Delapan Orang Meninggal Tertimbun Longsor Penambangan Pasir di Magelang

Daerah539 Dilihat

InilahOnline.com (Magelang-Jateng) – Musibah longsor kembali terjadi di lokasi penambangan galian pasir di kawasan pertambangan galian C di Desa kaliurang Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tenga pada Senin (18/12/2017) pukul 10.00 WIB.

Pada saat kejadian dalam suasana cerah dan tidak hujan, sehingga para penambang pasir dan batu bekerja menggali tebing. Tiba-tiba terjadilongsor dan langsung menimbun para para penambang yang sedang bekerja.

Tebing lereng sungai yang curam hasil erupsi Gunung Merapi ditambang untuk diambil pasir dan batu. Namun kondisi lereng hampir tegak lurus sehingga mudah longsor.

”Longsor menimbun 16 orang dimana 8 orang selamat dan 8 orang meninggal dunia. Diperkirakan masih terdapat penambang yang tertimbun longsor, tetapi belum diketahui jumlahnya, karena sejak awal tidak diketahui jumlah masyarakat yang menambang pasir dan batu saat itu,”kata Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Huas BNPB Magelang.

Dijelaskan, delapan korban ditemukan tewas dari 16 orang korban longsor di kawasan penambangan galian golongan C kawasan Gunung Merapi, tepatnya di daerah Bego Pendem aliran Sungai Bebeng, Desa Kaliurang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Delapan korban meninggal, yakni lima orang warga Dusun Kemburan, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang atas nama Ahmad Zaenudin, Iwan Dwi, Heri Setyawan, Yuni Supri, Muhammad. Kemudian tiga lainnya Suparno, Martono, Sumarno warga Dusun Dermo, Desa Bringin, Kecamatan Srumbung.

Delapan korban luka-luka yang kini dirawat di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang, yakni Herman (27), Sukaedi (35), Nur Kholik (20), Harsoyo (30), Asnawi (22) yang merupakan warga Grabag kabupaten Magelang, Samsuri (30) Royani (30) warga Srumbung, dan Suyatno (38) warga Godean, Kabupaten Sleman.

Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang, Didik Wahyu Nugroho, menuturkan korban meninggal terakhir ditemukan sekitar pukul 15.30 WIB dan pencarian korban secara resmi dihentikan pukul 17.00 WIB.

“Berdasarkan identifikasi yang dilakukan Tim Inafis Polri, korban yang meninggal sudah sesuai dengan data yang ada,” ujarnya.

Meskipun pencarian korban sudah dihentikan, ada laporan orang hilang yang diperkirakan karena kejadian tersebut, tetap akan dilakukan pencarian.

“Kalau nanti ada laporan orang hilang dalam kasus tersebut, Selasa (19/12) pagi akan dilanjutkan pencarian korban,” katanya.

Kendala yang dihadapi dalam pencarian korban, yakni material dalam jumlah besar sehingga pencarian harus dilakukan dengan menggunakan tiga alat berat dan potensi longsor susulan di tebing masih sangat tinggi.

Longsor yang terjadi berupa tebing sepanjang 30 meter dan tinggi 30 meter.

Saksi mata, sopir truk pengangkut pasir Haryono, menuturkan bahwa saat kejadian ada sembilan truk yang antre di lokasi penambangan tersebut.

Selain belasan korban yang tertimpa longsoran berupa batu dan pasir, juga ada dua truk yang terkena longsoran.

Kejadian musibah longsor ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya pernah juga terjadi beberapa kali penambang pasir tertimbun longsor di daerah Magelang. Kondisi tebing lereng yangditambang hampir tegaklurus dikawasan pertambangan galian C ini, juga membahayakan masyarakat sekiarnya.

”Dalam keadaan hampir longsor itu penambangan masih terus berlangsung, sehingga sangat membahayakan belum lagi meningkatnya curah hujan akan mudah terjadinya longsor,”paparnya.

BPBD Kabupaten Magelang bersama TNI, Polri, Basarnas, Damkar, relawan dan warga terus melakukan evakuasi korban. Alat berat dikerahkan untuk mencari korban.(Suparman)

banner 521x10

Komentar