oleh

Cucurak Awali Ausbildung di Jerman, Srikandi Purwakarta-Bogor Bertekad Ngadu Nasib di Kancah Internasional

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Niat mengubah nasib disertai perubahan perilaku, karakter, dan minda (mindset) sejak dini dilakukan oleh sejumlah Srikandi Bogor dan Purwakarta sebagai calon peserta didik Ausbildung di Jerman melalui Bogor Centre School (Borcess 2) yang bermitra dengan Bright Education-Disdik Provinsi Jawa Barat-Goethe Institut Indonesien.

Hal itu diekspresikan oleh Monica Mawarni, Cheyne Amandha Miranda, dan Ariel Putra A. Achmad lewat cucurak jelang Ramadhan 1440 Hijriah di Kemang Residence Bogor, kemarin. Selain ngeliwet bareng, mereka juga mempersiapkan diri menghadapi psikotes sebelum memasuki masa pembelajaran Bahasa Jerman di Gang Kelor, Menteng, Kota Bogor untuk meraih sertifikat A1, A2, dan B1 dari Goethe Institut di Jakarta. Program ini berlaku bagi lulusan SMK berusia 18-30 tahun.

“Kami siap berangkat ke Jerman, dengan harapan bisa mengubah nasib lewat tempaan pendidikan dan pelatihan Ausbildung. Kapan lagi, kalau bukan sekarang, resolusi kami sudah bulat beserta restu Ibu dan keluarga kami. Insya Allah di awal Ramadhan 1440 Hijriah ini, kami bisa memulai kursus Bahasa Jerman,” tegas Monica Mawarni, putri kedua pasangan Sri Yeppi-Rahmat Suwardi yang lahir di Purwakarta, 29 Oktober 2001. Tekad alumnus SMKN 2 Purwakarta yang memilih bidang Perhotelan di Ausbildung itu juga diamini oleh rekannya alumni SMK Taruna Terpadu 2 Borcess 2, Cheyne dan Ariel yang masing-masing memilih bidang Perhotelan dan Koki di Ausbildung Jerman nanti.

Tiap level kursus Bahasa Jerman itu memakan waktu sekitar 80 jam, di samping juga diajar kemandirian, disiplin, dan leadership selama masuk kawah candradimuka sebelum terbang ke Frankfurt, Jerman tahun depan.

“Ausbildung in Germany yang diadakan sejak 2017 ini tanpa deposit, karena peserta pelatihan dan magang selama tiga tahun (setara Diploma 3) itu dijamin oleh perusahaan di Jerman. Mereka tinggal mempersiapkan diri, baik etika, disiplin dan taat aturan, jangan ‘baper’. Juga hargai waktu, jangan malas, dan mandiri, jangan cengeng. Setelah lulus, ada perpanjangan, satu profesi, ada ujian teori dan praktik, berijazah internasional,” ungkap Eko dari Bright Education Bandung.

Selama tiga hari mereka magang di perusahaan dan digaji sekitar 650-900 Euro per bulan, sedangkan dua hari dalam seminggu mereka gunakan untuk kuliah dan dua hari libur bisa digunakan untuk siiru fil ardli, jalan-jalan di muka Bumi, sesuai ajaran agama.

“Dari gaji yang mereka terima, sekitar 250 Euro digunakan untuk kuliah, bayar SPP, buku-buku, asuransi kesehatan, makan-minum, dan apartemen. Mereka masih mengantongi uang saku sekitar 400 Euro sebulan, Dan tiap tahun akan meningkat,” paparnya.

Bidang kejuruan yang dibuka dalam program Ausbildung in Germany ini ada delapan, yakni Perhotelan, Restoran, Koki, Administrasi Perkantoran, Perawat, Panti Jompo, Elektro, dan Otomotif. Dari D-3 mereka dapat melanjutkan ke S-1, selain bekerja di Jerman atau sejumlah negara di Eropa.

Untuk memenuhi syarat keberangkatan ke Jerman, peserta didik dikenakan biaya sekitar Rp 25 juta (Rp 18 juta plus 400 Euro) untuk buku, kursus dan ujian Bahasa Jerman (sertifikat A1, A2, dan B1) di Bogor, workshop, mengurus kontrak kerja dengan perusahaan di Jerman, biaya penerjemahan dokumen, visa, pendampingan wawancara, tiket pesawat ke Frankfurt, dan layanan selama di Jerman.

Kepala SMK Taruna Terpadu 2 Borcess 2, Besse Warni, MM berharap, peserta didik Ausbildung in Germany benar-benar menjadi duta Bogor, sehingga kelak mampu mengubah nasib diri dan keluarganya agar mampu mewarnai sisi urban kota ini. “Orangtua harus mendukung, jangan takut Jerman aman, dan yang terpenting adalah ibu-bapak menopang kemandirian dan tekad putra-putrinya untuk menimba ilmu di kancah internasional,” tuturnya.

(Mochamad Ircham)

Komentar