oleh

PEMBELAJARAN JARAK JAUH TIDAK SEMUDAH MEMBALIK TELAPAK TANGAN

Oleh : Dra. Neneng Tuti Yuniarti
(Guru SMAN 4 Kota Bogor)

Sejak COVID-19 menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia, pemerintah bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui internet. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko penyebaran virus Corona, terutama pada anak-anak. Kegiatan PJJ sudah diberlakukan sejak bulan April 2020 sampai saat ini.

Pembelajaran Jarak Jauh tentunya tidak serta merta berjalan mulus. Ada banyak hambatan yang terjadi dalam pelaksanaannya. Baik guru maupun siswa harus beradaptasi dengan model belajar “darurat” seperti ini. Lantas, bagaimana situasi Pembelajaran Jarak Jauh selama ini lebih dari setahun ini.

Penulis di bawah ini akan mengupas pengalaman yang dilalui. Suka dan duka yang dialami . Putus asa karena sulit mengusai belajar berbasis on line. Maklum usia penulis menjelang pensiun sehingga penerimaan masukan ke otak tentang metode pembelajaran jarak jauh sulit dicerna dengan baik. Paling hanya ada satu dua cara dikuasai. Andai terus begitu siswa pun akan merasa bosan dan pembelajaran tidak menarik. Nilai siswa pun drastis menurun

Masa pandemi bukan hal yang mudah dilalui bagi pendidik pada umumnya apalagi jika mengalami kesulitan dalam hal IT. Tuntutan pertama guru mampu menguasai IT untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa melalui daring. Mengertikan siswa saat kita menjelaskan uraian melalui video pembelajaran dengan menayangkan PPT yang telah disiapkan terlebih dulu. Andai siswa mengerti itu yang diharapkan tetapi berbagai persoalan muncul ke permukaan, tidak punya kuota, kendala sinyal, tidak punya ponsel dan lainnya sehingga imbasnya bagi keberhasilan belajar siswa jauh dari harapan.

Ulangan pun nilai nyaris di bawah KKM. Mau disalahkan siapa? Guru ? Siswa? Orang tua. Semua yang disalahkan adalah keadaan. Andai semua berpikiran begitu kapan kita maju dan siswa tidak terbengkalai. Kita harus bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik tidak terus berlarut-larut dalam diam menerima tanpa ada usaha. Memang belajar IT dalam usia kepala 5 menjelang kepala 6 tidak mudah. Cling! Butuh usaha dan kerja keras menekuni hingga akhirnya mempunyai bekal untuk menjadi guru sistem belajar jarak jauh. Berupaya mencari cara belajar sehingga siswa senang dan mengerti materi yang kita sampaikan walau pun belum maksimal.

Pembelajaran Jarak Jauh bisa menggunakan daring dan luring. Daring ada beberapa jenis bisa melalui zoom metting, google meet,WA atau classroom. Itu minimal bagi yang mempunyai kemampuan seperti penulis pas- pasan. Suka dukanya banyak sehingga kurang tidur karena membuat bahan pembelajaran. Jika membuat bahan pembelajaran siang atau setelah magrib itu rame Suara teriakan tukang bakso, tukang sate, martabak dan bunyi kentongan satpam yang akhirnya diulang lagi membuat video. Kadang-kadang sampai pukul 02.00 sementara yang lain terlelap tidur. Diulang hingga akhirnya berhasil langsung pukul 07.00 diposting di classroom.

Andai waktu masih tersisa video diunggah di you tube jadi siswa tinggal klik link muncul video. Ternyata dengan berbagai cara dalam menyampaikan materi pembelajaran jadi tidak membosankan melainkan menyenangkan. Tugas masuk ke GC cepat namun ada juga yang tidak sama sekali saat diinterogasi berargumen dengan berbagai alasan. Bingung penulis ketika saat pelaporan ke orang tua di tengah semester . Nilai kosong. Andai diberi nilai maka siswa tersebut tidak akan berpikir dan berubah ,sementara diberi nilai kosong akan berupaya untuk memperbaiki.

