oleh

Tren Kasus Covid-19 di Kota Bogor Mulai Menurun, Inilah Data dan Faktanya

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor kembali menggelar rapat evaluasi penanganan Covid-19 di Posko Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor, Senin (9/3/2021) lalu. Berbagai data disampaikan para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga Direktur BUMD.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota bogor, Sri Nowo Retno melaporkan data perkembangan kasus Covid-19 di Kota Bogor pada pekan pertama bulan Maret 2021. Dilihat trennya dalam dua pekan terakhir, terlihat adanya penurunan kasus.

“Kasus aktif sudah menurun dan saat ini ada di 10,4 persen, angka kesembuhan 87,9 persen, angka kematian menurun 1,6 persen jauh dibawah angka nasional yang berada di angka 2,7 persen,” katanya.

“Untuk positivity rate masih di atas 10,8 persen, Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit cenderung mulai menurun. Bahkan di hari kemarin sebesar 39,38 persen. Dari 846 tempat tidur yang terisi hanya 339 tempat tidur. Pada Januari nakes yang terkonfirmasi tinggi sekali yakni 21 orang dan Februari turun jadi 10 orang. Total kasus 12.616 orang, ” kata Kadinkes.

Untuk ICU juga kata Retno mengalami penurunan menjadi 50 persen yakni dari 50 hanya 25 yang terisi. Sementara di Rumah Sakit Lapangan hanya 29,7 persen yakni dari 64 tempat tidur hanya 19 yang terisi.

Untuk pusat isolasi, sesuai kesepakatan dengan BPKP pekan depan sudah mulai dialihkan ke Pusdiklat BPKP di Ciawi dengan fasilitas 128 tempat tidur.

Terkait perkembangan klaster ada penurunan, total dalam sepekan kemarin ada penambahan 122 orang dari yang terpapar 323 orang. Jika dibandingkan dengan pekan lalu, ada penurunan klaster keluarga.

“Berdasarkan grafik, tren Kota Bogor menurun. Yang menarik adalah tenaga kesehatan yang terkonfirmasi pada minggu pertama Maret 2021, nol (0) kasus,” kata Retno.

Terkait perkembangan vaksinasi untuk tahap kedua bagi pelayanan publik dan lanjut usia (lansia) dalam sepekan sudah mencapai 10 ribu orang yang sudah di vaksin. Ada dua titik yakni Puri Begawan dan ICC Botani dengan masing-masing kapasitas sebanyak 1.700 orang per hari.

Pendataan terus dilakukan Dinkes dan datanya terus bergerak. Hingga saat ini sudah ada 109.000 lebih orang yang terdata sebagai sasaran dan sudah dikategorikan.

Dalam arahan Menkes pada 3 Maret 2021, agar lansia diprioritaskan. Senin (8/3) kemarin, Kota Bogor telah menerima vaksin sebanyak 5.550 vial. Rencananya kata Kadinkes, sebagian akan dialokasikan bagi para lansia, saat ini yang sudah terdaftar sebanyak 61.178 orang.

“Nanti para lansia yang berada di zona-zona tinggi akan kami prioritaskan. Selain berbasis faskes, puskesmas dan rumah sakit, kami juga akan melakukan vaksinasi massal untuk percepatan pelaksanaan vaksinasi,” kata Retno menutup paparan.

Selanjutnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Eko Prabowo menjelaskan mengenai kondisi lalu lintas. Dalam kondisi normal, berdasarkan data pada 2 Januari 2021, total kendaraan yang masuk dan keluar Kota Bogor sebanyak 110.989 kendaraan.

Namun ketika diterapkan kebijakan Ganjil Genap pada 6 Februari 2021 total kendaraan yang masuk dan keluar Kota Bogor sebanyak 89.054 kendaraan.

“Saat relaksasi ada peningkatan kepadatan yang luar biasa. Tapi selama penerapan kebijakan Ganjil Genap mobilitas masyarakat dapat ditekan sehingga pergerakannya relatif lebih rendah, baik didalam maupun diluar Kota Bogor,” kata Danjen sapaan akrabnya.

Berdasarkan data sumber dari dua tol, pada 6 Maret 2021 jumlah kendaraan yang masuk ke Kota Bogor sebanyak 108.000 kendaraan, sedangkan pada 7 Maret sebanyak 109.767 kendaraan. Jika dibandingkan pekan lalu, kurang lebih hanya 98.600 lebih kendaraan.

