INILAHONLINE.COM, BOGOR
Di tengah gunjang-ganjing hasil Pilpres 2019 yang diwarnai saling klaim dua pihak beperkara dalam proses persidangan Mahkamah Konstitusi (MK), ada penegasan bahwa Indonesia kelak akan berubah menjadi Kerajaan, tak lagi berbentuk Republik. Meski elite juga ramai membicarakan pemindahan ibukota negara dari Jakarta, ternyata disain Pusat Kerajaan itu sudah jadi di atas lahan ribuan hektare sekitar seratus meter dari permukaan laut, termasuk Istana dan tempat penyimpanan harta benda sebagai collateral warga kerajaan.

“Elite ribut bicara pemindahan ibukota, boleh-boleh saja, meski belum jelas dan pasti. Juga hasil Pilpres 2019. Siapapun yang bakal jadi presiden, silakan saja, walaupun hingga kini belum ada kepastian karena menunggu proses di MK. Tapi, catat yang pasti Indonesia akan berubah jadi Kerajaan, tidak lagi Republik. Disainnya, termasuk istana dan tempat penyimpanan harta sudah jadi, delapan lantai di atas ribuan hektare, lahannya seratus meter di atas permukaan laut,” ungkap H Purwadi, Bos Riand Catering ketika berbincang dengan crew jurnalis dari Komunikasi dan Penyiaran Islam, FAI-UIKA Bogor di Guserna Istimewa Kang Pur, Jalan Guru Muchtar 1 Cimahpar, Bogor Utara, Kota Bogor, Senin (17/6/2019).

Saat yang tepat terjadinya perubahan bentuk negara Indonesia dari Republik ke Kerajaan itu, tinggal menghitung waktu. “Bagi Allah SWT, untuk mengabulkan permohonan para auliya’, wali, dan pendiri negeri ini, amat mudah, bila sudah saatnya tinggal kun fayakun, jadi maka jadilah itu,” tandas pria kelahiran Wonogiri-Solo, 14 Juni 1965 yang sejak 2001 hijrah dari Chev ke Sufistik paska terhempas ombak Samudera Pasifik di atas lantai 16 Kapal Pesiar milik pengusaha Hong Kong itu.
Ayah dua anak yang meyakini hakikat Dewa Ruci: Ruh yang Suci, yakni dari Allah SWT ini sempat teringat kisah angin-angin Bima Suci, lantas ia menyelamatkan diri dari hempasan ombak yang menerpa bagian kepalanya ke lubang angin-angin di kapal pesiar yang mengangkut 1.600 penumpang tersebut. “Begitu diselamatkan Allah, saya seketika itu ingin pulang dan hijrah. Setelah sempat mengurut kaki kanan bos kapal pesiar yang terkilir sehabis golf dengan ramuan bawang putih, kencur, beras dan minyak, saya makin dekat dengan bos, dan diperkenankan pulang ke tanah air,” kisah Kang Pur yang kerap berkomunikasi dengan Bung Karno, Buya Hamka, dan Ratu Laut Selatan berusia 4.800 tahun, Nyi Roro Kidul itu. Bernama kecil Mandalika, yang dilahirkan tanpa ayah dan ibu, seperti Nabi Adam AS, ia menerima Mahkota Ratu Kidul pada usia tiga windu atau 24 tahun.

Dari perjalanan sufistik itulah, Kang Pur memperoleh banyak hikmah, termasuk mendapati sikap hidup dalam berpolitik. Ia yakin, dengan berpegang pada kebenaran, kebaikan dan kejujuran demi kemaslahatan warga dunia, akan memotivasi keyakinan sesama manusia yang tadinya redup bersemangat kembali bersamaan tampilnya khalifah Allah, termasuk kaum jurnalis yang menebar kejujuran dan keadilan.
“Jadikanlah dirimu bagian dari tinta emas, yang menebar kejujuran dan keadilan, bila ingin dikenang dan abadi menjadi terhormat. Tiap kata kita akan terus jadi perbincangan anak cucu hingga cicit, karenanya hati-hati berkata-kata. Harus amanah, shiddiq dan fathonah, sifat-sifat Rasulullah SAW,” tuturnya.
(Mochamad Ircham)
































































Komentar