oleh

Gubernur Jabar dalam Khotbah Ied : Konsep Zakat Untuk Pemerataan dan Pemberdayaan Fakir Miskin

InilahOnline.com (Bandung) – Dalam konteks bernegara dimana telah menjadi konsensus seluruh elemen bangsa, bahwa Pancasila adalah dasar negara, maka pemahaman yang harus diperkuat oleh kita semua, bahwa Pancasila merupakan nilai-nilai luhur dan konsep kehidupan yang lahir dan bersumber dari nilai-nilai agama maupun nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Hal demikian ini diungkapkan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan saat menyampaikan khotbah Iedul Fitri 1438 H, Minggu (25/6/2017) di Lapangan Gasibu Bandung.

Lanjut Gubernur Ahmad Heryawan, “karenanya bagi seorang muslim”, Pancasila adalah sebuah “embedded System” (system yang tertanam kuat) yang pasti akan dipahami dengan baik sebagai sebuah spirit dari saling mengenal dan bekerjasama dalam keragaman yang ada.

“Muslim yang baik akan senantiasa mendorong untuk bekerjasama dalam hal-hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal-hal yang berbeda, ujar Ahmad Heryawan.

“Yang penting sesungguhnya adalah bagaimana membangun dan mengisi negeri ini dengan berbagai program dan kegiatan pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, jelas Ahmad Heryawan.

Menurut Ahmad Heryawan, hal yang sangat penting saat ini adalah pemerataan kesejahteraan. Sebab, pertumbuhan tanpa pemerataan hanya akan menimbulkan masalah sosial yang pada akhirnya dapat menurunkan tingkat kesejahteraan itu sendiri.

Faktanya, di negeri kita pemerataan masih menjadi impian yang jauh dari kenyataan. Data Gini Ratio Indonesia terakhir masih diangka 0,394 pada September 2016. Suatu angka yang menunjukkan masih cukup jauhnya mencapai pemerataan ideal, yaitu diangka 0.

Pada Januari 2017, Lembaga Keuangan Swiss, Credit Suisse menyatakan, bahwa 1 persen orang Indonesia menguasai hampir setengah kekayaan Indonesia atau tepatnya diangka 49,3 %. Tingginya kesenjangan yang ada di negeri ini menempatkan Indonesia menjadikan negara dengan ketimpangan ekonomi tertinggi keempat di dunia setelah Rusia, India dan Thailand,jelas Gubernur.

Kondisi ketimpangan tersebut, jelas memerlukan suatu instrumen pada system ekonomi di Indonesia, yaitu instrumen yang secara struktur ekonomi dapat menghadirkan distribusi yang merata bagi seluruh rakyat. Dan instrumen itu jauh hari telah diperkenalkan oleh Islam yang dikenal dengan “Zakat” dan sedekah”, ungkap Heryawan.

Lanjut Heryawan, dalam konsep zakat, distribusi pemerataan dan kekayaan telah masuk kedalam tata aturan pengelolaannya.”Subhanallah, begitu tingginya perhatian Islam terhadap pemerataan kesejahteraan ekonomi, sehingga zakat dapat ditempatkan sebagai konsep dasar utama dalam Islam, yaitu rukun Islam. Setiap orang Islam tidak dapat mengelak untuk tidak membagi kelebihan hartanya, karena zakat adalah suatu kewajiban yang sudah ditentukan Allah dan Rosulnya.

Mengapa zakat ? Sebab zakat adalah cara Allah, mekanisme Illahiyah yang mengharuskan semua pemilik harta mengeluarkan minimal 2,5 % untuk pemberdayaan kaum papa, yaitu fakir miskin supaya berdaya dan menjadi sejahtera, pungkas Heryawan.

Shalat Ied yang diikuti ribuan ummat muslim kota Bandung, diimami oleh KH.Cecep. Juga dihadiri oleh Wagub Deddy Mizwar,perwakilan Forkominda Jabar dan para pimpinan perangkat daerah Prov.Jabar. Usai shalat Ied, Gubernur dan Wagub menyelenggarakan open house di Gedung Pakuan.

Sementara itu, Ketua Baznas Provinsi, Arif Romdhoni, menyampaikan informasi seputar penerimaan zakat,infaq dan shodaqoh di Jawa Barat. Menurut Arif, total penerimaan ZIS, sebesar kurang lebih Rp 262 milyar. (Frida)

Komentar