oleh

Menristekdikti : Pentingnya Kolaborasi Perguruan Tinggi untuk Majukan Pendidikan Indonesia

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Nasir mengisayaratkan pentingnya sebuah kolaborasi untuk memajukan perguruan tinggi di Indonesia, mengingat selama ini belum ada perguruan tinggi di Indonesia yang melakukan kolaborasi dalam upaya peningkatan kemajuan universitasnya.

“Contohnya saja, kolaborasi di dalam negeri. Apakah Undip pernah Rektornya di luar Undip. Demikian juga UI, rektornya dari luar sudah ada belum. Nah Jadi kita mencoba untuk mendorong Universitas-universitas ini berkolaborasi juga dengan antar negara,” ujarnya selepas menghadiri acara pengukuhan tiga guru besar Universitas Diponegoro (Undip), Kamis (22/8/2019).

Pengukuhan guru besar Undip meliputi, tiga guru besar baru terdiri Prof Tarmizi Achmad, Prof Anis Chariri dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta Prof Isroli dari Fakultas Peternakan dan Pertanian.

Menurut Nasir, pihaknya saat ini masih menata ulang regulasi untuk peningkatan universitas-universitas di Indonesia ke depan. Ini semua dimaksudkan supaya perguruan tinggi mempunyai nilai unggul dan daya saing tinggi, supaya tidak ketinggalan dengan perguruan tinggi dri luar negeri.

“Regulasi mau kita perbaiki, yang diharapkan segera jalan paling lambat 2020. Namun untuk perguruan tinggi swasta (PTS) tahun ini pun bisa jalan. Di mana saat ini PTS swasta sudah menghadap saya untuk mencoba mengangkat rektor dari luar negeri,” tuturnya.

Namun demikian, Nasir mengimbau Rektor di Indonesia untuk memperlakukan mahasiswanya tanpa ada unsur diskriminasi. Termasuk perlakuan terhadap mahasiswa asal Papua.

“Mohon seluruh rektor, kalau ada mahasiswa dari Papua, Papua Barat jangan diskriminasi, untuk itu, ini saya dorong agar menjaga semuanya,” tuturnya.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan jika ditemukan ada Rektor yang melakukan diskriminasi, akan dijatuhi sanksi. Kalau ada yang menolak dan ditemukan diskriminasi, akan dipanggil Rektor tersebut.

“Sanksi pemecatan bisa saya berikan. Tergantung permasalahannya nanti akan kita lihat,” ujarnya.

Nasir menambahkan, saat ini seluruh rektor sudah sepakat menjaga NKRI dan diminta agar melupakan permasalahan yang terjadi, dalam hal ini insiden di Malang dan lainnya, agar menjadi bangsa pemaaf
Sementara itu, Rektor Undip, Yos Johan Utama mengatakan Undip terus berupaya dalam program percepatan profesor untuk meningkatkan performa Undip, sebagai universitas berkelas dunia (world class university) dengan target 170 guru besar.

“Dengan demikian, kita terus mencoba mendorong dengan menyekolahkan Dosen yang bergelar Doktor ini. Alhamdulillah dengan seperti ini mampu menggenjot jumlah guru besar di jajaran Undip,” tuturnya.

(Suparman)

Komentar