oleh

MEMBANGUN KEPEMIMPINAN ALTRUISTIK DALAM COVID-19

Oleh : Suparman
(Dosen dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Unissula Semarang)

Pandemi Covid- 19 yang merupakan virus global yang menyerang hampir seluruh penduduk belahan dunia sekarang ini, masih terus berlangsung dan sulit diprediksi kapan berakhirnya, sehingga perlu penanganan secara serius, tegas dan dinamis. Namun berbagai aturan dan kebijakan pemerintah terutama PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar ), harus dilakukan secara terintegrasi dan terpadu oleh semua komponen bangsa. Kenyataan dan fakta inilah, suka dan tidak suka Covid-9 memang harus dihadapi dan dikelola serta dimanage dengan baik. Masih banyaknya masyarakat yang tidak menaati aturan dan melakukan pelanggaran harus diberi sangsi tegas. Namun para pemimpin dan negara harus melindungi seluruh warga negaranya dari berbagai krisis akibat covid-19.

Peran pemimpin sebagai eksekutif kepala pemerintahan dan penyelenggara negara mempunyai tanggung jawab besar berada dalam posisi paling depan, selain sebagai fungsi dan posisi legislatif dan yudikatif. Namun manajemen dan administrasi pemerintahan harus siap menjawab terhadap wabah covid-19. Hanya sebenarnya administrasi pemerintahan termasuk di dalamnya adalah manajemen pemerintahan yang mencakup pekerjaan pelayanan, pengawasan dan pengendaian dari kegiatan masyarakat.

Dalam kebijakan manajemen akan menyangkut beberapa hal, diantaranya tidak merugikan siapapun, kalau ada yang dirugikan jumlahnya dapat diminimalisir. Memiliki tujuan jangka panjang dan dapat diterima oleh banyak masyarakat. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat maupun daerah mempunyai rujukan meyangkut kepentingan bersama, adanya keterlibatan aparat pemerintah dan bersifat umum serta penting untuk menangani suatu masalah Covid-19.

Meskipun masing-masing daerah memiliki karakter yang berbeda, ada kemungkinan gubernur, bupati dan walikota juga membuat kebijakan untuk wilayahnya sendiri-sendiri. Namun dalam menterjemahkan kebijakan tersebut menjadi kebijakan manajemen, sehingga perlu disiapkan adanya 5 M yaitu manusia (SDM), Money atau dana, Method atau metode/strategi, Material/logistic atau infrastruktur dan minute atau durasi waktu. Hanya dalam pelaksanaannya jika mengacu manajemen dalam organisasi tidak akan lepas dari planning, organizing, actuating dan controlling.

Dalam konteks ini kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan dalam menekan timbulnya persebaran pandemic Covid-19 serta memulihkan perekonomian setelah pasca pandemi. Kepemimpinan merupakan proses penggunaan pengaruh dengan paksaan untuk membentuk tujuan, dalam menekan persebaran penyakit yang mematikan dengan aturan dan regulasi yang ditentukan oleh Presiden. Namun hubungan dinamis yang didasarkan pada pengaruh timbal balik antara pemimpin dan masyarakat, harus bisa menghasilkan tingkat motivasi yang lebih tinggi dan pengembangan teknis adanya perubahan.

Sementara motivasi merupakan daya dorong yang timbul dari dalam diri masing-masing warga masyarakat, supaya ikut bertanggung jawab terhadap aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah yaitu cuci tangan, menggunakan masker, tinggal dirumah, sosial distancing dan psisical distancing untuk menghindari adanya persebaran penyakit, yang belum ditemukan penawarnya tersebut. Namun motivasi yang sudah dilaksanakan juga tergantung bagaimana perilaku masyarakat dalam melakukan aturan itu dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, masyarakat harus mengubah perilaku dan membudayakan terhadap aturan itu.

