oleh

Siapa Calon Terkuat Kapolri Pengganti Idham Azis ?

INILAHONLINE.COM, JAKARTA

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) jenderal Pol Idham Azis akan mengakhiri jabatannya pada Januari 2021 mendatang. Bursa calon kapolri mulai hangat diperbincangkan mengenai calon kuat “Tribrata Satu” istilah untuk Kapolri. Pasalnya ada sejumlah nama jenderal mencuat menggantikan orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu, mulai dari jenderal bintang dua hingga bintang tiga.

“Orang yang dipilih menjadi Kapolri adalah orang yang dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dengan kata lain, orang tersebut bisa mengamankan kebijakan Presiden,” ujar Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komaruddin kepada media, Rabu (11/11/2020)

Menurutnya, selain orang dekat Presiden, sosok Kapolri adalah oarang yang juga “bisa diatur” oleh Jokowi. Misalnya, mengamankan orang-orang Presiden yang terkena kasus supaya jangan diusut. Di situlah nilai politisnya. “Kalau saya, melihat sederhana. Yang penting, chemistry atau kedekatan dengan Presiden. Soal mereka melobi jalur A, B, C itu namanya usaha dan itu sah-sah saja.

“Selain kedekatan, ada juga jalur lobi dan kerja-kerja profesional. Soal geng-gengan atau kelompok juga berpengaruh. Misalnya, geng angkatan, itu juga kencang,” tandasnya.

Ujang Komarudin juga mengatakan, ada tiga poin yang menurutnya jadi bahan pertimbangan.. Pertama, lobi sudah benar, kerja profesional juga benar, kemudian sama kedekatan., sehingga dari tiga poin itu, terlihatan faktor kedekatan yang paling utama. “Sebab, kalau Kapolri yang dipilih tidak membuat nyaman Presiden, buat apa?,” imbuhnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, meski pergantian Kapolri masih dua bulan, namun dari sejumlah pergerakan yang tampak, ada beberapa nama yang sudah bergerilya. Bahkan, ada yang cukup masif mengadakan berbagai kegiatan untuk menarik simpatik, Bahkan, desas-desusnya, ada di antara mereka yang sudah melobi partai politik.

“Bursa calon Kapolri juga diwarnai berbagai angkatan, mulai Akpol 1988, Akpol 1989, dan Akpol 1991, serta satu figur,” ujarnya kepada inilahonline.com, Kamis (12/11/2020)

Dikatakan Neta, tidak menutup kemungkinan mutasi besar akan terjadi di tubuh Polri menjelang pergantian Kapolri Jenderal Idham Azis. Dalam mutasi itu akan ada dua sampai tiga jenderal bintang dua yang bakal naik menjadi bintang tiga. Para perwira yang naik menjadi bintang tiga itu dipastikan akan masuk dalam bursa calon Kapolri untuk menggantikan Idham Azis.

“Dari pendataan IPW, menjelang pensiunnya Kapolri Idham Azis yang hanya menjabat 15 bulan itu akan cukup banyak perwira Polri yang bakal pensiun. Sedikitnya ada 30 jenderal yang akan pensiun menjelang suksesi Kapolri pada Januari mendatang,” jelasnya.

Lebih lanjut Neta mengungkapkan, para jenderal itu pensiun mulai dari bulan November, Desember, dan Januari 2020. Mereka yang pensiun itu terdiri dari tiga komisaris jenderal (Komjen), delapan inspektur jenderal (Irjen), dan 19 brigadir jenderal (Brigjen). Yang terbanyak adalah alumni Akpol 86 ada 15 jenderal yang pensiun, terdiri dari empat Irjen dan 11 brigjen.

“Akpol 85 ada 14 jenderal, tiga Komjen, empat Irjen, dan tujuh Brigjen. Akpol 87 satu jenderal yang pensiun dengan pangkat Brigjen. Begitu juga Akpol 88A teman satu angkatan Idham Azis hanya satu Brigjen yang pensiun, yakni Brigjen Ahmad Fachruzzaman yang pensiun 10 Januari,” jelasnya.

Adapun tiga komisaris jenderal yang akan pensiun adalah Kepala BNN Komjen Heru Winarko yang pensiun 1 Desember, Sekjen Kementerian KKP Komjen Antam Novambar, dan Sekretaris Utama Lemhanas Komjen Didid Widjarnardi. Dengan adanya tiga Komjen yang pensiun berarti akan ada tiga perwira Polri yang berpangkat Irjen akan naik menjadi Komjen. Ketiga Pati yang disebut sebut akan naik menjadi bintang tiga itu adalah Kapolda Metro Jaya Irjen Nana, Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Lutfhi, dan Kapolda Jawa Timur Irjen M Fadil.

“Selain itu, jika Polri jadi menaikkan pangkat Dankor Brimob dari bintang dua menjadi bintang tiga, peluang Dankor Brimob masuk bursa calon Kapolri pun terbuka lebar,” ucapnya.

Dengan bergesernya sejumlah jenderal bintang dua menjadi bintang tiga, kata Pane, maka bursa calon Kapolri pengganti Idham Azis akan semakin riuh. Yang pasti sebelum pensiun 30 Januari 2021, kepimpinan Kapolri Idham Azis masih akan diuji lagi dengan dua even besar, yakni pengamanan Pilkada Serentak 9 Desember dan pengamanan Natal dan Tahun Baru 2021.

“Di deretan bintang tiga muncul nama Wakapolri Komjen Pol Gatot Edy Pramono, Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo, Kabaintelkam Komjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Irwasum Polri Komjen Pol Agung Budi Maryoto, dan Kabaharkam Komjen Pol Agus Adrianto,” papar Neta Pane yang juga mantan jurnalis itu.

Menurutnya, ada juga nama Komjen Boy Rafli Amar yang saat ini menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kemudian di deretan bintang dua muncul nama Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sujana, Kakorbrimob Polri Irjen Pol Nanang Revandoko, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Lutfi, dan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Fadil Imran.

“Jabatan Kapolri memang sangat politis. Artinya, siapapun dia mempunyai peluang yang sama untuk dipilih Presiden,” pungkasnya.

Sementara itu, terkait pergantian Kapolri yang meulai diperbincangkan publik, Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengungkapkan, kriteria calon Kapolri adalah perwira Polri yang baik dan ideal untuk menduduki jabatan tertinggi di Polri. Karena pergantian Kapolri adalah hak preogratif presiden dengan persetujuan DPR, maka Presiden Jokowi lebih memahami siapa yang layak dipilih sesuai kriteria.

Terkait nama yang patut dan layak dicalonkan atau mengenai isu perpanjangan masa jabatan Kapolri yang sekarang, Ahmad Sahroni menilai, bahwa semua itu adalah hak Presiden untuk memilih Kapolri baru atau memperpanjang masa jabatan Kapolri Jenderal Pol Idham Azis.

“Yang jelas, tantangan Kapolri ke depan akan sangat berat. Selain agenda pesta demokrasi seperti Pilkada 2020, juga pandemi Covid-19 yang diprediksikan akan berlangsung selama 2-3 tahun. Dan itu belum lagi sejumlah agenda nasional dan tantangan lainnya. Jadi memang tantangan Kapolri mendatang sangat berat,” tandasnya.

Selain itu, Sahroni juga mengatakan, bahwa Komisi III DPR soal pergantian Kapolri baru bisa bersikap setelah Presiden Jokowi telah menentukan siapa nama calonnya. Selanjutnya, pihaknya dalam hal ini melakukan fit and prprr test (kepatutan dan kelayakan-red) sebagaimana mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Piya Hadi)

Komentar