oleh

Menjelang Musim Kemarau, Global Wakaf – ACT DIY Masifkan Pembangunan Sumur Wakaf

INILAHONLINE.COM, YOGYAKARTA

Berdasarkan pemantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini mulai berlangsung di sebagian wilayah Indonesia pada bulan April 2020 dengan tingkat kemarau lebih kering dari situasi normal.

Sebagai antisipasi jangka panjang untuk mengatasi dampak kekeringan, Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap DIY memasifkan pembangunan Sumur Wakaf berupa sumur bor dengan kedalaman hingga 100 meter di berbagai titik di Yogyakarta, Rabu (22/4).

Koordinator Program Sumur Wakaf, Kharis Pradana menyebutkan, “musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi beberapa wilayah di Yogyakarta, terutama di Kabupaten Gunungkidul, hampir setiap musim kemarau tiba Wilayah Gunungkidul selalu diiringi bencana kekeringan, bahkan sampai pada tingkat kelangkaan air bersih,” ungkap Kharis.

Dari total 27 sumur wakaf yang sudah terbangun di Wilayah Yogyakarta, sedikitnya ada 5 titik sumur wakaf yang sedang proses dibangun di bulan April 2020 ini, yaitu berada di di Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Desa Plembutan Kecamatan Playen, Desa Watusigar Kecamatan Ngawen, dan Desa Bendung, Kecamatan Semin.

 

Menurut Kharis, di bulan April ini pembangunan difokuskan di Kabupaten Gunungkidul dikarenakan berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Gunungkidul merupakan wilayah dengan tingkat kekeringan paling ekstrim dibanding wilayah Yogyakarta yang lain, “di tahun 2019 kemarin dari total 17 kecamatan Kecamatan di Gunungkidul, 14 kecamatan mengalami kekeringan yang luar biasa, permintaan dari masyarakat untuk droping air bersih dan pembangunan sumur sangat tinggi,” paparnya.

Adapun yang cukup menjadi kendala saat proses pembangunan sumur menurut Kharis adalah postur tanah yang di dominasi bebatuan hitam yang menyebabkan lamanya proses pengeboran, “seperti di Kecamatan Patuk, Gunungkidul dan Kecamatan Dlingo, Bantul, tanahnya banyak ditemukan bebatuan hitam yang keras, orang sini menyebutnya ‘watu kebo gopak’ karena mirip kerbau yang sedang berendam, bahkan sehari dilakukan pengeboran menggunakan alat berat hanya mendapat kedalaman setengah sampai satu meter,” ungkap Kharis.

Selain kendala kerasnya bebatuan, lanjut Kharis, di Wilayah Gunungkidul juga didominasi bebatuan karst (bebatuan kapur), yang posturnya berupa tanah berongga, dampak kurang baik dari bebatuan ini adalah saat pengeboran berlangsung akan menghabiskan banyak air, kadang sampai 40 tangki, karena airnya tersedot habis kedalam tanah.

Walaupun begitu ikhtiar untuk mengentaskan bencana kekeringan tahunan secara perlahan terus di upayakan, dari keseluruhan sumur wakaf yang telah dibangun di Gunungkidul dan sekitarnya, Kharis menyebutkan, seluruhnya mendapatkan debit air yang baik, dan air bersihnya dialirkan ke masjid, pesantren hingga ke dusun-dusun setempat untuk keperluan sehari-hari masyarakat.

“Pembangunan sumur wakaf kali ini juga merupakan ikhtiar Global Wakaf-ACT DIY agar di masa pandemi Corona kebutuhan sanitasi warga terpenuhi, untuk mendukung kesehatan masyarakat,” tutup Kharis.

(CJ/Nasrudin – ACT)

Komentar