oleh

KEJAR IBADAH BOLEH, KESEHATAN JANGAN DILUPAKAN

Kesehatan sebagai istithoah dalam beribadah haji merupakan syarat mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar, hal ini sudah ditegaskan pemerintah dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 Tentang Istithoah. Peraturan pemerintah ini menimbulkan berbagai reaksi masyarakat terutama yang memang sangat berniat melaksanakan ibadah haji. Reaksi yang paling sering adalah keberatan, karena menganggap hal ini sebagai tindakan menghalang orang beribadah. Padahal jika jamaah haji tidak sehat, maka tentu saja ibadah haji tidak bisa dilaksanakan.

Petugas kesehatan pun tidak bisa membantu, karena peran petugas adalah untuk mendampingi terjaganya kesehatan jamaah agar bisa menunaikan ibadah, tetapi jika jamaah tidak sanggup, maka petugas kesehatan hanya mampu merawat bukan menghajikan jamaah. Demikian pula rekan sesama jamaah pun tidak dapat memberikan pertolongan, ibadah di tanah suci menjadi tanggungjawab pribadi ketika dijalankan.

Banyak calon jamah haji yang tidak peduli akan kesehatannya, dengan asumsi bahwa sehat, sakit dan mati adalah kehendak Allah SWT. Bahkan pernah ada pengalaman, seorang jamaah yang tetap ngotot ingin berangkat menunaikan ibadah haji walaupun kondisinya sudah tidak memungkinkan dan sakit-sakitan. Dia memiliki keinginan untuk meninggal di Tanah Suci.

Pada saat itu peraturan Menteri kesehatan belum berlaku dan akhirnya dengan berbagai jerih upaya, Tim Kesehatan mengikhlaskan jamaah tersebut untuk beribadah, tentunya melalui pengawasan dan pendampingan yang ketat. Ternyata saat beribadah jamaah tersebut tidak meninggal juga, bertahan sampai kembali ke tanah air, dan kondisinya yang tidak stabil cukup merepotkan petugas kesehatan serta jamaah yang lain. Ada pula cerita seorang Ibu hamil yang memalsukan kehamilannya dengan meminjam urine (air seni) pembantunya, agar saat diperiksa tidak terdeteksi hamil. Setelah ketahuan Ibu tersebut mengamuk dan memohon untuk diijinkan berangkat ke tanah suci dan beribadah, tetapi petugas kesehatan tetap tegas melarang ibu tersebut.

Beragam cerita ini menunjukkan bahwa masih banyak calon jamaah haji yang mengesampingkan kesehatan, mengganggap bahwa yang utama adalah prosesi ibadahnya bukan kesahatan atau istithoahnya, padahal dengan kondisi demikian justru tidak memungkinkan beribadah haji dan malah menyusahkan orang disekitarnya. Meskipun ukuran nilai ibadah kembali pada Allah, tetapi secara kasat mata manusia bisa tahu bahwa kadar ibadah sudah berkurang dan malah menimbulkan dosa, apabila si jamaah membawa kesusahan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Beberapa kondisi yang perlu dilakukan upaya kesehatan ketat adalah bukan hanya karena jamaah mengidap penyakit menular saja, tetapi penyakit-penyakit yang tidak menular juga. Kasus-kasus hipertensi, diabetes hingga masalah kejiwaan kerap menjadi gangguan saat jamaah beribadah. Harus diwaspadai juga gangguan dimensia pada jamaah usia lanjut.

Banyak kejadian, jamaah yang tersesat atau lupa tempat, waktu dan keadaan. Sehingga untuk memaksimalkan tenaga kesehatan, perlu kembali bahwa pada dasarnya kesehatan diri sendiri adalah tanggungjawab pribadi setiap orang. Kondisi tanah suci yang sangat ekstrim juga mempengaruhi kesehatan seseorang, apalagi jika lalai menggunakan pelindung seperti topi, kacamata hitam, masker hingga alas sepatu yang tidak menimbulkan lecet.

Banyak dilaporkan kasus jamaah yang tidak menggunakan pelindung dan berada di lokasi dengan panas yang cukup tinggi, menderita “heat stroke”, yaitu stroke atau terganggunya peredaran darah ke kepala dan otak, akibat bendungan pembuluh darah karena mekanisme adaptasi dengan temperature yang cukup tinggi. Kemudian pola makan juga cukup berpengaruh, biasanya jamaah malas makan atau menunda makan, hal ini akan menyebabkan gangguan kesehatan.

Tahun 2019, Kota Bogor memberangkatkan kurang lebih 1.041 jamaah yang istithoah, dan sebagian ada yang dengan status pengawasan serta pendampingan. Untuk membatasi permasalahan yang muncul, bekal obat-obatan dan pendamping yang memahami kondisi jamaah, sudah disediakan. Pendampingan dari Tim Kesehatan juga tetap tersedia dan semakin intensif dengan pola yang komunikatif. Jamaah haji adalah lebih dari sekedar pasien, karena mereka adalah tamu Allah SWT, maka sudah menjadi kewajiban Tim kesehatan untuk memantau kondisi mereka.

Upaya yang sudah dilakukan pemerintah untuk menjaga kesehatan dan kebugaran jamaah haji adalah melakukan pembinaan yang dimulai sejak jamaah mendaftar ibadah haji, sebelum keberangkatan, di perjalanan, di asrama haji, selama di tanah suci dan setelah kembali ke tanah air.

Pembinaan ini bertujuan sebagai sarana mencapai kondisi kesehatan optimal jemaah hingga menjelang keberangkatan. Pola pelaksanaan dapat secara mandiri atau kelompok yang bersifat terus-menerus dan berkesinambungan. Jamaah akan dibimbing untuk sadar akan kesehatan, tindakan-tindakan apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan kesehatan dan sebagainya.

Pembinaan kesehatan jamaah yang dimulai dari tanah air adalah dengan tetap mempertahankan kebugaran jamaah. Kemudian saat perjalanan, terutama perjalanan yang ditempuh lewat udara dengan waktu hampir 10 jam dan kondisi berada pada posisi tertentu, yaitu duduk di pesawat udara, mengharuskan jamaah setiap beberapa menit harus berdiri dan bergerak, agar tidak sakit.

Selanjutnya ketika jamaah berada di tanah suci, komitmen untuk berhati-hati dan tetap menjaga kesehatan harus terus dijaga. Jangan biasakan minum air es Zam-zam, karena sering menyebabkan jamaah menjadi batuk-batuk. Waspadai penggunaan toilet dengan tetap memperhatikan higienitas. Terakhir ketika jamaah kembali ke tanah suci, biasanya faktor kelelahan dapat membuat jamaah sakit, sehingga pastikan segera memeriksakan kesehatan dan perbanyak istirahat.

(Advertorial)

Komentar