oleh

Ribuan Masyarakat Padati Kebangsaan HUT RI Ke-72 Di Bundaran Kawasan Tugu Muda Semarang

-Daerah-130 Dilihat

InilahOnline.com (Semarang-Jateng) – Ribuan masyarakat antusias mengikuti kegiatan Tausyiah Kebangsaan dalam rangka peringatan HUT RI ke 72, yang diselenggarakan di bundaran Kawasan Tugu Muda Semarang.

Kawasan itu ditutup sementara karena sedang diselenggarakan Tausiyah Kebangsaan. Acara yang dihadiri Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, Pangdam IV/Diponegoro Tatang Sulaiman, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono berkumpul memenuhi jalan sembari mengibarkan bendera merah putih.

Perongatan HUT RI ke-72 yang dipimpin ulama kharismatik asal Pekalongan, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam sambutannya membakar semangat para santri dan warga yang berkumpul di kawasan Tugu Muda Semarang. Gatot menjelaskan pentingnya peran ulama dalam kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia bercerita mulai dari sejarah para ulama menggerakkan santri-santrinya dalam berbagai peristiwa perjuangan bangsa. Gatot juga menekankan agar para anggota TNI tidak ‘sok-sokan’ karena TNI baru lahir setelah Indonesia merdeka.

“Jadi yang usir penjajah itu bukan TNI, tetapi para ulama dan tokoh agama berbagai agama. Sedangkan Indonesia merdeka 17 Agustus, TNI lahir 5 Oktober. Jadi TNI jangan sok-sokan,”tegas Panglima di Semarang, Senin (14/8/2017) malam.

Panglima mengaku kagum dengan para ulama karena santun dan juga berani serta mampu menggerakkan massa demi mendapatkan kemerdekaan. Bahkan ulama menberikan andil sangat banyak dalam perumusan UUD 1945 dan Pancasila.

Oleh karena itu, Gatot juga menyampaikan keheranannya terhadap fenomena orang yang mengaku ulama namun ingin mengganti Pancasila yang sudah diperjuangkan para ulama terdahulu, bahkan dengan bahasa kasar.

”Jadi alangkah anehnya jika tiba-tiba muncul ulama dengan pakaian ulama yang bahasanya ingin merubah Pancasila. Aneh. Saya katakan pasti itu bukan ulama Indonesia, ulama luar yang dibayar untuk merusak Indonesia, atau orang Indonesia yang pura-pura ulama, membohongi rakyat, dibayar untuk merusak rakyat,”tegas Gatot.

Panglima menegaskan, agar jangan mau terpecah belah dengan provokasi dan menjaga apa yang sudah diperjuangkan oleh para ulama terdahulu.

“Dunia mengakui ibadah ramadan teraman di dunia ada di Indonesia. Tapi ada yang tidak senang, maka berusaha memecah belah, memasukkan aliran-aliran lain. Jangan terporvokasi,”pungkas Gatot.

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Tatang Sulaiman mengatakan, dalam tausiah ini dihadiri kurang lebih puluhan ribu umat Islam dari berbagai daerah di Jawa Tengah.Namun untuk mendukung logistik bagi para peserta Bekangdam IV/Diponegoro mengerahkan para koki andalannya untuk menyiapkan hidangan istimewa.

”Panitia menghidangkan 2.500 nampan berisi nasi kebuli. Setiap nampan disuguhkan untuk dinikmari oleh 5 orang peserta pengajian. Saking istimewanya Hj Syarifah Salma Binti Hasyim Bin Yahya (isteri Habib Lutfi) ikut turun tangan untuk menyiapkan nasi kebuli,”katanya.(Suparman)

banner 521x10

Komentar