oleh

MENJAGA MARTABAT JURNALIS

Oleh : Herry Setiawan
Anggota KPU Kabupaten Bogor

Jurnalis berasal dari kata journal adalah orang yang bertugas mencatat kejadian sehari-hari. Sementara journal dapat dimaknai sebagai surat kabar atau media tempat menuangkan catatan kejadian harian tersebut. Awalnya aktivitas jurnalistik di Indonesia selalu bermula dari perjuangan pembelaan terhadap hak asasi manusia Indonesia di era kolonial. Mencatat kejadian sehari-hari pribumi dari sudut pandang advokasi atau pembelaan terhadap struktur penguasa kolonial dan struktur sosial adat yang dianggap membelenggu kebebasan berpikir dan bertindak.

Medan Prijaji adalah salahsatu media cetak yang dirilis dari sejumlah media cetak lainnya yang ditujukan untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan hingga mencapai tujuan menjadi manusia merdeka, simultan dengan membangun identitas sebagai bangsa Indonesia yang tak lekang oleh zaman hingga kini, serta membangun identitas sebagai suatu negara. Hingga mencapai puncaknya pada proklamasi kemerdekaan negara Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak lepas dari peranan para jurnalis di zaman itu.

Belum lama ini beredar pemberitaan tentang penyaluran bantuan bagi jurnalis di tengah pandemi Covid-19 yang berujung pada polemik antara pemkab Bogor dan kalangan jurnalis. Tulisan ini bukan untuk membahas polemik itu, namun mencoba menguatkan kembali etos jurnalistik pada nilai sejati jurnalis. Sebagai jurnalis yang sedang menjalankan cuti kedinasan jurnalistik, saya mencoba mengajak kembali para jurnalis untuk meneguhkan nilai-nilai jurnalistik di tengah situasi saat ini.

Jurnalis bagi sebagian jurnalis adalah profesi idaman, dengan kekuatannya pada karya tulis dan laporan hariannya yang dikirim ke jajaran redaksi untuk dilakukan editing serta dinilai kelayakan tulisannya bagi pembaca atau publik lalu ditayangkan dan akhirnya memberi arti tersendiri yang dirasakan publik. Kekuatan itulah yang membuat para jurnalis meyakini telah memiliki kemampuan khusus yang tidak bisa dimiliki profesi lainnya. Apalagi jika laporan tersebut mampu mengubah kebijakan pemerintah atas suatu persoalan serta turut mengungkap suatu persoalan ke ranah publik yang memang menjadi tugas profetiknya pada dimensi sosial kemasyarakatan.

Sementara bagi sebagian jurnalis lainnya, profesi ini dapat dimaknai sebagai alat menuju pemuasan atas kepentingan pribadi ataupun golongan tertentu. Khususnya dalam aktivitas ekonomi dan kemampuan selamat dari yang dapat dimaknai sebagai pertarungan mempertahankan eksistensi kehidupan (survival the fittest). Penggunaan kekuatannya sebagai pembuat laporan kejadian sehari-hari juga menuntut dirinya untuk selalu berada di tengah, di antara kebijakan dan implementasi suatu kebijakan, para jurnalis ini mampu berakrobat sedemikian rupa sehingga selamat dan menyesuaikan diri di berbagai ruang lingkup kehidupan dan perubahan tatanan sosial.

Ada juga yang menganggap profesi jurnalis sebagai ajang mobilitas sosial vertikal dalam mencapai tujuan politik tertentu hingga dapat memberi manfaat lebih luas bagi kelompoknya, baik dalam akses menuju kemakmuran serta eksistensi penting di tengah struktur sosial politik sekitarnya. Sehingga pandangan serta pemikiran mereka patut dipertimbangkan sebelum mengambil suatu kebijakan. Capaian terhadap eksistensi ini hanya akan dialami lewat tempaan berbagai tekanan, tantangan serta kemampuannya dalam bertindak tepat setelah memahami situasi yang ada secara mendalam.

Apapun pilihan pribadi para jurnalis dalam memaknai profesinya patut dimaknai sebagai ekspresi kebebasan dalam memilih dan merdeka berpendapat, meskipun dalam bingkai aturan serta etika sosial yang berkembang di zamannya. Kebebasan tidak dapat dimaknai sebagai kebablasan dalam memilih. Hukum tetap menjadi panglima dalam mengatur perikehidupan sosial termasuk dalam menjalankan profesi jurnalistik. Kode etik jurnalistik yang kemudian berubah menjadi kode etik wartawan Indonesia kini adalah code of conduct yang telah disepakati bersama dalam suatu organisasi profesi yang memayungi aktivitas jurnalistik para jurnalis. Diperkuat dengan UU Pokok Pers nomor 40 tahun 1999 yang menjadi milestone kran kebebasan pers di tanah air.

