oleh

Peran Ulama Meredam Hoaks

Oleh: Hj. Ade Yasin, SH, MH
(Bupati Bogor 2018-2023)

Berita bohong atau hoaks dan ujaran kebencian yang marak di media sosial telah menjadi ancaman nasional. Semua pihak perlu bekerja bersama melawannya. Ini penting terutama saat memasuki tahun politik seperti Pilpres dan Pileg. Hoaks dan ujaran kebencian bisa diramu untuk merusuhkan suasana.

Apalagi media sosial seperti facebook, twitter, whatsapp, line, instagram kini sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian masyarakat. Kegiatan yang dulu bisa dilakukan tanpa melalui media sosial sekarang tidak dapat dilakukan tanpa menggunakannya. Misalnya: update status, mengunggah foto-foto sampai menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya atau berita hoaks.

Hoaks yang diartikan dengan “berita bohong” atau fitnah belakangan ini memang cukup ampuh dalam menjatuhkan reputasi dan menggiring opini masyarakat di Indonesia maupun dunia. Muncul di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden. Lalu di Mesir dengan tumbangnya presiden. Kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu sehingga menyebabkan intervensi negara-negara Dewan Kerjasama Teluk, dan disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan Presiden Al-Hadi.

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan kepada Presiden Muammar Gaddafi, lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari peristiwa itu kita mencatat dua hal. Pertama menyangkut peran media dan tokoh agama. Peran media yang tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan, dalam menyampaikan serta fabrikasi informasi.

Kedua adalah bahwa sejumlah tokoh agama telah berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut.

Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan. Juga mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi akibat dari itu?
Sejumlah pihak yang pembuat kegaduhan itu memang tidak mencapai tujuan mereka. Akan tetapi yang telah mereka rancang telah mendapatkan sebagian target yang dituju. Yaitu terjadinya kekacauan di sebuah negara dan kemudian mereka mengambil keuntungan dalam kondisi chaos tersebut.

Agar mereka bisa menempuh cara itu, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sektarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran bagi yang berbeda pilihan politik. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah, mengejek, sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang sebenarnya bisa mengembalikan situasi dan dapat mengklarifikasi fakta.

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang saleh. Menjadikan ulama semakin jauh dari sisi kebenaran di tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut dan membunuh para ulama tersebut. Naudzubillah min dzalik.

Sesungguhnya fenomena yang disebut “Arab Spring” seperti di atas, tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam. Dan ini jangan sampai terjadi di negara kita Indonesia. Beda pilihan politik dalam Pilpres dan Pileg tidak boleh menyebabkan kita tercerai-berai. Apalagi saling melukai satu sama lain. Pilpres dan Pileg hanyalah agenda lima tahunan dan bukan selamanya.

Jika sebagian tokoh, politisi dan ilmuwan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan, maka para ulama yang “mukhlishin” yang bisa meluruskan. Ini agar tidak terjadi pertikaian dan mengawal rambu-rambu kebenaran di tengah masyarakat.

Saya ingin katakan: seluruh ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini.

Dan saya yakin di Kabupaten Bogor khususnya, para ulama akan bersama-sama umaro menjaga keutuhan NKRI dalam meredam hoaks di masyarakat. Setidaknya itu tergambar saat saya menghadiri zikir dan doa untuk kemaslahatan bangsa di Hotel Seruni Cisarua, pada Jumat (01/03/2019) malam. Para ulama dan pimpinan pondok pesantren berkomitmen agar bangsa dan negara ini selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Para ulama memahami bahwa ancaman terhadap kehancuran bangsa akibat hoaks akan membuat agama yang benar ini jadi jelek dan terdistorsi. Dan ini merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam. Mereka sengaja memperalat beberapa oknum elite untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya,”.

Sungguh diamnya seorang alim ulama atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan. Dan ini merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebatilan. Seorang ulama harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat akibat hoaks yang berkonsekuensi hancurnya suatu negara. (*)

Komentar