Hujan Beberapa Hari Jalan Kaligawe Genuk Pemkot Semarang – Demak Kebanjiran, Pemkot Semarang Kerahkan Semua Pompa di Berbagai Titik untuk Atasi Genangan

INILAHONLINE.COM, SEMARANG — Hujan ekstrim yang turun beberapa hari di Jawa Tengah, khususnya di kota Semarang membuat jalan Pantura Semarang – Demak mengalami genangan air atau banjir dengan ketinggian sepinggang orang dewasa. Akibat banjir tersebut banyak mobil dan kendaraan dua yang terjebak, sehingga menimbulkan kemacetan dan antrean panjang. Dari kemacetan itu petugas polisi lalu lintas melakukan rekayasa arus lalu lintas untuk diarahkan ke jalan Wolter Monginsidi kota Semarang bagi pengendara mobil angkutan besar maupun kecil yang mau menuju ke arah barat.

Sementara dari arah barat yang mau menuju ke Demak, meski bisa dilalui tapi hanya mobil truk besar yang bisa melewatinya. Bagi kendaraan roda dua sama sekali tidak bisa melewati karena tingginya air genangan tersebut

Pemkot Semarang dalam mengatasi dan mengurangi genangan air yang tinggi tersebut melakukan optimalisasi pompa yang sudah berada dilokasi yang sudah ditentukan. Namun upaya itu belum bisa sepenuhnya mengurangi air yang sudah menggenangi rumah penduduk yang berada di Kaligawe Kecamatan Genuk, Muktiharjo serta daerah sekitarnya.

Meski begitu, hujan yang masih terus turun selama beberapa jam pada Selasa (28/10/2025) sampai Kamis (30/10/2025) telah mengakibatkan beberapa wilayah di ibu kota Provinsi Jawa Tengah tergenang air dengan ketinggian yang bervariasi.

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terus bekerja keras menangani genangan yang terjadi di beberapa wilayah di Kota Semarang. Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto mengungkapkan, jika seluruh infrastruktur penanganan banjir diaktifkan dan beroperasi optimal, termasuk dukungan darurat untuk Rumah Pompa Pasar Waru yang tengah dalam perbaikan. Ia menambahkan, meskipun Rumah Pompa Pasar Waru yang dikelola BBWS masih dalam upaya perbaikan, pihaknya segera mengambil tindakan darurat.

“Kami telah mengerahkan tiga unit pompa mobile DPU dengan kapasitas total 2×250 liter per detik (lps) untuk membantu mem-back up area Pasar Waru dan sekitarnya,” kata Suwarto.

Menurutnya, pengerahan pompa mobile ini merupakan langkah cepat Pemkot Semarang, untuk memastikan penanganan genangan tetap berjalan tanpa hambatan selama proses perbaikan pompa utama.

Selain itu, pihaknya juga melaporkan, pompa-pompa kunci di wilayah rawan genangan telah beroperasi penuh. “Pompa di Trimulyo, Genuk, terpantau aktif dan siap siaga memompa air hujan keluar dari kawasan yang rawan genangan. Demikian pula, pompa di Jalan Majapahit juga dilaporkan aktif dan beroperasi optimal untuk mengendalikan debit air di area tersebut,” jelasnya.

Terkait menanggapi laporan warga terkait pompa di Muktiharjo Kidul yang sempat mati, Suwarto memberikan penjelasan teknis. Menurutnya hal itu terpaksa dilakukan dengan pertimbangan efektivitas dan efisiensi, melihat kondisi debet air Tenggang yang tinggi.

“Info dari operator sementara dimatikan dikarenakan level air di Tenggang limpas sampai kolam retensi Tenggang, sehingga air hanya akan berputar di situ-situ saja jika dipompa. Kami harus menunggu elevasi Tenggang turun terlebih dahulu agar operasional pompa dapat maksimal,” terangnya.

Hal tersebut juga menjadi alasan pompa-pompa lainnya yang berada di Bawah Tol Kaligawe, Kaligawe Raya, Muktiharjo Lor, Kampung Semarang, Kencono Selatan Utara, dan Padi Raya untuk dimatikan sementara.