Disamping itu ada juga siswa yang senantiasa mendapat nilai maksimal. Sebenarnya siswa sekarang diberi kemudahan untuk jawaban tinggal melihat di google. Sementara di kelas tidak hanya mungkin tidak punya kuota sehingga tidak dapat mengerjakan dengan baik. Unsur kemalasan sesungguhnya dan menumpuk pekerjaan hingga tidak dapat memenuhi tugas PJJ.

Teknologi mengubah cara belajar. Agar sekolah, guru, dan murid dapat nyaman beradaptasi dalam transformasi digital dunia pendidikan, pelatihan yang diselenggarakan di sekolah memberikan berbagai solusi pembelajaran. Nara sumber diambil dari orang yang memiliki potensi penguasaan digital dari luar dan dari dalam sehingga sistem belajar transfer pengetahuan dan keterampilan secara langsung dibimbing saat praktik. Hal ini sangat membantu guru-guru untuk mengusai salah satu metode pembelajaran berbasis digital.

Sesungguhnya jika kita rajin banyak sekali cara yang bisa digali melalui internet bisa dilihat di you tube atau membaca dari google. Memang tidak mudah perlu ketelitian, ketekunan dan keseriusan sehingga pada akhirnya mengerti apa yang dipelajari. Lalu mencoba dan ditranper ke siswa melalui pembelajaran daring. Penulis mencoba dan terus berlatih sehingga akhirnya mengusai lalu diterapkan di rumah melalui pembelajaran bahasa Indonesia atau matematika.
Matematika suami saat itu sebagai guru matematika di SMP hanya sayang, dia banyak diprotes teman, orang tua dan siswa karena pada dasarnya di SMP tidak menggunakan metode daring yang bervariasi mereka cukup penugasan melalui WA dan GC. Nah sekarang suami telah pensiun, ada salah satu orang tua yang kehilangan karena matematika memerlukan penjelasan walau melalui video siswa mengerti dan tugas yang diberikan paling banyak 5 soal sekarang tugasnya berjibun akhirnya siswa tidak tertarik lagi dengan pelajaran matematika.

Mengajar adalah seni . Andai guru dapat mentransfer ilmunya dengan baik dan menggunakan berbagai metode yang menarik maka pelajaran yang sulit pun akan menjadi mudah. Didamping itu guru harus dapat memperkirakan berapa butir soal yang harus diberikan dengan mempertimbangkan berbagai aspek karena siswa menghadapi 13 pelajaran berarti 13 tugas yg harus selesai dalam waktu seminggu. Sebagai guru pun akan pusing tujuh keliling saat memeriksa pekerjaan siswa.

Menilai tidak asal. Hasil pekerjaan siswa harus betul – betul diperiksa sehingga tahu sampai dimana tingkat penguasaan materi pembelajaran dan tingkat kesulitan dalam menyelesaikan penugasan. Siswa pun akan merasa puas. Andai tugas banyak tidak dinilai kecewa akhirnya nama guru yang tercoreng. Apalagi disaat pandemi guru harus mempunyai pemikiran yang kompleks dan peka terhadap situasi.

Kesimpulannya, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) belum berjalan secara optimal. Beberapa siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep pelajaran, karena tidak semua guru melakukan live teaching. PJJ juga mengandalkan banyak aplikasi saat proses belajar hingga pengumpulan tugas, sehingga kurang efisien.

Untuk mewujudkan iklim belajar yang efisien dan menyenangkan, Pembelajaran Jarak Jauh segera berakhir dan kembali ke tatap muka dengan protokol Covid. Walau pun pada pelaksanaannya tetap guru mempunyai dua kesibukan selain tatap muka juga daring karena yang mengikuti KBM secara langsung hanya 50 persen. Uji coba sudah dilaksanakan.

