Dinkes Kota Bogor Luncurkan Aksi Geulis Untuk Eliminasi Penyakit TBC

Tak Berkategori305 Dilihat

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor luncurkan Akselerasi Gerakan Eliminasi Tuberkulosis (Aksi Geulis) di Ruang Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Kamis (7/7/2023).

“Peluncuran program Aksi Geulis ini dilakukan, karena jumlah temuan kasus Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2022 di Kota Bogor mengalami kenaikan menjadi 200 persen atau total terdapat 7.769 kasus TBC,” ujar Kepala Dinkes Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno.

Menurutnya, tidak hanya kasus TBC yang meningkat, angka TBC resisten obat juga meningkat jadi 199 persen, sehingga yang harus diwaspadai TBC pada anak meningkat 300 persen akibat tertular dari orang dewasa melalui droplet (batuk dan bersin).

“Kasus Penyakit TBC pada Anak di Kota Bogor Naik Hampir 300 Persen Dia menyebut anak-anak dengan TBC berisiko tinggi terkena stunting, begitu juga dengan anak stunting beresiko terkena TBC,” ungka Retno

Selait itu menurut Kadinkes Kota Bogor, bahwa peningkatan penularan TBC ini tidak diikuti dengan keberhasilan pengobatan, yang mana angkanya baru 70 persen, sementara target keberhasilan pengobatan TBC dan TBC resisten obat harus mencapai 90 persen.

“Presiden menargetkan eliminasi TBC di 2030. Prevalensi sekarang di 354/100 ribu penduduk di tahun 2030 diharapkan bisa turun menjadi 65/100 ribu penduduk. Artinya, perlu upaya percepatan eliminasi TBC melalui Aksi Geulis yang merupakan inovasi dari Dinkes,” jelasnya.

Retno juga menambahkan, Aksi Geulis ini merupakan bagian dari komitmen daerah menuntaskan TBC. Pihaknya sudah membuat Rencana Aksi Daerah (RAD) eliminasi TBC. Mulai dari membuat tim percepatan eliminasi TBC dan membuat aplikasi pemetaan atau sebaran penderita TBC sampai menyebar ke geospasial yang gunanya untuk melakukan pelacakan dan pemantauan.

“Dinkes Kota Bogor meluncurkan program Akselerasi Gerakan Eliminasi Tuberkulosis (Aksi Geulis) bertujuan untuk memutus penularan Tuberkulosis atau TBC,” tandasnya

Lebih lanjut Retno mengatakan, pihaknya juga melibatkan masyarakat dengan membentuk RW Siaga untuk bersama-sama bergerak menanggulangi TBC, karena prinsip penuntasan TBC atau memutus mata rantai penularan harus menemukan segera penderita, memastikan penderita berobat sampai sembuh, tidak putus obat dan menjadi TBC resisten obat.

“Kami melakukan tracing juga kontak eratnya dan bagi yang berisiko tinggi seperti balita kami berikan terapi TBC,” tuturnya,” tuturnya

Penyembuhan TBC kata Retno, bisa diobati sampai sembuh asal penderita berobat rutin, tidak putus obat minimal enam bulan. Untuk itu, butuh kepatuhan dari pasien sehingga pihaknya akan melakukan edukasi yang masif sehingga tidak terjadi resisten obat. “Gejala TBC pada orang dewasa mulai dari batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, sesak, lemah, letih, lesu,” terangnya

Untuk itu, retno mengghimbau agar warga bisa langsung memeriksa diri ke puskesmas dan akan dilakukan tes molekuler cepat yang mana dalam dua jam hasilnya sudah terlihat apakah positif atau negatif TBC dan apakah resisten obat atau tidak.

“Ketika sudah positif harus diobati sampai sembuh dengan rutin meminum obat minimal enam bulan, tidak boleh putus obat karena kalau putus obat sebelum pengobatan selesai bisa resisten (kebal) obat. Jadi dibutuhkan peran serta masyarakat untuk ikut memantau pengobatan agar tidak menularkan ke yang lain, karena satu penderita TBC bisa menularkan 10 sampai 15 orang,” pungkasnya. (Advetorial)

banner 521x10

Komentar