Bicara NKRI 2030 Hancur, KH M Safrudin Asy-Syu’ubi : Jangan Cuma Sifatnya, Tapi Hakikinya !

Megapolitan2218 Dilihat

“Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jika cuma diangkat sifatnya, maka banyak orang memrediksi akan hancur. Tapi, bila diejawantahkan hakikinya, baik Pancasila, UUD 1945 maupun Bhinneka Tunggal Ika, NKRI takkan hancur sampai kapanpun, bukan hanya 2030, bahkan rakyatnya bakal mulia selamanya.”

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Saling cecar di antara elite politik jelang Pilpres 2019 dengan berempati guna memikat simpati dan hati rakyat, kini kian kencang, terutama terkait wacana nasib NKRI 2030-2045, akankah gemilang di posisi 10 atau 5 besar negara-negara di dunia, ataukah justeru hancur lebur ditelan sejarah hingga tak berbekas.

Untuk meluruskan fakta sejarah, dan langkah tuma’ninah, KH Muhammad Safrudin Asy-Syu’ubi dari Koleang, Kabupaten Bogor menyitir kembali ‘pagar kehidupan’ yang pernah dirintis oleh Presiden RI ke-2, HM Soeharto, kemudian dititipkan kepada orang kepercayaannya, Jan Supit, agar negeri ini (NKRI) tak pernah redup, meskipun diterjang badai tsunami global puluhan, bahkan ratusan tahun ke depan. Dua tokoh, Pak Harto dan Jan Supit yang telah menghadap Sang Maha Kuasa, itu sempat memberikan kuasa berupa Surat Perintah 11 Maret kepada Abah Koleang tersebut.

“Kini, saya sebagai penyelesai masalah umat mesti banyak bersabar dan ekstra hati-hati menjalankan tugas tersebut. Setidaknya, yang utama ialah perbaiki akhlak umat, jangan sampai ribut melulu. Ulama kudu atur umara, jangan sebaliknya. Lantas, ikuti saudara kita, Amerika, tapi kita harus lebih mulia, termasuk dalam ciptakan keuangan yang jadi problem umat, dengan meluluhkan Vatikan,” ungkap Ketua Umum PRI (Persatuan Rinjani Rajawali Republik Indonesia) itu ketika dikonfirmasi, Minggu (15/4/2018).

Meski baru wacana dari hasil analisis Barat, Indonesia diprediksi hancur pada 2030. Atas analisis yang belum diketahui dasar dan tolokukurnya itu sertamerta dipakai oleh elite tertentu di Tanah Air untuk mengatrol popularitasnya jelang Pilpres 2019. Belum tuntas berargumentasi, sinyalemen itupun dikomentari oleh rival politiknya. Debat kusir (kata orang Jawa: sirku sirmu dhewe-dhewe, apa mauku dan maumu masing-masing, red.) seputar nasib NKRI pun berlanjut tanpa wujud yang jelas, yang ada hanya rakyat makin bingung.

“Itu syarat utama, ulah (jangan) ribut wae,” tandas Abah, kemudian menambahkan, “Saya do’akan agar tuntas. Elite nggak usah janji-janji, apalagi qishash, bikin pembohongan publik. Rakyat butuh yang nyata, bukti riil, sesuai dengan yang hakiki dari UUD 1945, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika.”

Jika pondasi NKRI itu masih pada tahap sifat, menurut Abah, situasinya akan terus seperti saat ini, elite cuma pandai mengumbar janji, tanpa bukti, rakyat makin tertindas atas nama demokrasi, hak konstitusional warga dibeli dengan harga murah, partisipasi rakyat dalam kebijakan publik dibelenggu.

“Kapan bisa maju? Makanya, harus dihakikikan. Sekarang kan baru sifat. KUHP itu kan sifat, bisa hancur, sedangkan yang hakiki ya Bismillaahirrahmaanirrahiim. M Safrudin Imamul Haq, itu juga nggak akan hancur, sama dengan hakiki dari UUD 1945, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, tak bisa diubah. Menurut Rinjani Rajawali – Garuda Pancasila, Iqra’ Bismirabbik, dulu Djakarta, sekarang Jakarta, sebagaimana amanat Perkumpulan Ulama Al-Andulusi Wal Amrikiyya. Al-Andulusi pegang syariat Islamiyah pada Selasa, 28 Yunanir/Agustus 1930, berkumpul di Amerika Serikat,” jelasnya.

Menurut dia, Indonesia bukan Negara Islam, hanya penduduknya mayoritas Islam. “Dan, kita bersyukur adanya hukum serta dasar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sampai sekarang Indonesia jaya, Rinjani Rajawali mulia, rakyat dan NKRI aman sentosa,” tuturnya. (Mochamad Ircham)

banner 521x10

Komentar