oleh

Nasib Pasien di Era Online

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Tekad Manajemen Rumah Sakit Mulia, Kota Bogor mempermudah pasien mendaftar secara Online untuk berobat, selain akan terintegrasi ke Dokter poliklinik juga menggunakan teknologi informasi yang dikelola oleh tenaga terampil. Hingga kini, jika masih ada pasien yang kecewa dengan layanan pendaftaran via online diharap maklum. Demikian pula soal kepastian kuota pasien yang baru bisa diketahui pada hari H, ternyata sulit diketahui jauh hari sebelum saat pasien berkunjung ke rumahsakit tipe C itu.

“Niat dan tekad kami mempermudah pasien, juga mempercepat pendaftaran dengan sistem online. Apalagi buat pasien jantung dan ginjal yang butuh penanganan cepat dan akurat, kami sangat concern,” ungkap Kristin, staf Marketing didampingi Jessica, Koordinator Bagian Umum RS Mulia ketika dikonfirmasi, Senin (29/4/2019).

Alumnus IPB itu memastikan, peralatan medis di RS Mulia itu cukup lengkap dan mutakhir, seperti ESWL, alat tembak batu ginjal dengan gelombang kejut, sehingga pasien tak perlu operasi dan rawat inap. Pasien batu ginjal kecil cukup merogoh kocek Rp 5 juta (harga promo) sudah bisa menggunakan alat yang dihadirkan sejak 25 April 2019 itu, termasuk biaya dokter, obat dan pelayanan selama tindakan. Kecuali bila batu ginjalnya besar sekitar 3 milimeter, biayanya lebih besar, karena tindakannya dua sampai tiga kali. Harga normal untuk sekali tindakan batu ginjal kecil kisarannya Rp 8 juta hingga Rp 9 juta.

Terkait pendaftaran online, Kristin menjelaskan, pasien bisa melakukannya via WhatsApp dua hari sebelum saat berkunjung ke RS Mulia, yaitu hari yang ditentukan oleh petugas dari poli yang dituju, seperti jantung yang saat ini hanya ada satu dokter spesialisnya, yakni dr M Haris, SpJP. Setelah itu, pasien antre yang dibuka sejak pukul 05.00 WIB, baik untuk berobat ke dokter yang praktik pagi maupun sore.

“Biar nggak ramai kayak di pasar, antrean pasien itu kami atur bertahap, sambil tunggu kepastian kuota dari dokter poli yang disampaikan oleh perawatnya. Sehari ada yang 20. 30, 70, bahkan sampai 92 hingga 135 pasien kuotanya. Semua ditangani oleh dokter di poli masing-masing,” jelas perempuan berkacamata itu. Kebanyakan mereka itu pasien BPJS, sedangkan pasien umum dan asuransi sekitar 10-20 persen.

Sistem online ini baru diberlakukan di RS Mulia pada Februari 2019. Meski diakui banyak mendatangkan manfaat bagi pasien, namun juga menimbulkan kekecewaan dari kalangan pasien, apalagi belakangan ini BPJS memberlakukan aturan baru soal rujukan padien dari Puskesmas ke rumahsakit tipe C, baru tipe B dan A.

Hal ini seperti dialami seorang pasien jantung di RS Mulia. Semula ia dirujuk ke RS PMI (tipe B), kini ke RS Mulia (tipe C). Ketika mendaftar via online, pasien BPJS ini mengaku sangat kecewa, karena tak dibalas-balas, akhirnya ia datang dan mendaftar secara manual. Ketika itu kuota diumumkan 70, meliputi 20 pasien umum dan 50 pasien BPJS.

“Sudah menunya tak jelas, nggak dibalas pula. Eh ketika kuotanya diumumkan 70 orang ternyata ada 73 orang, nah yang tiga ini siapa yang bawa. Saya bilang jangan main-main dengan kuota, apalagi penderita jantung, bisa berbahaya bagi si pasien. Anehnya lagi kuota itu masih dibuka, saya dapat nomor 104. Dan ternyata total pasiennya tambah jadi 130 orang. Dokter jantungnya datang sore hari,” ungkap warga Bogor itu.

Ketika dikonfirmasi ke Kristin, staf Marketing RS Mulia, ia membenarkan soal dibukanya kuota tersebut, bahkan hari itu pasiennya ada 135 orang dan ditangani semua hingga malam. “Soal kuota ini memang aturan internal kami, asalkan dokternya bersedia menanganinya, bisa sebanyak-banyaknya. Tidak ada batasan,” tuturnya.

Seperti dr M Haris, SpJP, yang praktik Senin, Rabu, Jumat, kadang kuotanya tak sebanyak itu, bisa karena lelah, atau ada acara lain yang harus ia jalani.

Suasana ketika pemanggilan pasien dengan kuota mbludak itupun jadi pemandangan yang butuh waktu cepat. Pasien yang nunggu giliran diminta perawat agar segera ‘tidur’ (rebahan) di ruang dokter agar bisa secepatnya diperiksa dokter. Itulah fenomena betapa kesehatan sebagai hak azasi warga di negeri ini masih butuh perhatian serius.

(CJ/Sepna/Mutiara/Muthia)

Komentar