TPST3R Panen Bawang dan Jadi Pusat Pembelajaran

Bawang merah, biasanya banyak dihasilkan dari wilayah Brebes. Namun kini dengan bantuan teknologi pertanian, bawang merah dapat dipanen di Kota Bogor. Setidaknya, itulah yang telah dibuktikan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkah Mutiara Bogor Raya (MBR).

Akhir September 2022 lalu mereka berhasil memanen bawah merah yang ditanam dengan menggunakan teknologi pertanian Smart Agriculture System bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Bank Indonesia (BI) Jawa Barat.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim yang menyaksikan panen tersebut mengatakan, atas bantuan BRIN dan BI Jabar, ada pengembangan semacam pupuk organik dari kasgot yang ternyata hasilnya bisa meningkatkan kualitas panen dari bawang merah.

Ada perbedaan dimana yang sebelumnya memakai pupuk non-organik, kemudian sekarang menggunakan pupuk hasil penelitian BRIN dan  hasilnya luar biasa berbeda. “Mudah – mudahan dapat lebih meningkatkan produktivitas hasil panennya,”ungkapnya.

Wakil Walikota Bogor, Didie A Rachim ikut memanen tanaman bawang merah yang oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkah Mutiara Bogor Raya (MBR).

Lebih lanjut Dedie mengatakan, masyarakat sekitar tidak perlu lagi membeli bawang ke tempat lain. Bawang yang dihasilkan di KWT Berkah MBR ini selain memiliki kualitas yang baik dan organik, juga memiliki harga yang bisa ditekan lebih murah. Sehingga tingkat inflasi di Kota Bogor juga bisa semakin menurun.

“Nah, harusnya ini bisa direplikasi di KWT yang lain. Produksi bawang merah, putih, cabai itu diperlukan. Tiga komoditas pertanian ini menjadi pemicu inflasi selain BBM,”imbuh Wakil Walikota Bogor tersebut.

Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Ahmad Fathoni mengatakan, pihaknya sudah melakukan sinergi dengan KWT Berkah MBR untuk mengimplementasikan apa yang sudah dihasilkan di dunia riset dan teknologi.

“Yang kita kenalkan saat ini adalah tekonologi mikroba pembenah tanah dan juga pupuk organik hayati. Untuk aplikasi ke bawang merah, ada pengurangan pupuk yang selama ini digunakan petani disubtitusi oleh teknologi kami,” jelasnya.

Masih kata Fathoni, bahw inovasi teknologi ini menjadi prototype dan role model yang nantinya bisa diaplikasikan lebih luas lagi di Kota Bogor. Tak hanya dengan KWT Berkah MBR, BRIN juga bisa berkolaborasi dengan stakeholder lainnya untuk mengembangkan inovasi teknologinya.

“Kami ingin teknologi kami betul-betul bisa dirasakan masyarakat. Ada impact lewat tagline nasional kita yakni kedaulatan pangan dan energi. Sehingga teknologi bisa tepat guna,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua KWT Berkah MBR, Karsiati mengungkapkan, berawal dari sinergitas KWT dengan BRIN dan BI Jabar ini, diharapkan ada solusi bagi penanaman bawang merah secara hidroponik untuk mendapatkan hasil panen yang optimal. “Selain itu, kami juga berharap akan ada riset lainnya untuk perkembangan KWT Berkah MBR ke depan,” ujar Karsiati.

Menurut Ketua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reuse, Reduce dan Recicle (TPST3R) MBR, Bandung Sahari menjelaskan,  KWT Berkah MBR adalah komunitas yang menjadi bagian dari TPST3R MBR, Katulampa Bogor. Saat ini lembaganya tidak hanya sebatas  mengelola sampah, melainkan juga mengembangkan pertanian perkotaan.

“Kami memanfaatkan lahan terlantar untuk bersama-sama warga di perumahan MBR mengelola sampah dari 3 RW secara terpadu,” imbuhnya.

Selain itu, Bandung Sahari  juga mengatakan, keterpaduan itu yang membuat tempat ini multi fungsi. Selain mengolah sampah, juga ada kegiatan menanam sayur termasuk bawang merah, memproduksi pupuk organik, mengembangkan magot sampai beternak lele dan burung puyuh.

Tetapi setelah lebih dari 10 tahun beroperasi, TPST3R MBR juga telah berfungsi sebagai sebuah learning center. “Alhamdulillah, kami telah memperoleh banyak kepercayaan dari tamu berbagai kalangan untuk mempelajari berbagai hal disini,” bebernya

Lebih jauh Bandung mengatakan, mulai dari lembaga-lembaga pemerintah, para pelajar, mahasiswa sampai komunitas- komunitas sejenis. Mereka tidak hanya tamu dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, seperti Australia dan Korea Selatan.  “Baru-baru ini kami juga menerima kunjungan belajar mahasiswa dari Natinal University of Singapore,” ungkapnya.

Mereka yang datang dalam dua gelombang antara lain mempelajari manajemen urban farming. Terakhir juga datang rombongan mahasiswa dari Malaysia. Sedangkan dari dalam negeri, selain IPB, juga ITB dan UI serta UIN Jakarta. Sebagian dari mereka juga melakukan penelitian-penelitian.

Menurut Bandung, pencapaian kinerja TPST3R MBR hingga sejauh ini tak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Bogor. Namun yang tak kalah penting adalah adanya semangat kebersamaan, kerjasama dan kekompakan diantara sesama warga perumahan MBR. Inilah keunikan yang dimiliki TPST3R MBR, bagaimana kebersamaan antar warga bisa terkelola dengan baik.

“Semoga kami bisa mempertahankan keguyuban ini, untuk bisa menghasilkan banyak kemanfaatan bagi kami sendiri maupun warga Kota Bogor lainnya,” pungkas Bandung. (Advertorial)

banner 521x10

Komentar