Namun lebih baik begini. Masalah yang dihadapi siswa akan tertanggulangi. Begitu juga orang tua . Pelajaran berbasis daring memerlukan perhatian khusus orang tua sehingga siswa merasa nyaman belajar di rumah. Perhatian orang tua meliputi di antaranya:

  1. Sediakan Tempat Belajar yang Nyaman

Sebaiknya hindari belajar di atas tempat tidur. Hal ini untuk menghindari siswa dari rasa malas untuk belajar. Bagaimanapun juga, lingkungan turut memengaruhi semangat belajar siswa.

  1. Sediakan Peralatan Sekolah

Selain lingkungan, fasilitas untuk belajar juga tak kalah pentingnya. Jadi, sebisa mungkin usahakan untuk mendukung momen #Belajar Di Rumah Saja tetap siswa dilengkapi dengan beragam perlengkapan yang dibutuhkannya selama proses belajar, dari mulai ponsel, leptop dan alat tulis .

  1. Orang tua di rumah turut membantu siswa belajar dan melakukan pengawasan karena kerap kali siswa yang suka berperilaku aneh akan mengabaikan VC, menyelesaikan penugasan bahkan kehadiran pun tidak diindahkan. Saat ditanya cukup berargumen dengan berbagai alasan. Saat ditegur guru orang tuanya baru menyadari kekeliruannya telah mengabaikan tugas sekolah. Namun ada siswa yang selama dua semesternya mengabaikan sehingga akhirnya mendapat perhatian khusus guru BK.
  2. Menyiapkan Snek kesukaan siswa sehingga nutrisi dia terpenuhi. Andai siswa kurang diperhatikan maka disaat on line mengantuk atau kurang perhatian.
  3. Diupayakan tugas dari guru jangan terlalu banyak hingga berhalangan sementara siswa mendapat tugas bukan hanya dari satu guru . Akhirnya siswa merasa nyaman dan bisa belajar walau pun dalam suasana pandemi mereka bisa menerima pembelajaran dan mengerjakan tugas secara baik. Tidak banyak bukan berarti siswa senang melainkan dia kesulitan dari berbagai mata pelajaran.

Dengan strik di atas dalam pembelajaran Jarak Jauh guru dan siswa pun tidak ada kendala. Pandemi ditunggu, kapan akhirnya hanya berdiam diri, bukan satu upaya yang terpuji melainkan bergerak aktif mengikuti alur pandemi. Andai diantaranya ada kendala WA aktif untuk bertanya . Sesungguhnya tidak ada kesulitan andai semua itu disikapi dengan berbagai cara. Kabut di depan mata pun akan memudar yang terlihat solusi menghadapi dilema dalam rangka Belajar Jarak Jauh.[ ]

Biografi

Neneng Tuti Yuniarti, lahir di Bandung 9 Agustus 1962. Menulis hobi dari kecil sejak duduk di SD. Guru SMAN 4 Bogor. Karya yang telah diterbitkan: Sangiang Ki Sunda (2016), Indonesian Haiku Anthologies of The Universe: Haiku Semesta (2016), Hati Rembulan: Antologi Haiku Perempuan Indonesia (2018), Antologi Haiku Enam Bintang (2016), Kisah Senandung Hati (2017) Permainan Kata Dalam Puisi Asmaradana (Esai 2010) Haiku Dangiang Ki Sunda (2016) Asmaradana (Antologi Haiku) 2016 Sajak-Sajak Anak Negeri (2016) Kisah Senandung Hati (2017) Bait Bait Cinta (2019) Romantisme Perahu Kertas (2019) Antologi Haiku, Senryu dan Haiga Melawan Korupsi (2018) Kidung Kematian (2019) Festival Sonian (2019) Jantung Hati (2019) Kekasih (2019.Singapura) Impian Semusim (2019) Selamat Jalan Sahabat Guru (2019), Seutas Tali Mati (2019) Asrama Haji (2020) Secangkir Kopi Pahit (2021) Ayah Jagoanku (2021) Tanah Merah (2021)

Komentar