Sementara itu, PUPTD Pompa Wilayah Timur, memiliki 44 pompa dengan total kapasitas sekitar 14.196 lps, yang mencakup delapan lokasi. Per-Rabu sore, pompa yang beroperasi adalah di Kandang Kebo (Jl. Banjir Kanal) dengan 6 unit pompa Submersible. Di Pasar Waru (Jl. Sawah Besar Raya) terdapat 3 unit Mobile Pump, dengan 2 unit di antaranya beroperasi pada malam hari karena harus menutup jalan. Selanjutnya di Banjardowo (Jl. Genuksari – Karangroto) mengoperasikan 2 unit Submersible, diikuti oleh tiga lokasi di Jl. Purwosari IV: Tambakrejo 1 (2 unit Submersible), Tambakrejo 2 (1 unit Submersible), dan Tambakrejo 3 (1 unit Submersible).

Sedamgjan di Trimulyo (Jl. Trimulyo) beroperasi 4 unit Submersible, serta di Aspol (Jl. Asrama Polisi Kabluk) yang mengoperasikan 2 unit pompa Submersible dan Mobile Pump. Adapun pompa di lokasi lain seperti Manggis, Majapahit, Plamongan Hijau, dan Soekarno Hatta berstatus OFF (tidak beroperasi karena hujan telah reda) dan baru akan dioperasikan saat hujan turun.

Menyikapi kondisi cuaca ekstrem, Suwarto mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Pihaknya juga terus bersinergi dengan BBWS untuk meminimalisir dampak genangan di kota Semarang.

“Laporan menunjukkan debit Sungai Babon terpantau tinggi. Oleh karena itu, kesiapan pompa dan peran aktif warga dalam menjaga kebersihan saluran air menjadi kunci utama. Kami pastikan tim teknis di lapangan terus siaga 24 jam memantau dan mengoperasikan seluruh pompa,” pungkasnya.

Kerahkan Semua Pompa di Berbagai Titik untuk Atasi Genangan

Kendati demikian, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terus bekerja keras menangani genangan yang terjadi di beberapa wilayah di Kota Semarang.

Dia mengungkapkan, jika seluruh infrastruktur penanganan banjir diaktifkan dan beroperasi optimal, termasuk dukungan darurat untuk Rumah Pompa Pasar Waru yang tengah dalam perbaikan. Ia menambahkan, meskipun Rumah Pompa Pasar Waru yang dikelola BBWS masih dalam upaya perbaikan, pihaknya segera mengambil tindakan darurat.

“Kami telah mengerahkan tiga unit pompa mobile DPU dengan kapasitas total 2×250 liter per detik (lps) untuk membantu mem-back up area Pasar Waru dan sekitarnya,” katanya

Pengerahan pompa mobile ini merupakan langkah cepat Pemkot Semarang untuk memastikan penanganan genangan tetap berjalan tanpa hambatan selama proses perbaikan pompa utama. Soewarto juga melaporkan, pompa-pompa kunci di wilayah rawan genangan telah beroperasi penuh. “Pompa di Trimulyo, Genuk, terpantau aktif dan siap siaga memompa air hujan keluar dari kawasan yang rawan genangan. Demikian pula, pompa di Jalan Majapahit juga dilaporkan aktif dan beroperasi optimal untuk mengendalikan debit air di area tersebut,” jelasnya.

Selain itu, menanggapi laporan warga terkait pompa di Muktiharjo Kidul yang sempat mati, Suwarto memberikan penjelasan teknis. Menurutnya hal itu terpaksa dilakukan dengan pertimbangan efektivitas dan efisiensi, melihat kondisi debet air Tenggang yang tinggi.

“Info dari operator sementara dimatikan dikarenakan level air di Tenggang limpas sampai kolam retensi Tenggang, sehingga air hanya akan berputar di situ-situ saja jika dipompa. Kami harus menunggu elevasi Tenggang turun terlebih dahulu agar operasional pompa dapat maksimal,” terangnya. Hal tersebut juga menjadi alasan pompa-pompa lainnya yang berada di Bawah Tol Kaligawe, Kaligawe Raya, Muktiharjo Lor, Kampung Semarang, Kencono Selatan Utara, dan Padi Raya untuk dimatikan sementara.

UPTD Pompa Wilayah Timur, memiliki 44 pompa dengan total kapasitas sekitar 14.196 lps, yang mencakup delapan lokasi. Per-Rabu sore, pompa yang beroperasi adalah di Kandang Kebo (Jl. Banjir Kanal) dengan 6 unit pompa Submersible. Di Pasar Waru (Jl. Sawah Besar Raya) terdapat 3 unit Mobile Pump, dengan 2 unit di antaranya beroperasi pada malam hari karena harus menutup jalan. Selanjutnya di Banjardowo (Jl. Genuksari – Karangroto) mengoperasikan 2 unit Submersible, diikuti oleh tiga lokasi di Jl. Purwosari IV: Tambakrejo 1 (2 unit Submersible), Tambakrejo 2 (1 unit Submersible), dan Tambakrejo 3 (1 unit Submersible).

