oleh

MUI dan Ormas Jateng Tolak Masjid Dijadikan Ajang Kampanye Pemilu

INILAHONLINE.COM, SEMARANG – Majlis Ulama Indonesia dan Organisasi Kemasyarakatan Islam (MUI & Ormas Islam) se-Jawa Tengah, menolak penggunaan masjid dan musholla sebagai ajang kegiatan politik praktis, termasuk rangkaian kegiatan Pemilu serentak untuk memilih Presiden, anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD-RI.

Penolakan itu dituangkan dalam pernyataan bersama yang ditandatangani Ketua MUI Kabupaten Pati, KH Abdul Mujib Sholeh (mewakili MUI kabupaten/kota se-Jateng), H Muhammad Mahsun (PWNU Jateng), KH Musman Thalib (PW Muhammadiyah Jateng), H Achmad (Dewan Masjid Indonesia Jateng), Singgih TS (LDII Jateng), Iskandar Chang I Pol ( PITI Jateng) dan KH Achmad Darodjo ( MUI Jateng).

Ketua umum MUI Jateng, KH Dr Ahmad Darodji, M.Si mengatakan para pimpinan MUI dan Ornas Islam Jateng juga menolak politik transaksional atau money politic, kampanye hitam (black compoign), penyebarluasan berita bohng (hoax) dan pembunuhan karakter (characyer assassination).

”Terkait dengan pemilu serentak tahun depan, kami mendorong kepada umat Islam agar dalam menggunakan hak-haknya dalam pemilu serentak tahun depan, menerapkan nilai-nilai kesantuanan dalam mengekspresikan hak politik dan demokrasinya,”ujar kyai Darodjo di penghujung acara konsolidasi Majlis Ulama Indonesia (MUI) berdsama Ormas Islam yang berlangsung di hall Rama Shinta Hotel Patra Semarang, Selasa (14/8).

Menurutnya, umat Islam diharapkan berpartisipasi aktif dalam pesta demokrasi agar pemilu serentak tahun depan berjalan sukses, karena pemilu merupakan sebuah ikhtiyar untuk memperperbaiki kondisi bangsa agar masyarakatnya dapat lebih makmur, adil dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

”Umat Islam jangan sampai tidak menggunakan haknya alias golput, baik dalam memilih presiden maupun anggota parlemen di tingkat pusat maupun daerah sesuai dengan pilihan nuraninya. Penggunaan hak politik dalam pemilu sebagai manifesatsi umat islam dalam turut serta membangun Indonesia,”paparnya.

Dia menambahkan, dalam implementasi penggunaan hak-hak politik tentu akan memunculkan berbagai perbedaan pilihan, kondisi ini merupakan sebuah keniscayaan dalam berdemokrasi, umat islam harus mampu dan bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan ini sebagai sebuah konsekuensi berlangsungnya kontestasi.

”Dalam kontestasi tentu ada yang menang dan ada yang kalah, sebelumnya pasti terlibat dalam kompetisi untuk meraih kemenangan. Berbagai cara pasti akan ditempuh agar bisa meraih kemenangan dalam berdemokrasi,”katanya.

Namun demikian, lanjutnya, yang harus diingatkan kepada semua pihak jangan sampai melakukan memobilisasi dan eksploitasi ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits dalam upaya untuk meraih dukungan rakyat.

”Perang ayat dan hadits dalam kontestasi pemilu sangat tidak memnguntungkan umat Islam itu sendiri, karena akan memunculkan potensi perpecahan,”ujarnya.(Suparman)

Komentar