Sedangkan pemimpin altruistik adalah pemimpin yang mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau golongan. Dalam menjalankan kepemimpinan tindakannya tidak mementingkan diri sendiri, tetapi berusaha tetap ada bagi masyarakat ketika dibutuhkan. Dengan demikian kepemimpinan ini adalah kepemimpinan yang melayani rakyat. Namun dari beberapa pengamatan belakangan ini tidak banyak pemimpin yang memiliki perilaku altruistik, sehingga bisa dihitung dengan jari. Namun dengan pandemi Covid-19 mudah-mudahan para pemimpin kita memberikan bantuan sosial ini tidak ada kepentingan lain, meski pemilukada yang pada akhir tahun harus dilaksanakan.

Ada contoh pemimpin altruistik yaitu Rasulullah SAW yang disebut Sidiq, Tabliq, Amanah dan Fathonah. Namun ada yang terkenal seperti Bunda Theresia, Dalai Lama, Mahatma Gandhi dan Eleanor Rosevelt. Meski mereka tumbuh dalam passion masing-masing, perilaku dan gaya kepemimpinan mengarah kepada kepemimpinan yang melayani tanpa mengharapkan imbalan. Namun kini yang menjadi pertanyaan adalah adakah pemimpin-pemimpin demikian yang hidup di zaman sekarang ini. Apalagi suasana wabah pandemi covid-19 yang menyerang negara Indonesia tercinta, sehingga melumpuhkan sendi-sendi kehidupan yang berujung pada matinya sosial, ekonomi dan budaya bangsa. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahn ini perlu adanya sikap pemimpin yang suka berbagi, sifat menolong yang tidak mempunyai pamrih apapun.

Menurut Piliavin (1990) ada elemen-elemen dari perilaku altruistik (altruistic behavior) yang harus diperhatikan calon pemimpin dan rakyat, sehingga perilaku harus menguntungkan orang lain, harus dilakukan secara sukarela, harus dilakukan dengan sengaja, manfaat harus menjadi tujuan dengan sendirinya, dan harus dilakukan tanpa mengharapkan imbalan eksternal. Batson (2008) altruism merupakan peduli dan membantu orang lain, tanpa mengharap imbalan dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain. Jadi altruism adalah perbuatan mengutamakan orang lain dibanding diri sendiri, sehingga perbuatan ini adalah sifat murni dalam banyak budaya yang merupakan inti dalam banyak agama.

Hal senada juga diungkapkan oleh Smith (2004), kepemimpinan yang melayani artinya pemahaman dan praktek kepemimpinan yang menempatkan kebaikan orang-orang yang dipimpin dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka. Kepemimpinan yang melayani adalah kepemimpinan yang menghargai dan mengembangkan orang, membangun komunitas, mempromosikan praktek keaslian, menyediakan kepemimpinan untuk kebaikan para pengikut serta masyarakat, dan pembagian kekuasaan untuk kebaikan bersama-sama. Artinya, pelayanan, kepedulian, berbagi dan pengembangan perilaku pemimpin merupakan hal sentral dalam model kepemimpinan melayani.

 

Selain itu, sebagai pelayan bagi masyarakat pemimpin altruistik harus dapat dipercaya, sehingga ada sebuah adagium berbunyi : ‘’kepercayaan adalah akar dari semua kepemimpinan besar’’. Namun untuk menjalankan pemerintahan pemimpin harus bisa dipercaya oleh rakyat. Tanpa kepercayaan, pencapaian tujuan tidak mungkin bisa terjadi. Oleh karena itu, para pemimpin harus membangun kepercayaan di antara mereka dan pengikutnya yaitu warga masyarakat. Hanya untuk mewujudkan hal ini, pemimpin perlu melakukan interaksi langsung dengan yang dipimpin. Pemimpin bisa dapat turun langsung atau blusukan untuk menyerap aspirasi rakyat yang berada di bawah.

Pemimpin yang melayani harus fokus pada pengembangan dan pertumbuhan lain. Jika ingin kepemimpinannya diterima dan mencapai tujuan harus mampu memberdayakan pengikutnya melalui pengembangan dan kepercayaan. Pemimpin juga harus menghormati masukan dan kritikan dari yang di pimpinnya untuk membangkitkan sebanyak mungkin kekuatan kepemimpinannya. Melibatkan pengikutnya dalam setiap kebijakan adalah bentuk mendelegasikan kepercayaan, memberi rasa percaya diri, sehingga meningkatkan kepercayaan diri mereka masing-masing.