“Berdasarkan data yang kita olah dengan data sebelumnya, perbandingan antara kondisi normal dengan penerapan Ganjil Genap, kita bisa menekan pergerakan kendaraan kurang lebih 46 persen. Ganjil Genap sangat efektif dan mudah-mudahan menimbulkan kesadaran masyarakat,” katanya.

Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya, Muzakkir menjelaskan kondisi pasar berdasarkan data yang lama saat Ganjil Genap kondisi pasar terbilang drop atau turun. Pasar kering 40-50 persen dan pasar basah 20 – 30 persen. Sedangkan saat mulai relaksasi penurunan pada pasar kering 20-30 persen dan pasar basah 10-15 persen.

“Tanpa Ganjil Genap, kondisi pasar normal kembali, antusias pedagang meminta tidak ada lagi Ganjil Genap untuk mendongkrak ekonomi mereka karena kondisi pasar, khususnya pasar kering masa panennya ada di akhir pekan. Berdasarkan data yang ada 40 – 50 persen atau mungkin lebih pembeli di pasar Kota Bogor berasal dari luar Kota Bogor,” kata Muzakkir.

Untuk sektor perdagangan, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Bogor, Ganjar Gunawan menyampaikan, berdasarkan mapping saat tidak dilakukan penerapan Ganjil Genap ada anomali atau fenomena menarik terkait traffic customer, dari 26 titik ada 6 titik yang mengalami kenaikan kunjungan ke ritel atau toko swalayan, sisanya menurun.

Total pengunjung ke pusat perbelanjaan, pada pekan ke-4 Februari 2021 ketika diterapkan Ganjil Genap tepatnya 27-28 Februari 2021, berdasarkan sampling m total pengunjung kurang lebih sebanyak 140.259 pengunjung. Namun ketika tidak diberlakukan jumlah pengunjung pada pekan pertama Maret hanya 129.384 pengunjung. Artinya turun sekitar 10 ribu lebih pengunjung atau sekitar 7 sampai 8 persen.

Terkait penjualan BBM di 10 SPBU secara random, berdasarkan koordinasi dengan Hiswana Migas, untuk konsumsi BBM rata-rata mengalami penurunan, mengingat mobilitas warga dan kendaraan menurun, rata-rata penurunan juga terjadi di beberapa restoran dan hotel.

“Kesimpulan kami, traffic customer tidak semata-mata akibat dampak Ganjil Genap tetapi juga dipengaruhi gajian karyawan. Untuk swasta rata-rata gajian di akhir bulan, sekitar 25-28 setiap bulan untuk memenuhi belanja bulanan. Dari ritel tidak terlalu mempermasalahkan Ganjil Genap karena yang pertama ritel memiliki semacam prime time pengunjung, kedua tergantung sistem gajian bulanan. Berbeda dengan rumah makan, cafe dan resto yang tidak menginginkan penerapan Ganjil Genap,” papar Ganjar.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Atep Budiman menerangkan okupansi hotel, objek wisata dan omzet. Berdasarkan perbandingan data, di awal ada penurunan seiring tren dari tahun ke tahun di awal tahun yang memang rendah.

Namun kata dia, ada peningkatan di saat kebijakan Ganjil Genap di periode akhir bulan Februari 2021 sebesar 54,87 persen, kemudian awal Maret sudah ada peningkatan kembali 57,08 persen.

Untuk objek wisata, di awal penerapan Ganjil Genap penurunan wisatawan ada di kisaran 30-60 persen, di akhir Februari penurunannya meningkat 20 persen sampai ke maksimal angka kisaran 80 persen. Saat relaksasi di pekan pertama angka menunjukkan adanya peningkatan sebesar 14 persen.

“Belum signifikan karena ada pemberlakuan terkait persyaratan menerapkan rapid antigen di beberapa tempat wisata di Kota Bogor,” kata Atep.

Untuk omzet resto dan cafe, awal penerapan Ganjil Genap, menurun kurang lebih 45 persen. Pada Ganjil Genap tahap berikutnya penurunannya meningkat menjadi 65 persen dan di Sabtu Minggu relaksasi ada peningkatan kembali omzet sekitar 20 persen menjadi kembali ke 40 persen.

“Secara keseluruhan untuk pariwisata dengan adanya relaksasi, ada respon dengan adanya peningkatan yang cukup signifikan di hotel, tempat makan, resto dan tempat wisata,” ujar Atep.(Periksa Ginting)

Komentar