oleh

Suziana Ahli Tarot The Next Generation Mama Laurent

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Belum banyak orang mengenal kartu tarot. Peramal kartu tarot bahkan diidentikkan dengan seorang dukun, ahli nujum, dan segala hal berbau mistis. Tak dapat dipungkiri, masyarakat Indonesia yang tumbuh dalam tradisi mistis begitu kental nampaknya gemar mengaitkan sesuatu dengan dunia kebatinan.

Itu sebabnya, mengapa tarot dianggap sebagai ilmu magis karena dapat membaca masa depan. Sementara, pembaca kartu tarot tak ubahnya seperti dukun angker yang lebih banyak membuat kliennya merasa khawatir ketimbang optimis menatap masa depan.

Adalah Suziana, atau biasa dipangging dengan Jeng Ana, seorang ahli tarot Kota Bogor, amat jauh dari kesan angker. Jeng Ana merupakan seorang Indigo, yang belajar kartu tarot secara autodidak berkat dari pemberian seorang kakek tua di negara Singapur saat dirinya sedang on the train.

“Belajar kartu tarot itu tidak mudah walau ada bukunya. Saya belajar kartu tarot itu autodidak berkat kemampuan saya sendiri,” kata Jeng Ana yang pernah belajar banyak dari alm Mama Laurent.

Suziana menceritakan awal mula dia belajar kartu tarot, dirinya mendapatkan kartu tarot bukan dengan cara membeli, melainkan dari pemberian seorang kakek tua yang memberikan kepadanya saat dirinya sedang on the train di negara Singapur. Kakek tua tersebut berpesan agar dipergunakan untuk membantu orang yang membutuhkan.

“Kamu bisa menggunakan kartu ini untuk membatu orang yang membutuhkan,” tutur Jeng Ana saat menirukan ucapan kakek tua tersebut.

Saat ini Jeng Ana sendiri sudah 12 tahun menggeluti kartu tarot sebagai bagian dari kehidupannya. Menurut Jeng Ana, masih banyak orang yang takut dengan ramalan tarot. Jantung mereka sudah berdegup kencang dahulu, khawatir sang pembaca tarot membacakan hal-hal buruk yang akan terjadi dalam hidupnya.

Padahal menurut Jeng Ana, peramal yang benar itu peramal yang menyelesaikan masalah klien, bukan menambah masalah dan membuat orang semakin khawatir. “Kalau Mas ke peramal tapi peramal itu bikin galau, nah itu bukan peramal kalau menurut saya. Peramal itu untuk menyelesaikan masalah,” ucap Jeng Ana yang kini memegang 10 klien dari artis hingga pejabat.

Jika kliennya bermasalah, Jeng Ana akan memberikan solusi. Sebagai peramal, dirinya tidak akan mengatakan kejadian buruk, seperti “Oh kamu nanti bakal kecelakaan, dan lain-lain”, ujarnya.

Namun, Jeng Ana menegaskan, cara baik untuk meramal adalah, saat klien memiliki masalah, seorang peramal harus mencarikan solusinya. “Bukan bikin orang itu tambah galau. Pulang dari sini tambah galau bukannya menyelesaikan masalahnya.” pungkasnya.

Untuk yang berminat berkonsultasi dengan Jeng Ana, bisa menghubungi di 0856-9447-2508

(ian Lukito)

Komentar