oleh

Antrean Penonton Film Anak Negeri Mengular

INILAHONLINE.COM, SEMARANG – Tiga teater di Bioskop E Plaza langsung penuh pada Rabu (9/5/2018) pagi. Hampir 400 penonton memadati bioskop di seputar Simpanglima Semarang itu untuk menyaksikan launching Film Anak Negeri.

Film yang mengangkat kisah masa kecil hingga remaja Ganjar Pranowo itu memang banyak ditunggu masyarakat. Semarang mendapat kehormatan menjadi lokasi penayangan perdana film berdurasi satu jam sepuluh menit itu.

Meski film baru dimukai pukul 10.30,namun penonton sudah antre tiket sejak pukul 09.00. Antrean mengular dari loket hingga pintu keluar bioskop.

Agus Salim, warga Demak, salah satunya. Ia mengaku ingin menonton setelah melihat trailer di facebook. “Saya nonton cuplikannya kok sepertinya bagus makanya saya datang sama teman-teman, ingin ketemu dan foto sama pak Ganjar juga,” kata pria tambun ini.

Memang selain dari Kota Semarang, penonton juga berduyun-duyun datang dari sekitar Ibu Kota Jawa Tengah. Bahkan ada yang datang dari Solo dan Banyumas.

Film yang mengambil cerita dari novel berjudul sama karya Gatotkoco Suroso itu digarap sineas muda Yogyakarta. Pemutaran film dimulai pukul 10.30 dan dihadiri langsung Ganjar Pranowo, produser Anak Negeri Andika Prabangkara, dan penulis novel Anak Negeri Gatotkoco Suroso.

Andika Prabangkara mengatakan, produksi film ini memakan waktu cukup singkat. Hanya 1,5 bulan. Awalnya, ia membuat film ini per chapter. “Total ada 10 chapter, masing-masing mengisahkan dari masa kecil pak Ganjar SD di Tawangmangu, pindah ke Kutoarjo sampai lulus kuliah di Yogya,” katanya.

Pada tiap chapter film ini berdurasi sekitar 10 menit. Film akan ditayangkan per chapter lebih dulu di media sosial Youtube. “Ya niatnya bikin semacam web series,” tukas Mirwan Arfah, Sutradara.

Namun akhirnya diputuskan akan dirilis versi full movie lebih dahulu. Sedangkan film per chapter akan diunggah di Youtube usai launching. Andika juga berniat memutar film ini ke kampong-kampung keliling Jateng.

“Kami punya pop cinema, mungkin kayak layar tancap tapi formatnya digital semua jadi kualitas gambarnya bisa maksimal,” katanya.

Andika menceritakan, niatan membuat film muncul ketika dirinya dan beberapa kawan menghadiri peluncuran buku Anak Negeri di Boyolali. Setelah membaca buku tersebut, menurutnya cerita dan pesan moralnya sangat kuat untuk menginspirasi anak bangsa.

Waktu yang singkat membuat Andika Cs bekerja nyaris tanpa istirahat. Untuk meminimalkan biaya, lokasi pengambilan gambar dipilih di Sleman. Terutama di sekitar Turi, Pakem, dan Ngaglik.
Sedangkan para pemeran utama sekitar 10 orang dan figuran sekitar 25 orang berasal dari komunitas teater Yogyakarta.

Mirwan mengakui pihaknya sedikit berkompromi dengan detil. “Beberapa detil tidak mampu kami kejar, pemeran pak Ganjar misalnya mungkin tidak mirip, kondisi rumah masa kecil, seragam dan lain-lain. Kami mengejar substansi dan konten dulu karena lagi-lagi waktunya pendek,”  ujarnya.

Andika berharap, film tersebut bisa memberikan gambaran pada masyarakat bagaimana perjuangan Ganjar sejak kecil hingga menjadi salah satu pemimpin muda potensial negeri ini.

Ganjar yang hadir bersama isteri Siti Atikoh mengaku surprise. Ia tak menyangka bakal ratusan penonton yang hadir pada nonton bareng ini. Ia berharap filmnya mampu memberi inspirasi pada generasi muda untuk tidak pernah menyerah menggapi cita-cita.

“Kisah saya mungkin tidak luar biasa, tapi ada banyak pelajaran dalam film ini yang mungkin bisa menginspirasi,” katanya. (Suparman)

Komentar