oleh

Batik Syadana Gelar Promo Beri Diskon 25 Persen

INILAHONLINE.COM, SOLO

Dampak Pandemi Covid-19, menyebabkan pelaku usaha mengalami penurunan omset, termasuk yang dialami pedagang pakaian khususnya batik di kawasan Kampung Batik Laweyan. Maka untuk mengembalikan denyut nadi perekonomian, para pedagang batik menggelar promo dengan harga terjangkau oleh masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

“Kami lagi menggelar promosi harga baju batik, baik pakaian batik untul pria maupun wanita. Promo ini kami lakukan, agar tetap masyarakat bisa membeli baju batik di tengah himpitan ekonomi akibat Corona,” kata pemilik Batik Syandana, Giyanti Kaderiyani, di Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (5/9-2020).

Menurut Ibu Antik panggilan sehari-hari Giyanti Kaderiyani, harga baju batik yang semula dijual dengan harga diskon 25 persen. Harga tersebut lebih murah, agar masyarakat tetap bisa menggunakan baju baru, meski di tengah pandemi Corona ini.

“Kami berharap, dengan menggelar promo ini mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat, sehingga terjadi perputaran ekonomi, agar perekonomian kembali normal, maka perlu terobosan untuk tetap berjalan,” ujar perempuan yang pernah kuliah di jurusan kehumasan sebuah PTS di Semarang tersebut.

Ada beberapa batik dengan motif baru serta baju batik yang sangat elegan dengan harga diskon yang lebih manarik. Pengelola usaha mulai merasakan terjadinya penurunan omzet hingga 70 persen, sejak Maret 2020. Hampir lima bulan penjualan baju batik mengalami penurunan, membuat ekonomi lesu.

“Selama lima bulan, daya beli masyarakat menurun drastis, membuat kami pemilik usaha harus putar otak agar usaha ini terus berjalan dan bertahan, dengan gencar melakukan pemasaran produknya melalui sosial media Instagram batik serta menggelar promo dan diskon harga,” katanya.

Meski pasar batik lagi lesu, namun pemilik batik Syadana terus berusaha dengan kuat untuk melakukan terobosan agar pasar kembali bergeliat, seperti sebelum adanya wabah Covid – 19 ini. “Maka adanya Covid – 19 ini, harus disikapi dengan bijaksana dengan semangat dan kerja keras,” tambahnya.

Disaat Pandemi ini, pesanan batik memang sepi, modal usaha mulai menipis. Namun kini terus melakukan upaya dengan memenuhi permintaan batik di luar daerah, seperti Yogyakarta, Semarang dan kota besar lainnya. “Yang jelas, saat ini sudah mulai bernafas kembali, meski belum pulih seperti dulu, sebelum ada Corona,” ujarnya.

Dia berharap, di tengah sepinya penjualan batik ini, Peranan pemerintah untuk memakai produk batik kembali digaungkan dan ditingkatkan, karena saat sekarang kalau diandalkan kunjungan dari luar daerah masih sangat susah.

Kekhawatiran masyarakat terhadap penyebaran Covid-19 masih tinggi, sehingga kunjungan warga ke tempat keramaian masih dibatasi, dan ini berdampak pada omset yang mengalami penurunan. Padahal kebutuhan untuk membayar tenaga kerja tetap jalan terus, karena tidak mungki menutup toko .

Sebelum Pandemi, lanjut nya, pengiriman rutin ke berbagai daerah lanjar, dan sesuai dengan permintaan pelanggannya. Sejak Pandemi hingga saat ini, pengiriman hanya berdasarkan orderan saja. “Ya, membutuhkan waktu untuk bisa kembali normal, tapi yang jelas saat ini sudah mulai ada permintaan walaupun blm spt biasa” pungkasnya. (ali subchi)

Komentar