oleh

Wartawan Berstatus ODP Dilarang Melakukan Tugas Liputan

INILAHONLINE.COM, JAKARTA

Setiap wartawan (jurnalis) yang akan meliput wabah Covid-19 harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai Corona Virus Disease (Covid-19). Pasalnya, profesi wartawan adalah rentan terjangkit virus Corona. Demikian dikatakan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Atal Sembiring Depari, Selasa (7/4/2020)

“Bagi wartawan yang sedang dalam status diduga atau orang dalam pengawasan penyakit Covid-19 dilarang melakukan liputan, ujar Atal Depari dalam Panduan Peliputan Wabah Covid-19 yang dikeluarkan PWI Pusat, pada tanggal 7 April 2020, di Jakarta.

Menurutnya, setelah melihat perkembangan di lapangan dan terutama setelah pemerintah mengeluarkan ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), baik untuk perlindungan terhadap wartawan maupun keselamatan publik, pengurus PWI merasa perlu mengeluarkan Panduan Peliputan Wabah Covid -19.

“Panduan ini dibuat khusus untuk para wartawan, sehingga ruang lingkupnya pun lebih ditujukan kepada kepentingan wartawan. Selain itu, tambah Atal, panduan ini dibuat dengan struktur dan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami oleh para wartawan,” terang Atal.

Lebih lanjut Ketum PWI menjelaskan, bahwa dalam paduan yang terdiri dari 12 point itu, antara lain diatur, wartawan tidak datang meliput langsung kasus Covid-19 ke rumah sakit, kecuali ada kepentingan publik yang luar biasa besarnya. Selain itu wartawan tidak boleh masuk ke kamar jenazah yang menjadi tempat korban penyakit Covid-19.

“Dalam kasus yang sangat mendesak dan memiliki kandungan kepentingan publik yang besar, wartawan minimal berada 10 meter dari area kamar jenazah pasien yang positif terjangkit Covid-19,” tandasnya.

Untuk menghindari penyebaran Covid-19, Atal meminta kepada para wartawan untuk tetap mengikuti ketentuan-ketentuan dan pedoman mengenai protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah yakni social distancing dan physical distancing , yakni selalu tetap menjaga jarak dan wajib menggunakan masker, selalu mencuci tangan dengan sabun dan sebagainya.

“Panduan dari PWI Pusat ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak merebaknya wabah Covid-19, tetapi untuk menampung berbagai persoalan muktahir yang munculnya dalam peliputan di lapangan, sengaja panduan ini baru disyahkan hari ini dan diberlakukan mulai Rabu, 8 April 2020,” imbuh Atal S Depari.

Hal senada juga dikatakan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun, bahwa wartawan dalam bertugas liputan terkait Covid-19 pertama-tama adalah memprioritaskan keselamatan diri, karena sifat penularannya yang cepat dan tidak terdeteksi cara menularnya.

“Kami sebelumnya juga telah menghimbau kepada pimpinan perusahaan media, diminta untuk mengingatkan wartawannya yang bertugas dilapangan,” katanya kepada inilahonline.com, Minggu (21/3/2020).

Menurut Hendri, terkait dengan kasus Walikota Bogor, para wartawan agar ikuti protokol yang ada, untuk sementara mengkarantina diri dan agar perusahaan pers memberi waktu bagi para wartawan untuk memulihkan kondisi kesehatannya,

“Saat ini tidak perlu mencari kesalahan, karena semua sudah terjadi, yang penting mencari solusi. Peristiwa ini sekaligus menjadi pelajaran agar tidak terjadi lagi dan wartawan terus jaga diri,” tandas mantan Sekjen PWI Pusat tersebut.

Sementara itu, Ketua Tim Perumusan Panduan Peliputan Wabah Covid-19, Wina Armada Sukardi menerangkan, panduan ini telah mengadopsi juga perkembangan teknologi. Misalnya postingan dari pasien Covid-19 di media sosial boleh dikutip wartawan sepanjang sudah terverifikasi keakuratannya.

“Juga tidak mengandung unsur kengerian, fitnah, dan harus menyebut sumber yang jelas,” tegas Wina.

Selanjutnya Wina mengatakan, pemakain drone tidak boleh mengganggu ketenangan pasien dan dokter yang menangani kasus Covid-19. “Untuk ketinggian tertentu harus mendapat izin dari otoritas di bidang ini,” terangnya.

(Piya Hadi)

Komentar