Pengembangan Bisnis Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor Dibutuhkan Dana Rp 140 Miliar

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Pengembangan teknologi saluran air minum di Mulyaharja Bogor Selatan membutuhkan sekitar Rp 40 miliar dari teknologi pengolahan hingga penyaluran berupa pipa-pipa utama untuk target melayani 100 persen. Hal itu diungkapkan Direktur Utama (Dirut) Perumda Tirta Pakuan Rino Indira Gusniawan

“Dari jumlah 40 miliar tersebut kata Rino, sekitar 20-24 miliar akan digunakan untuk menurunkan faktor kehilangan air akibat kebocoran pipa-pipa saluran utama yang telah ada saat ini dan berumur puluhan tahun,” jelas Rino

Menurutnya, hal ini disebabkan karena jaringan di Kota Bogor mau produksi sebanyak apapun, suka bocor, karena pipa-pipanya sudah tua, pipa-pipanya sudah semerawut di bawah. Untuk itu, pihaknya akan merapihkan pipa-pipa tersebut, supaya kehilangan airnya turun, supaya pengalirannya 24 jam, sehingga jumlah pelanggannya naik.

“Bahwa pengembangan bisnis di wilayah tersebut sangat potensial, terlebih jika dilihat dari rencana pembangunan daerah yang akan dilakukan pemerintah Kota Bogor kedepan. Dan PDAM belum masuk di sana, belum ada pipa kita di sana, belum ada pelanggan kita di sana. Ada mata air di salah satu desa, tapi mereka hanya pakai pipa saja, belum ada PDAM-nya,” paparnya.

Rino menuturkan, Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor yang ditarget dapat melayani 100 persen masyarakat ‘kota hujan’, yang secara administratif baru mencapai 63 persen. Dan menurut perhitungan pemerintah pusat, mulai merancang rencana pengembangan bisnis penyediaan air di Mulyaharja untuk pencapaiannya.

“Sebetulnya, layanan air minum Perumda Tirta Pakuan telah mendekati 100 persen melayani masyarakat Kota Bogor, jika perhitungan satu sambungan air ke rumah atau bangunan warga 1:6 orang seperti beberapa tahun lalu. Angka 63 persen muncul dari perhitungan baru pemerintah pusat mengenai layanan air minum per sambungan 1:4 orang,” ungkapnya.

Menurut Rino, perhitungan itu didapat dari data jumlah warga Kota Bogor dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang disesuaikan oleh pemerintah pusat sehingga satu rumah dianggap satu keluarga dengan jumlah rata-rata empat orang.

“Di Kota Bogor, hasil BPS itu empat orang, padahal belum tentu satu rumah isinya empat, karena bisa saja satu rumah ada empat keluarga, dua keluarga,” tuturnya.

Rino mengakui, meskipun kebanyakan padat penduduk berada di daerah pusat kota, tetapi potensi wilayah perbatasan yang saat ini belum benar-benar ramai seperti Mulyaharja.

“Jika teknologi saluran air Perumda Tirta Pakuan sampai ke sana menyambut berbagai pembangunan, maka potensi 100 persen masyarakat terlayani secara adminitratif akan terpenuhi dengan menyebar masyarakat dari pusat kota ke wilayah,” pungkasnya. (KBL)

banner 521x10

Komentar