Dinkes Kota Bogor Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Berita, Megapolitan314 Dilihat

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) pada 31 Mei 2023 dengan tema nasional, “Kita Butuh Makanan, Bukan Rokok”.

Dengan tema tersebut, Dinkes Kota Bogor menjadikan peringatan HTTS tahun ini sebagai kesempatan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang bernutrisi bergizi.
Saat ini, Indonesia memiliki prevalensi perokok pada anak dan remaja usia 10-18 tahun yang tinggi, dengan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang menunjukkan peningkatan prevalensi perokok anak usia 10–18 tahun dari 7,2% (2013) menjadi 9,1% (2018).

Berdasarkan hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, prevalensi merokok saat ini sebanyak 33,5% atau setara dengan 68,9 juta orang dewasa (>15 tahun). Sedangkan, prevalensi merokok untuk usia 13–15 tahun adalah sebanyak 18,8% pelajar menurut hasil Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2019.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Sri Nowo Retno, MARS, perilaku merokok menjadi salah satu faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular yang menyumbang angka kematian tertinggi di Indonesia. Selain itu, asap rokok mengakibatkan anak kekurangan gizi (stunting) dan meningkatkan persentase angka kematian.

“Kondisi ini mempengaruhi besarnya pembiayaan penyakit akibat rokok yang ditanggung oleh negara,” katanya.

Kadinkes mengatakan melalui RPJMN 2020-2024, Pemerintah berkomitmen mengedepankan upaya pengendalian merokok khususnya terhadap penurunan perokok pemula. Adanya target penurunan prevalensi perokok pada anak dan remaja usia 10–8 tahun dari 9,1% ke 8,7% di tahun 2024 serta amanah Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Kesehatan tahun 2023 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

“Perilaku berhenti merokok dan menolak ajakan dari industri rokok harus dijadikan sebagai komitmen kuat bersama seluruh masyarakat, yang bertujuan meningkatkan kualitas generasi muda menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya

Oleh karena itu, lanjut dia, dengan tema global ‘We Need Food, Not Tobacco’ atau tema nasional ‘Kita Butuh Makan, Bukan Rokok’ harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memprioritaskan makanan yang bergizi ketimbang rokok.

“Pemerintah menyediakan layanan konseling berhenti merokok melalui telepon tidak berbayar ‘Quitline.INA’ dan klinik berhenti merokok di setiap puskesmas. Bagi perokok pasif, pemerintah juga berupaya untuk mengimplementasikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) agar melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok,” tandasnya.

Selain itu, Sri Nowo Retno juga menjelaskan, komitmen berhenti merokok dapat meningkatkan kesehatan, menyelamatkan nyawa, melindungi lingkungan dan menghemat beban negara dari penyakit akibat rokok. Karena berdasarkan data riskesdas tahun 2018, diketahui bahwa prevalensi konsumsi tembakau nasional ≥15 tahun adalah sebesar 33,8%.

Lebih lanjut Sri Nowo menjelaskan, berdasarkan data deteksi faktor risiko masyarakat Kota Bogor tahun 2022, perilaku merokok masyarakat Kota Bogor adalah sebesar 14,73% dan perilaku merokok di kalangan PNS pemerintah Kota Bogor berdasarkan data Faktor Risiko PNS yang dilakukan melalui pamong walagri adalah sebesar 34,36%.

“Sebelumnya, Kota Bogor telah melaksanakan Survei perilaku merokok dan implementasi perda KTR pada anak sekolah di Kota Bogor, bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia sebagai salah satu upaya mencegah munculnya perokok pemula,” imbuhnya.
Hasil Survei pada 30 sekolah dengan responden dari kelas 8 dan 12 :
– 54% nya anak perempuan,
– 52% anak punya uang jajan 11 ribu – 20.000,
– Usia pertama kali merokok 12,8 tahun
– 32% Pernah merokok konvensional
– 30,8% Pernah merokok VAPE
– 21,4% Saat ini masih merokok
– 18% Saat ini masih merokok VAPE
– Sebagian besar masih melihat orang merokok di tempat umum seperti: mall, supermarket, tempat kerja, restoran, sekolah
– Sebagian besar remaja sudah sadar akan adanya kebijakan Kawasan Tanpa Rokok
– Sebagian besar menyadari bahaya rokok dan mendukung implementasi Kawasan Tanpa Rokok
– Harga rokok masih bisa dijangkau oleh para remaja ini, dan mudah untuk dibeli melalui mini market atau warung
– Sebagian besar melihat iklan/promosi rokok di tempat penjualan (warung, toko)
Selain penelitian, pemerintah kota bogor juga melakukan kajian untuk antisipasi terhadap kondisi terbaru, diantaranya :
– Terus dilkukan kajian oleh pemerintah Kota Bogor seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi, seperti munculnya penggunaan vape, rokok elektrik, shisha
– Tahun 2019: Pelibatan generasi muda dalam kegiatan kampanye kreatif Smoke Free Generation
– Tahun 2022: inovasi KTR terbaru “Smoke Free Directory” dengan melibatkan cafe, resto, coffee shop yang menerapkan KTR untuk mendukung pariwisata yang sesuai dengan Visi Kota Bogor yang ramah keluarga

Pelibatan Generasi Muda dalam upaya Pengendalian Tembakau juga dilakukan melalui gerakan pembentukan generasi muda Bebas Rokok, diantaranya :
a. Sekolah Bebas Asap Rokok
b. Pembentukan Duta KTR di sekolah-sekolah sekaligus sebagai Satgas Internal KTR di sekolah yang berperan dalam pengawasan, penerapan, dan penegakan KTR di sekolah. Duta KTR sebagai educator dan konselor yang memberikan pendampingan dan konseling berhenti Merokok bagi teman-temannya
c. Program Berhenti Merokok di sekolah
d. Pengendalian Rokok Elektrik
e. Kampanye Smoke Free Generation
f. Kampanye melalui Festival mural Bahaya Rokok
g. Deklarasi Teu Hayang Rokok oleh para generasi muda
h. HTTS 2019 : Blow Bubbles Not Smoke
i. Program Ti Rock (Tinggalkan Rokok) pada anak sekolah yang dilaksanakan di jenjang pendidikan SMP dan SMA
j. Pemeriksaan CO Analyzer, dilakukan untuk mengetahui kadar CO dan untuk membantu penilaian serta kontrol dampak akibat asap pada perokok aktif ataupun pasif
k. Kegiatan Aksi Simpatik Smoke Free Generation yaitu edukasi dan sosialisasi penerapan perda KTR yang melibatkan organisasi kepemudaan Duta Muda Sehat dan Saka Bakti Husada.
(Humas Dinkes Kota Bogor)

banner 521x10

Komentar