Mari Menyambut Lailatul Qadar dengan Istiqomah Beribadah

Artikel, Berita462 Dilihat

Oleh : Ahmad Tavip Budiman, M. Si.
(Ketua Komisi Dakwah & Pemberdayaan Masyarakat – MUI Kota Bogor, Qismu A’wan PC NU Kota Bogor)

Begitu banyak kemuliaan Ramadhan diberikan oleh Allah SWT kepada mukmin yang berpuasa, di antaranya akan dihapus dosanya jika dia berpuasa dengan penuh keimanan dan hanya mengharap ridha Allah.

Sebagaimana bersabda Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya, ”barang siapa yang berpuasa dengan iman dan hanya mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Makna dari kalimat “disertai dengan iman” adalah membenarkan bahwa lailatul qadar benar adanya, adapun makna dari “semata-mata mencari keridhaan Allah” adalah semana-mata mencari keridhaan Allah dan tidak mencampurinya dengan riya’ (pamer) dan lain sebagainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemuliaan lain dari Ramadhan, ada suatu malam yang disebut “lailatul-qadar” yang secara eksplisit difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Qadr ayat 1-5 yang artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (1). Dan tahukah kamu apa malam kemulian itu? (2). Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan (3). Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4). Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5).

Pertanyannya, kapan akan turun malam Qadar itu? Di sini para ulama berbeda pendapat, namun berdasarkan hadits Rasulullah SAW, bahwa kita disuruh mencari lailatul-qadr pada sepuluh malam akhir Ramadhan yang dikenal dengan istilah asyurl awakhir.

Terutama pada malam-malam ganjil, 21, 23, 25, 27 ataupun 29 Ramadhan. Sebagai mukmin dan shaimin, kita tentu sangat rindu ingin berjumpa dengan malam qadr karena nilai ibadah pada malam itu lebih baik dari pada seribu bulan atau 83 tahun lebih.

Luar biasa, Allah melipat gandakan pahala amal shalih dan ibadah pada malam qadr itu. Oleh karena itu, untuk menyambut datangnya lailatul qadar, dianjurkan mengerjakan beberapa amalan-amalan antara lain, memperbanyak shalat, berdoa dan lainnya.

Disunahkan pula menghidupkan lailatul qadar dengan beribadah, seyogyanya mencari lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan.

Hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini: diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahhuanha, iya berkata; “dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanti sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan dan bersabda: “berusahalah mencari lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR.Bukhari).

Dalam kitab “Ash-Shahihain” disebutkan: Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata: “dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah memasuki sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan beliau menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, semangat dan mengencangkan kainnya (sangat giat dalam menjalankan amaliah ibadah).” (HR.Bukhari dan Muslim).

Penjelasan Orang yang Mendapatkan Pahala Lailatul Qadr

Orang yang menghidupkan malam lailatul qadr dan benar-benar menemukan lailatul qadr, maka dia akan menerima pahala lailatul qadar, meskipun ia tidak mengetahui secara hakiki terhadap lailatul qadar baik nur (cahaya) maupun kekhususan-kekhususannya.

Baik dalam keadaan terjaga maupun tidur. Hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar disertai iman kepada Allah dan semata-mata mencari keridhaan Allah, maka dosa-dosanya yang telah lewat akan diampuni.” (HR.Muslim)

Pada malam lailatul qadar disunnahkan memperbanyak membaca doa sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini: Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,iaberkata; “saya bertanya: “ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku menemukan lailatul qadar, apa yang aku baca?” lalu Rasulullah sahllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “bacalah doa; Allahumma Innaka ‘Afuwun Karim Tuhubbul-‘afwa Fa’fu ‘Anni (Ya Allah Engkau adalah zdat yang Maha Memberi Ampun dan dzat yang Mulia, engkau menyenangi pemberian maaf, maka berilah maaf kepadaku) (HR. At Tirmidzi) .

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Di antara tanda-tanda lailatul qadar adalah matahari terbit pada pagi hari dengan sangat terang tidak nampak kabut sama sekali, hal ini karena kuatnya cahaya yang turun pada malam lailatul qadar, juga karena banyaknya malaikat yang turun, juga karena turunnya rasa tenang, serta ruh yang bersih yang tersebarantara langit dan bumi.

Di dalam kitab “Shahih Muslim”diriwayatkan dari Ubaiy bin ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Demi dzat yang tiada Tuhan melainkan Allah, sesungguhnya lailatul qadar terdapat pada Ramadhan, lailatul qadar adalah suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammemerintahkan kepada kami para sahabat untuk menghidupkannya dengan melaksanakan shalat, lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh bulan Ramadhan. Di antara tandanya adalah matahari terbit pada pagi hari dengan sangat terang tidak nampak kabut sama sekali.”(HR.Muslim).

Di dalam kitab “Musnad Ahmad“ dengan sanad yang bagus di sebutkan, di riwayatkan dari Ubdah bin shamit radiallahu’anhu ia berkata, rasulullah shalallahu’alaihiwassalam bersabda : “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda lailatul qadar adalah malam yang sangat terang, seakan terdapat bulan yang bersinar dengan sangat terangnya, malam yang penuh ketenangan, cuacanya tidak dingin dan tidak panas, bintang-bintang terangi benderang sampai datangnya pagi. Di antara tanda-tanda lainnya dalah matahari terbit dengan sangat terangnya tanpa diliputi kabut (bayangan) seperti rembulan purnama, pada saat itu syaitan tidak akan muncul.” (HR.Ahmad).

Tanda-tanda lailatul qadar yang telah disebutkan dapat memberikan semangat orang-orang mukmin untuk merengkuhnya dan mengisi malam tersebut dengan melaksanakan amalan ibadah, sedangkan tanda-tanda yang muncul setelah malam lailatul qadar dapat memberikan semangat kepada orang mukmin untukmemperbanyak ibadah setelah sebelumnya terjadi lailatul qadar.Karena cahaya lailatul qadar tetap terpancar hingga pagi harinya.

Oleh karena itu, Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya “Al-Majmu” (syarah/penjelas dari kitab “Al-Muhadzdzab”) meriwayatkan bahwa disunahkan bagi setiap mukmin untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah di pagi hari dari malam lailatul qadar sebagaimana ia bersungguh-sungguh pada malam lailatul qadar.

Untuk menjaga agar kita berjumpa dengan malam qadr tersebut, maka hendaknya kita sudah istiqomah dalam beribadah Ramadhan sejak awal bulan. Dan terus sampai akhir bulan Ramadhan kita tetap konsisten menjaga ritme dan semangat ibadah kita.[]

banner 521x10

Komentar