliki minat wirausaha. Menaker Ida menjelaskan bahwa telah menyediakan teknologi, dan bantuan sarana usaha agar pengetahuan yang masyarakat terima dapat diimplementasikan menjadi produk yang berdaya saing.

Di lain sisi, berhubung belanja online meningkat pesat di masa pandemi Covid-19, beberapa mahasiswa sukses memanfaatkan peluang tersebut untuk berdagang demi menambah pendapatan guna menutupi kekurangan biaya. Menurut Menaker Ida, hal itu terbukti oleh berbagai platform wirausaha online hasil karya anak bangsa yang berhasil menjadi unicorn perekonomian Indoensia.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mengambil peluang di setiap kondisi untuk membantu menstabilkan perekonomian Indonesia, atau setidaknya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka dari itu, alangkah baiknya jika mahasiswa berbisnis sejak dini. Mulai dari bisnis digital, sampai menjual produk-produk yang menguntungkan. Misal menjual suplemen kesehatan yang kini permintaan pasarnya meningkat pesat, makanan, dan kebutuhan hobi yang diperlukan masyarakat untuk menghabiskan waktu selama di rumah.

Contohnya Robi Putra, mahasiswa semester 5 Universitas Ibn Khaldun Bogor yang meraih pesanan 1000 botol dari bisnis suplemen propolisnya. Ini membuktikan bahwa permintaan pasar terkait produk kesehatan mampu menjadi peluang yang menguntungkan.

Banyak hal yang dapat mahasiswa lakukan guna menambah penghasilan sebagai solusi atas krisis ekonomi. Virus bisa saja bermutasi, tapi mahasiswa sebagai agen perubahan harus bisa beradaptasi, dengan cara mengambil peluang, atau bahkan menciptakan peluang usaha itu sendiri. Karena menjadi wirausaha muda adalah salah satu cara mahasiswa untuk ikut serta dalam upaya membangkitkan perekonomian Indonesia. Dengan begitu, Indonesia akan memiliki banyak mahasiswa yang mandiri finansial. Sehingga perubahan positif pun perlahan menyebar di masyarakat dengan mahasiswa sebagai ujung tombaknya.[ ]

Komentar