oleh

Dwellling Time Lebih Cepat, Ekspor Naik 7 Persen dan Biaya Logistik Menjadi Rendah

INILAHONLINE.COM, JAKARTA

Proses Dwelling Time (waktu bongkar muat-Red) di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta saat ini hanya membutuhkan waktu dua hari saja. Pasalnya, Kementerian Perhubugan (Kemenhub) dibawah komando Budi Karya Sumadi telah memberi perubahan sistim bongkar muat di pelabuhan dengan membenahi sistem logistik Indonesia, khususnya menekankan kinerja pelabuhan.

“Saya meminta otoritas pelabuhan di seluruh Indonesia memangkas waktu dwelling time dari saat ini rata-rata tiga hari menjadi hanya dua hari,” kata Menhub Budi Karya Sumadi saat meresmikan Terminal Petikemas Kalibaru I di Tanjung Priok, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Menhub mengingatkan, bahwa target dwelling time dipasang demi meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia, terutama dalam hal pelayanan di pelabuhan. Dwelling Time di Pelabuhan Utama Tanjung Priok berkisar 3,2 – 3,7 hari. Namun, angka itu masih bisa ditekan seiring dengan peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan pelabuhan.

“Di sini (Pelabuhan Tanjung Priok-Red) sudah cukup baik, tapi masih harus diperbaiki lagi sampai dengan angka dua koma (hari). Semua (pelabuhan) harus menuju ke angka ini (dua koma),” ujarnya.

Saat berkunjung ke pelabuhan pada 6 Oktober 2019 kemarin, Budi Karya Sumadi mencatat masa penimbunan peti kemas atau dwelling time di pelabuhan logistik Tanjung Priok turun menjadi rata-rata 2,4 hari.

Kemudian pada April lalu, masa dwelling time untuk barang ekspor-impor masih di atas 3 hari sehingga acap menimbulkan penumpukan.

“Penurunan angka dwelling time ini diikuti oleh peningkatan volume kapasitas bongkar-muat barang,” ujar Menhub didampingi Dirjen Perhubungan Laut Agus H Purnomo dan Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Capt. Hermanta, M. Mar.

Hingga pengujung 2019, Budi Karya menargetkan bongkar-muat kapal di seluruh terminal di Tanjung Priok akan mencapai 8 juta TEUs. Angka tersebut naik sekitar 500 ribu TEUs dari tahun lalu yang hanya 7,5 juta TEUs.

Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok Jakarta

Sementara itu, Kepala Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Kombes. Pol. Capt. Hermanta, M.Mar mengungkapkan, bahwa hingga kini terjadi peningkatan ekspor sebesar tujuh persen tahun 2019 dibandingkan tahun 2018. Karena tahun 2018 arus ekspor sebanyak 1.450.643,59 TEUs. Tahun ini hingga Agustus telah mencapai 1.546.550,84 TEUs. Sedangkan throughput petikemas pada tahun 2018, mencapai 4.238.479 TUEs. Tahun 2019 hingga Agustus tercatat 4.515.612 TEUs.

“Biaya logistik di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai data World Bank, telah mencapai 17,2 persen atau paling rendah di antara seluruh pelabuhan di Indonesia. Dengan demikian, pelabuhan ini telah memberikan kontribusi besar dalam peningkatan nilai daya saing Indonesia dibandingkan negara lain,” jelasnya.

Terkait pemangkasan waktu bongkar muat dipelabuhan yang sekarang menjadi lebih cepat membuat Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Logistik dan Supply Chain Rico Rustombi optimis. Hal itu terkait dari tahun ke tahun dalam PDB Indonesia, biaya logistik tidak berkurang dari 20 persen dan masih bertahan di sekitar angka 23 sampai dengan 24 persen.

“Jika biaya logistik itu dapat turun ke angka 20 persen atau 18 persen, maka Indonesia memiliki nilai daya saing tinggi dibandingkan negara-negara lain,” kata Rico Rustombi.

(Iwan Stone Setiawan)

Komentar