oleh

Dinkes Imbau Masyarakat Pahami Stunting

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bogor, dr. Rubaeah mengatakan, masih banyak masyarakat yang belum memahami istilah stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlihat pendek dari standar usianya. Stunting saat ini merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia, yang angkanya masih cukup tinggi termasuk juga di Kota Bogor.

Karena itu, pemerintah berkomitmen untuk menurunkan angka stunting melalui beberapa kebijakan kesehatan. Di Kota Bogor, antisipasi dalam menangani stunting salah satunya melalui program 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Program 1000 HPK dimulai sejak dari fase kehamilan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).

Di masa 1000 HPK adalah masa yang kritis karena masa ini, sangat menentukan bagaimana kualitas anak di masa mendatang. Jadi, jangan sampai saat ibu hamil dia kekurangan gizi yang dampaknya pada stunting. Dijelaskannya, kondisi kekurangan gizi bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahiran. Namun, stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun.

Ada beberapa kondisi yang menjadi penyebab terjadinya stunting pada balita, yaitu remaja anemia, ibu hamil tidak berkualitas (anemia), tidak memberikan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), tidak diberi ASI Ekslusif, MP-ASI (Makanan Pendamping-ASI) tidak sesuai anjuran, konsumsi makanan sehari-hari tidak bergizi seimbang, sanitasi lingkungan yang buruk, dan anak sering sakit karena penyakit infeksi.

Sedangkan kalau dari faktor keturunan (genetik) dari kedua orangtuanya itu hanya 5 persen. Namun, masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

“Faktor ketidaktahuan, pendidikan, dan masalah ekonomi bisa juga menjadi penyebab masalah gizi. Stunting itu penyakit. Tapi kebanyakan masyarakat tidak tahu. Maka dari itu kita terus melakukan sosialisasi dalam menyebarkan pencegahan stunting, menyebarluaskan informasi stunting agar stunting bisa dihindari,” ungkapnya, Jumat (23/8/2019).

Masih kata Rubaeah, oleh karena itu, pemenuhan gizi pada anak di 1000 HPK menjadi sangat penting. Sebab jika tidak dipenuhi asupan nutrisinya, maka dampaknya pada perkembangan anak akan bersifat permanen. Perubahan permanen inilah yang menimbulkan masalah jangka panjang seperti stunting.

Selain tubuh terlihat pendek, lanjutnya, stunting juga berisiko mengganggu perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak serta meningkatkan risiko anak mengalami berbagai penyakit kronis ketika dewasa seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

Stunting dapat dicegah sejak masa kehamilan dengan cara mencukupi kebutuhan zat besi, menghindari paparan asap rokok, dan rutin dalam pemeriksaan kandungan. Selain melalui program 1000 HPK, untuk mencegah dan menurunkan kejadian stunting pada balita di Kota Bogor, Dinkes Kota Bogor juga mengenalkan inovasi Taleus Bogor (Tanggap Leungitkeun Stunting) yang disosialisasikan ke posyandu-posyandu di setiap kelurahan dan kecamatan.

Jadi, anak yang lahir diikuti perkembangannya dari umur 0 bulan sampai 5 tahun melalui posyandu agar umur dan tinggi badannya bisa diketahui. Ia menyatakan, 970 posyandu di Kota Bogor memberikan data berat badan balita di seluruh Kota Bogor tiap bulannya. Namun, untuk pengukuran tinggi badan balita, Dinkes hanya melakukan satu kali dalam setahun.

Upaya-upaya tersebut dapat dijabarkan per tahapan usia. Bagaimana memberikan asupan makanan terhadap bayi terutama waktu usia 0-6 bulan. Lalu harus diberi ASI eksklusif kecuali ada indikasi penyakit yang bisa menular ke bayinya.

“Salah satu fokus pemerintah dalam pencegahan stunting bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar. Semoga program inovasi Taleus Bogor dan 1000 HPK dapat mencegah dan mengatasi stunting di Kota Bogor,” harapnya.

(ian Lukito)

Komentar