oleh

Demokrasi Bumbung Kosong

Oleh : Jayanto Arus Adi
(Seorang Jurnalis Tinggal di Semarang)

Apa kabar dulur? Pagi ini saya pengin ngobrol tentang Demotrasi. Ya demotrasi, bukan demokrasi. Demokrasi merupakan istilah Yunani perpaduan demos dan kratos. Demos artinya rakyat, sedang kratos artinya pemerintahan. Secara harfiah kalau dimaknakan adalah pemerintahan rakyat.

Sedang demotrasi merupakan perpaduan kata demo dan trasi. Demo bisa diartikan sebagai rakyat, dan trasi adalah bumbu asal ikan dan udang yang baunya khas. Ada yang bilang baunya anyir rada rada apek. Dus demotrasi itu demo yang begituan.

Lalu apa hubungannya sama bumbung kosong? Bumbung kosong itu demo yang trasi, bukan demokrasi. Wheladalah kok bisa begitu.

Jujur saja, dahi saya mengkerut menyimak dinamika pilkada kita. Lha mbok wis, kalau sing gak ada lawan masak diadu sama bumbung kosong. Ini khan keblinger, gak masuk akal!

Bayangkan calon tunggal itu produk partai partai yang bersepakat dengan calon mereka, orangnya sama. Partai itu tangan panjang rakyat. Lha ud begitu kok masih diadakan coblosan, tobat tobat.

Logika demokrasinya nggak ktemu. Daripada harus ada coblosan diadu sama bumbung kosong, bukannya sila keempat itu musyawarah mufakat. Ya bungkus saja lak ringkes.

Makanya, ini bukan demokrasi, tapi demotrasi. KPU bisa saja merevisi PKPU yang lebih aspiratif, orisinil dan membumi. DPR jga harus peka, tanggap dengan fenomena demokrasi macam begini.

Mencermati lebih jauh demokrasi bumbung kosong itu bener bener gemblung. Analogi jotosan di ring tinju, karena gak ada yang berani lawan, sebut itu Chrisjohn atau Mike Tyson harus berhadapan sansak, ya begiti.

Blag blug weladalah, waras ora iki?? Masak to agar distempel demokrasi bertarung sama bumbung kosong. Amerika sekalipun nggak pernah main demokrasi modem begini.

Saya kemudian ikut ikutan edan membayangkan Maestro bulutangkis kita Rudy Hartono njumbal njumbul sendiri, karena tak ada lawan.

Waduuuh waduuuuh…..!!

Masak atas nama sportivitas, atas nama demokrasi, malah jadi demotrasi. Saya masih sesek dada melihat fenomena ini. Apalagi di Jateng ada enam daerah yang haris lawan bumbung kosong.

Anggep aja kalau ada partai lain yang gak setuju atau tidak mendukung bumbung kosong jadi pilihan masih rada masuk akal. Tapi kalau semua partai mendukung, seperti Kota Semarang, buat apa coblosan.

Ingat semua partai lhooo..?? Ayo kita beradu argumentasi… Jujur saya menilai demokrasi bumbung kosong itu keblinger. Saya pakai akal sehat saja. Apalagi saat pageblug seperti sekarang, mending anggarannya buat membangun, buat rakyat. [ ]

Komentar