Selain itu, di Trimulyo (Jl. Trimulyo) beroperasi 4 unit Submersible, serta di Aspol (Jl. Asrama Polisi Kabluk) yang mengoperasikan 2 unit pompa Submersible dan Mobile Pump. Adapun pompa di lokasi lain seperti Manggis, Majapahit, Plamongan Hijau, dan Soekarno Hatta berstatus OFF (tidak beroperasi karena hujan telah reda) dan baru akan dioperasikan saat hujan turun.

Menyikapi kondisi cuaca ekstrem, Suwarto mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Pihaknya juga terus bersinergi dengan BBWS untuk meminimalisir dampak genangan di kota Semarang.

“Laporan menunjukkan debit Sungai Babon terpantau tinggi. Oleh karena itu, kesiapan pompa dan peran aktif warga dalam menjaga kebersihan saluran air menjadi kunci utama. Kami pastikan tim teknis di lapangan terus siaga 24 jam memantau dan mengoperasikan seluruh pompa,” pungkasnya.

Gubernur Ahmad Luthfi Minta Percepat Pengerukan Kolam Tetensi Terboyo

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta pemerintah pusat mempercepat pengerukan Kolam Retensi Terboyo, guna mengatasi banjir yang ada di Kota Semarang dan Kabupaten Demak dalam beberapa hari terakhir.

“Kita usulkan agar Kolam Retensi Terboyo diperlebar dan perdalam,” kata Luthfi di sela memimpin rapat koordinasi percepatan penanganan banjir Kota Semarang di kantornya pada Rabu 29 Oktober 2025.

Luthfi juga meminta, agar dilakukan normalisasi sejumlah sungai di Kota Semarang, agar mampu menampung debit air lebih banyak saat hujan dengan intensitas tinggi.

” Hanya ada sejumlah sungai yang perlu dilakukan normalisasi meliputi Sungai Babon, Sringin, dan Tenggang. Sungai-sungai tersebut di bawah naungan Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum.”

Menurut dia, genangan yang terjadi sejak 22 Oktober 2025 di kawasan Kaligawe, Genuk, dan Sayung, menjadi pengingat bahwa sistem pengendalian banjir di wilayah pantura masih perlu diperkuat.

Oleh karenanya, Luthfi menegaskan, perlu kerja sama erat antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengendalikan maupun mitigasi banjir di daerah tersebut.

Dalam kesempatan itu, Luthfi juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga kewaspadaan, mengingat potensi hujan masih memungkinkan terjadi hingga akhir tahun.

Dirjen SDA KemenPU, Dwi Purwantoro, memastikan pemerintah pusat siap menindaklanjuti usulan Gubernur Jateng. Di antaranya, usulan pompa tambahan sebanyak 5 buah dengan total kapasitas 2000 liter per detik.

“Pompa akan kita datangkan dari Jakarta, Surabaya maupun dari Solo dalam minggu ini.,” ujarnya.

Ia juga mendukung penuh langkah usulan Gubernur Jateng untuk melakukan pengerukan Kolam Retensi Terboyo dan normalisasi sungai-sungai di Semarang, guna meningkatkan kapasitas tampung air dan memperlancar aliran ke laut.

Dwi menambahkan, tim teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jateng–DIY telah berkoordinasi di lapangan untuk mengintegrasikan pekerjaan pompa, kolam retensi, dan sistem drainasenya.

“Kementerian juga akan mengupayakan penggantian pompa existing yang sudah berumur lebih dari lima tahun,” tegasnya.

Berdasarkan data BBWS Pemali Juana, total kapasitas pompa yang dikerahkan di empat titik utama penanganan banjir di Kota Semarang (Sringin, Terboyo, Tenggang, dan Pasar Waru) mencapai 30.360 liter per detik.

Sementara itu, dari BBPJN Jateng-DIY tengah membuat sodetan Sungai Sayung yang akan memiliki panjang sekitar 168 meter. Di sodetan itu akan dibangun rumah pompa menuju Kolam Retensi Terboyo dengan jumlah 2 unit pompa kapasitas masing-masing 50 liter per detik.

Untuk mendukung sistem drainase, BBPJN juga memperlebar saluran sementara (temporary channel) dari 10 meter menjadi lebih lebar, serta melakukan pembongkaran aramco di muara Sungai Babon guna memperbesar kapasitas aliran air. (Suparman)

banner 521x10

Komentar