oleh

Quo Vadis HMI : 72 Tahun HMI “Masihkah Semboyan Berteman Lebih dari Saudara Berlaku?”

Oleh : Sri Irawati Mukhtar
(Bendum Kohati Badko HMI Jabodetabeka-Banten, periode 2018-2020)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H/05 Februari 1947 M silam, sudah menginjak usia ke-72 thn. HMI sudah tidak belia lagi dalam hal usia, namun bukan berarti sudah mulai kehilangan daya. Di umur yang terbilang sangat tua ini, ada banyak hal yang harus direnungkan oleh kita sebagai kader HMI.

Apa saja yang telah kita realisasikan dan apa yang belum kita realisasikan?! Renungan itu bukan hanya sekedar renungan yang ditemani oleh secangkir kopi hitam, dan ketika pagi datang menyapa ia kembali menguap namun adanya renungan itu diharapkan kita mampu untuk kembali menyelesaikan yang sisanya.

Ada banyak persoalan yang hari ini membuat resah, dari keresahan itu membuat banyak kader memilih untuk tidak lagi berproses dan banyak generasi muda yang bahkan tidak tertarik untuk berproses di organisasi ini.

Pertanyaannya “Ada apa dengan HMI hari ini? Dimanakah independensi yang selalu dikoarkan ketika di forum-forum besarnya HMI? Dimanakah semboyan “Berteman Lebih dari Saudara” itu kini? Dimana konstitusi HMI sekarang berada? Apakah independensi tidak lagi layak untuk kader HMI hari ini? Apakah semboyan itu sudah hilang? Apakah konstitusi hanya sekedar kitab yang akan kusam dimakan usia? Masih adakah harapan para founding fathers kita yang tersisa?

Saya selaku kader HMI sangat miris melihat dinamika yang tercipta hari ini.

Semua orang meneriakkan keadilan padahal didalamnya tersembunyi akan kepentingan individu dan kelompok tertentu. Bagaimana kita mau berbicara mengenai tujuan HMI yang diterjemahkan didalam mission HMI, kalau kita tidak tuntas dengan persoalan diri sendiri.

Semua punya kepentingan, itu benar adanya. Tetapi, apakah dengan kepentingan tersebut, lantas kita rela menghabisi kawan? Apakah dengan kepentingan tersebut, kita tega mencederai konstitusi berkali-kali? Semua beralasan bahwa, ini demi kepentingan umat. Umat yang mana yang kamu bicarakan? Jangan-jangan keadilan yang kamu teriakkan adalah keadilan untuk kepentingan golonganmu saja.

Konon katanya, HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam namun lebih dari itu yaitu Harapan Masyarakat Indonesia.

Hari ini, apakah harapan itu masih ada? Saya sebagai kader HMI terkadang malu mengaku sebagai kader HMI, kenapa demikian? Itu karena saya miris melihat kita sesama kader saling menjatuhkan hanya karena persoalan kepentingan. Kepentingan yang tak berujung, kepentingan yang selalu didasari oleh nafsu.

Yang dianggap senior tidak lagi memperhatikan juniornya karena sibuk dengan kepentingan pribadinya, sedangkan sesama junior tidak ada lagi saling mendukung yang ada hanyalah pikiran-pikiran negatif yang tertanam sebab ingin dilihat orang banyak.

Yang lebih menyakitkan dari sekian banyak persoalan HMI hari ini adalah kita tidak lagi berpegang pada konstitusi kita.

Segala macam cara dihalalkan, entah dengan menjatuhkan teman ataupun mencederai konstitusi asalkan tujuan kita tercapai.

Harapan dari saya selaku kader, bahwa diusia HMI yang tak lagi muda ini, mari kita kembali kepada khittahnya HMI, mari kita menkokohkan konstitusi kembali, mari kita mendalami lagi semboyan “Berteman Lebih dari Saudara”. Kita harus membereskan persoalan yang ada, ingat bahwa ada cita-cita founding fathers kita yang harus kita wujudkan.

Saya teringat akan tulisan saya sewaktu kongres di Ambon ” Berbicara politik… Berbicara perspektif keberpihakan, setiap manusia punya hasrat keberpihakan. Tak pernah benar-benar objektif, yaitu hal yang manusiawi,” itu menurut saya.

Mendukung satu pihak tak masalah, tapi tak lantas menghabisi yang lain. “Berpolitik harusnya tetap rasional, tetap mawas sesuai kadarnya. Jangan karena bola, lantas kawan di cela. Jangan karena politik, lantas bersama kawan berpikir picik”.

Saya jadi teringat apa yang dulu disampaikan Gahara Kumala, Senior saya dicabang. Beliau menyampaikan bahwa “Politik itu sekedarnya saja, Perkawanan itu selamanya.” Saya sangat mengapresiasi apa yang disampaikan nya.

Salam hijau hitam.

Selamat menuju Milad Himpunanku.

*) Redaksi tidak bertanggung jawab, semua tulisan ini menjadi tanggungjawab penulis

Komentar