Bahkan kini, code of conduct itu makin dipertajam dengan munculnya UU Informasi Teknologi dan Elektronik sehingga setiap laporan kejadian sehari-hari yang dibuat harus memenuhi keseimbangan dan bebas dari opini serta kepentingan pribadi yang secara ringkas dilengkapi dengan konfirmasi dan afirmasi. Tak hanya itu, profesi jurnalis juga bukan pekerjaan yang bebas dari jerat hukum pidana dan perdata. Jika ada pihak yang dirugikan atas suatu pemberitaan tanpa memberikan ruang konfirmasi (pembenaran atau penegasan) serta afirmasi (penetapan yang positif atau peneguhan), bukan tidak mungkin pihak tersebut mengadukan ke Dewan Pers sebagai lembaga pengadil atas suatu berita dan jurnalis. Lantas jika terkonfirmasi ada kesalahan maka pihak tersebut melaporkannya ke polisi untuk dibuat delik aduan. Intinya jurnalis adalah profesi berbahaya, di satu kakinya sudah berdiri di atas kebenaran, satu kakinya berdiri di atas kesalahan.

Oleh karena itu, para jurnalis bagi penulis tetap harus berada di tengah dengan mengantongi secuil ideologi. Yakni ideologi dalam membela kebenaran khususnya saat menghadapi realitas yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan hakiki serta melanggar hukum. Tugas inilah yang kemudian membawa jurnalis sebagai pengemban amanah kenabian (profetik) yakni menyampaikan informasi yang benar, harus benar, bukan informasi yang salah.

Lantas apa itu penyampai informasi yang benar? Sebagai pembuat laporan kejadian sehari-hari, jurnalis dituntut membuat laporan sesuai kenyataan menggunakan panca inderanya. Membuat laporan setelah keluar dari medan perang, pasti membuat jurnalis ikut merasakan bagaimana pahitnya kehidupan perang, bau amis dan anyir yang mengelilinginya mampu menciptakan pemahaman komprehensif dari panca inderanya yang diperkuat dengan kemampuan merasa dan penghayatannya atas situasi perang lantas dituangkan dalam tulisannya.

Mengamali peran para nabi dalam menyampaikan wahyu ilahiah di tengah masyarakat jahiliah (kebodohan atau dapat juga dimaknai tidak peduli atas kebenaran), memerlukan pengorbanan. Tidak hanya harta benda namun juga bertaruh nyawa. Reputasi dan dedikasi adalah penilaian yang diberikan orang lain bukan oleh diri sendiri. Itu semua menuntut perjuangan dalam mencapai nilai kebenaran.

Apa itu kebenaran? Kebenaran menurut siapa? Siapa agen tunggal pemegang kebenaran? Pertanyaan filosofis ini terus berputar seiring ruang dan waktu menggunakan akal pikiran manusia. Moralitas agama kemudian digunakan untuk menyatakan kebenaran. Dalam Islam Allah SWT berfirman “Al Haqqu Min Rabbika Fala Takuwnanna minal mumtariyn” Kebenaran dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS . Al Baqarah: 147). Inilah landasan tugas profetik jurnalis. Tidak boleh ada keraguan dalam membuat laporan reportase.

Di sisi lain, Bill Kovach penulis buku The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (2001), menegaskan bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran. Bill Kovach menjelaskan kebenaran jurnalisme bukan pada pertanyaan filosofis berkaitan moral agama. Melainkan pada pengambilan keputusan yang baik tergantung pada orang yang memiliki fakta andal dan akurat yang dimasukkan dalam konteks yang bermakna. Kebenaran jurnalistik yang dimaksud adalah prosesd yang dimulai dengan disiplin profesional dalam mengumpulkan dan memverifikasi fakta. Kemudian para jurnalis mencoba menyampaikan penjelasan yang adil dan andal yang harus diselidiki lebih lanjut. Disiplin profesional itu diikuti dengan memuat setransparan mungkin tentang sumber dan metode pengumpulan informasi sehingga pembaca dapat membuat penilaian mereka sendiri atas informasi tersebut. Intinya kebenaran jurnalistik adalah kebenaran yang setiap hari kita dapat operasikan atau jalankan dalam konteksnya.

Oleh karena itu, penulis mengajak para jurnalis tetap senantiasa berpegang teguh pada etos jurnalis yakni perjuangan dalam menyampaikan informasi yang benar. Dengan etos ini, maka tentu para jurnalis dapat meyakini kebaikan dan keberuntungan akan datang pada waktu yang tidak diduga. Selama tugas ini dijalankan penuh kedisiplinan menegakkan informasi yang benar lalu dikonsumsi khalayak. Pada akhirnya sidang pembaca yang terhormat adalah juru adil dalam menilai laporan kejadian yang dibuat setiap hari ke meja redaksi. Sehingga efek dari suatu berita dapat dirasakan baik secara pribadi maupun kelompok tertentu dan masyarakat luas. Salam.

Komentar