oleh

Pandemi Covid-19, Festival Kota Lama Semarang Digelar Secara Virtual

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Panitia acara Festival Kota Lama (FKL) Kota Semarang resmi mengubah pagelaran tahun ini dalam bentuk virtual. Pasalnya, situasi pandemi Covid-19 masih melanda. Sesuai jadwalnya, FKL akan digelar 17-27 September 2020.

Gelaran festival kali kedelapan ini sesuai dengan imbauan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Sehingga penyelenggaraan hanya fokus pada Live In Concert secara virtual dengan tema “Kuna, Kini, Nanti”. Direncanakan pula, kegiatan tetap akan bisa dinikmati.

Ketua Panitia Penyelenggara Yeru Salimianto mengatakan, menilik sejarah penyelenggaraannya, Festival Kota Lama digelar sejak 2012. “Selalu mendapat perhatian masyarakat, baik dari Kota Semarang dan sekitarnya, maupun dari kota-kota lain di Indonesia. Bahkan dari Belanda,” kata Yeru saat jumpa pers di Toko Oen, Kota Semarang, Kamis (17/9/2020).

Menurutnya, FKL sudah masuk dalam Top 100 National Calendar of Event 2020. Kegiatan FKL merupakan bentuk nyata kolaborasi unsur pemerintah dengan pihak swasta, yaitu Pemprov Jateng, Pemkot Semarang, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BP2KL) Semarang, KBRI Den Haag, Kemenparekraf, dan Oen’s Foundation Semarang.

Setiap kali penyelenggaraan, FKL selalu mendapat perhatian masyarakat. Contohnya, pada perhelatan 2019, FKL diselenggarakan selama 11 hari mulai 12-22 September 2019 dengan mengambil tema Indische Parade menyongsong destinasi wisata dunia. Di dalamnya, dimeriahkan dengan Indische Parade dengan menghadirkan sejumlah komunitas. Serta menampilkan atraksi-atraksi seni budaya bernuansa Belanda-Semarang, termasuk berbagai busana zaman Belanda hingga modern dan transportasi antik zaman Belanda.

Ada pula, kuliner legendaris, jelajah Kota Lama, bedah buku, bedah film, pameran, seminar dan workshop, lomba dansa, lomba lari berjarik dan sarungan, belajar Bahasa Belanda, serta lainnya. Dengan titik lokasi adalah gedung Marabunta, Taman Kota Lama, Oudetrap, Monod, Soesman Kantor, Gereja Blenduk, Jalan Cendrawasih, Jalan Suprapto, dan Jalan Kepodang.

Saking antusiasnya FKL, biasanya ada penutupan akses seperti Jalan Kepodang, Jalan Sayangan, Jalan Merak, Jalan Suprapto, dan Jalan Cendrawasih. Festival Kota Lama ini untuk mewujudkan cita-cita Kota Lama sebagai warisan budaya dunia.

Perwakilan penyelenggara FKL dari Oen’s Foundation, Yenny Megaputri menceritakan sekilas awal terbentuknya kegiatan FKL. Untuk penyelenggaraan FKL di antaranya memiliki tujuan untuk merawat bangunan lama kawasan Kota Lama Semarang.

“Ada 105 bangunan bisa ambruk semua kalau enggak ngapa-ngapain (di kawasan Kota Lama),” ungkap Yenny.

Dia menuturkan sebelum 2012 bertemu arkeolog Kriswandono. Kemudian, mereka memikirkan bagaimana caranya bisa merawat Kota Lama supaya lebih baik. Mengingat saat itu, kawasan kerap terendam banjir. Yenny yang kebetulan saat itu masih tinggal di Belanda, berupaya berbagi info kondisi Kota Lama Semarang dengan sejumlah ahli penataan bangunan tua di negeri Kincir Angin.

“Mereka pun care,” imbuhnya.

Baru pada 2012, ahli didatangkan ke Kota Lama Semarang, yaitu ahli sejarah dan arsitek Belanda berupaya menatanya. Seperti mencari solusi supaya membersihkan gorong-gorong Kota Lama, dan sebagainya. Tidak hanya itu, mereka dibantu akademisi, dan mengajak masyarakat yaitu dalam bentuk membuat acara festival, sehingga, terbentuklah FKL. Setelah sebelumnya, mereka membuat yayasan yang merupakan penyelenggara FKL yaitu Oen’s Foundation Indonesia dan Oen’s Foundation Belanda.

Adapun di antara tujuan FKL adalah membawa semangat kuna, kini, nanti, yaitu menjaga unsur kuno untuk kini sehingga unsur nantinya, tidak hilang. Itu sekaligus menjadi bentuk edukasi. Dalam prosesnya, FKL berjalan dari yang sederhana sampai kini terus berjalan.

“Dari 2012 sampai 2015 selalu ada perkembangan,” tutur pemilik toko legendaris, Toko Oen Semarang itu.

Upaya penyelenggaraan FKL sekaligus menjaga bangunan kuna, pun berujung cerah. Dia mencatat, dari 105 unit bangunan di Kota Lama saat ini hampir separuhnya sudah lebih bagus kondisinya. Sedangkan antusiasme masyarakat datang ke setiap FKL di setiap tahunnya selalu tinggi. Generasi ketiga pengelola Toko Oen Semarang ini mencatat, untuk wisatawan kuliner saja, saat FKL bisa mendatangkan pengunjung hingga ratusan ribu orang. (Ali Subchi)

Komentar