Ngaji Bareng Cak Nun di Kendal, Ini Pesannya

Berita, Jawa Tengah619 Dilihat

INILAHONLINE.COM, KENDAL

Budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun hadir ditengah-tengah masyarakat Kabupaten Kendal, dalam acara Sinau dan Ngaji Bareng Cak Nun bersama Kiai Kanjeng digelar di Alun – Alun Kendal, Selasa (30/7/2019) malam.

Dalam acara pengajian yang digelar dalam rangka memperingati hari jadi ke 414 Kabupaten Kendal tersebut, dihadapan ribuan masyarakat Kendal Cak Nun mengatakan, seorang pemimpin selain memberi contoh yang baik juga harus mendengarkan suara hati nurani dari rakyatnya.

“Ada tiga model posisi kepemimpinan. Pertama yakni pemimin yang berada di depan dan bisa memberikan contoh yang baik. Pemimpin yang baik itu berada di depan dan menggerakkan rakyat. Jika diibaratkan bagai lokomotif yang menarik gerbong kereta,” katanya.

Namun demikian, lanjut Cak Nun, kedua yaitu seorang pemimpin yang mau berada di tengah-tengah rakyatnya. Mereka mau mendengarkan keluh kesah rakyat yang dipimpinnya. Terakhir yakni pemimpin yang rela berada di belakang rakyatnya.

“Orang yang menggembala hewan ternak ada di depan atau di belakang. Tentunya ada di belakang. Jadi pemimpin itu tidak harus selalu berada di depan,” tutur suami dari mantan aktris dan penyanyi Novia Kolopaking ini.
Dengan gaya khas yang rileks, Cak Nun mengajak kepada seluruh masyarakat untuk bersatu membangun Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk tetap mejaga persatuan dan kesatuan Indonesia dari daerah.

“Indonesia bisa bersatu karena daerah – daerah termasuk Kabupaten Kendal, ada Kesatuan dan persatuan sehingga semuanya aman dan damai, kondusif,” ucapnya.

Dikatakan, bahwa di surga nanti akan terlihat sekelompok orang dengan wajah-wajah yang bersinar, yaitu orang-orang yang bersaudara dan saling mencintai satu sama lain di dalam jiwa mereka.

”Meskipun tidak ada hubungan darah, berbeda suku, agama dan berbeda segalanya, namun mereka bersatu dalam cinta kepada Allah. Orang-orang itulah yang memancarkan wajahnya di surga,” urainya.

Ia menambahkan, pemimpin jangan sekadar bertanggung jawab terhadap pembangunan. Mereka harus memiliki pendekatan yang bagus kepada masyarakat, sehingga warga merasa senang karena bisa dekat dengan pemimpinnya.

“Setiap orang memiliki jarak kedekatan satu dengan lainnya. Misalkan telapak tangan diletakkan di wajah, tentu tidak bisa dilihat dengan sempurna. Tapi lain kalau diberi jarak sekitar 30 sentimeter, tentu telapak tangan kita bisa dilihat dengan baik,” imbuhnya.

Dirinya mengingatkan, manusia jangan memandang rendah orang lain. Belum tentu orang yang dipandang rendah lebih baik dari diri sendiri. Manusia yang memiliki keterbelakangan mental belum tentu lebih buruk dari orang lain. “Semua orang memiliki posisinya masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati dr Mirna Annisa M.SI mengatakan, sinergisitas kekompakan dan kebersamaan masyarakat untuk membangun Kabupaten Kenda sangat dibutuhkan. “Tanpa kebersamaan, sulit untuk bisa membangun Kendal menjadi lebih baik. Begitu juga bagi generasi muda agar terus semangat dalam berkarya untuk membangun daerahnya,” tandasnya.

(Suparman)

banner 521x10

Komentar