Pendeknya, tidak ada pemimpin yang tidak merangkul pengikutnya, tetapi dalam proses pemerintahan kerja sama antara pemimpin dan pengikut tidak hanya diartikulasikan, melainkan juga dipraktekkan secara efektif. Dengan demikian pemimpin yang akan bisa menangani pandemi covid ini, secara baik dan tidak menimbulkan gejolak dalam masyarakat, maka secara tidak langsun dapat berkontribusi dengan mengembangkan struktur pemerintahan, yang memberdayakan orang-orang di akar rumput, untuk menghasilkan partisipasi publik yang berarti dalam pemerintahan. Jadi perhatian utama pemimpin altruistik adalah melayani bukan dilayani.

Namun demikian gaya kepemimpinan altruistik tidak sekadar melayani belaka, tetapi juga mampu diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan masyarakat tanpa pamrih. Sejatinya, seorang pemimpin altruistik dituntut memiliki tanggung jawab dan pengorbanan yang tinggi demi kemajuan bersama. Seperti dalam kasus pandemi Covid-19 ini harus dilakukan secara sinergitas dan terpadu antara pemerintah, TNI-Polri dan Stakeholder lain yang penuh tanggungjawab dan penuh integritas, dalam melakukan bantuan sosial terhadap masyarakat terdampak covid.

Kepemimpinan alutruistik jika dikaitkan dengan lingkungan modern sekarang ini, cukup sulit menemukan sosok altruistic. Adam Grant (2013) dalam bukunya Give and Take mengatakan pendekatan revolusioner agar kepemimpinan sukses dan efisien harus didasarkan pada konsep ‘’giving dan receiving’’, dan keduanya harus digunakan dua arah karena ‘’siapapun yang memiliki kebiasan memberi, selain menerima akan memiliki jaringan hubungan yang solid dan dapat dipercaya sehingga bisa mencapai kesuksesan yang lebih besar.’’

Namun bila berkaca kembali tidak sedikit pemimpin Republik ini, yang melupakan konstituen atau warga masyarakat. Mereka bergantian tertangkap tangan oleh lembaga antirasuah (KPK) karena usaha-usaha memperkaya diri. Satu persatu mereka meringkuk dalam jeruji besi, sebagai perbuatan yang tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan. Oleh karena itu, dalam pandemi covid-19 yang melanda negara kita, terutama para pemimpin yang mendapat amanah untuk membagikan bantuan sosial jangan sampai terjadi pemotongan yang diberikan kepada masyarakat.

Jika hal ini sampai terjadi korupsi adalah sebuah tragedi bangsa kita yang mendapatkan pemimpin tanpa jiwa (nekrofili). Pemimpin tanpa empati, tanpa rasa keadilan dan korup, padahal mereka adalah para pemimpin yang dipercaya rakyat. Dengan demikian kepercayaan runtuh begitu saja, sebab para pemimpin mengkhianati suara rakyat. Setiap waktu rakyat menyaksikan drama-drama pusing para pemimpin yang dijerat hukum, karena berusaha dan sudah memperkaya diri ataupun golongan, sehingga mereka lupa diri dan akhirnya rakyatlah yang mengalami kekecewaan.

Selain itu, ada pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang egois, narsistik dan arogan. Pemimpin yang merasa dirinya tuan di atas tuan, pemimpin yang hanya berpegang pada satu prinsip saja. Namun kata-kata dan tindakan yang ditunjukkan tidak berdasarkan atas kemauan masyarakat. Apalagi tidak mencitrakan seorang pemimpin yang merangkul, sehingga mereka kerap pula melontarkan bahasa-bahasa agitatif yang menyulut kebencian dan berujung pada perpecahan. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan seperti ini sudah tidak pada jamannya lagi. [ ]

Komentar