Pesta Rakyat di Bukit Pupay, Kemariahan 17-an Wujud Kebersamaan Pemimpin Dengan Warganya

Berita, Megapolitan231 Dilihat

INILAHONLINE.COM, BOGOR — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali menggelar Pesta Rakyat dalam memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78. Tahun ini Pesta Rakyat digelar di Bukit Pupay, Kampung Ciranjang, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor, Kamis (17/8/2023).

Pesta rakyat yang dihadiri Wali Kota Bogor, Bima Arya, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso, Dandim 0606/Kota Bogor, Kolonel Inf. Fikri Ferdian, Dandenpom III/1 Bogor, Letnan Kolonel Cpm Anggun Hendryantoro serta kepala organisasi perangkat daerah Kota Bogor merupakan wujud dari kedekatan pemimpin, pejabat dengan warganya.

“Jadi setiap tanggal 17 Agustus sore, kami semua turun bersama sama warga. Di tengah warga kami ingin kemeriahan 17 agustus ini tidak hanya dirasakan di pusat kota, tidak hanya bisa dilihat di tv, tidak hanya tentang kemegahan tapi kemeriahan sampai ke pelosok. Kami ingin semua dari kami tidak ada jarak dengan warga,” katanya.

Kehadiran warga yang menyaksikan pesta rakyat dan mengikuti perlombaan membuat suasana semakin meriah. Bahkan, Wali Kota Bogor, Bima Arya dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kota Bogor berlomba bersama tarik tambang, balap karung, dan pukul bantal diatas kolam.

Dengan adanya perlombaan ini kata Bima Arya, warga dalam setahun sekali boleh memukuli wali kota dengan bantal melalui lomba pukul bantal, setahun sekali warga juga bisa menceburkan wali kota melalui lomba itu.

Pesta rakyat ini bukan tentang kemewahan, namun kebersamaan yang harus terus dijaga. Bima Arya mengakui gebuk bantal atau pukul bantal menjadi lomba yang berkesan bagi dirinya. Karena Ia ingin melihat seberapa besar keberanian warga.

“Saya tahu warga nggak enak tapi di sisi lain mereka pasti memanfaatkan momentum bisa mukul (melalui lomba gebuk bantal) wali kota pakai bantal, kedua selalu seru lihat panjat pinang karena ini masalah strategi, karena melihat, mengamati strategi mereka selalu seru,” katanya.

Untuk tarik tambang Bima Arya yang satu tim dengan Forkompinda mengaku menyerah. Hal itu terbukti ketika Forkompinda mengikuti perlombaan tarik tambang bersama warga di sesi pertama mengalami kekalahan dan di sesi kedua Forkompinda bisa meraih kemenangan.

Namun saat akan menentukan pemenang pada sesi 3 Bima Arya dan Forkompinda mengangkat tangan. “Ya, kalau tarik tambang kita ngaku kalah deh, semua (warga) berotot tanpa lemak semua, kekuatannya melebihi kita, kita sadar diri kita ngalah,” kata Bima Arya sambil tertawa.

Ia pun berharap tradisi ini bisa terus dijalankan oleh pejabat wali kota ke depan ataupun orang yang akan memimpin Kota Bogor selanjutnya. “Karena pemimpin harus merakyat, pemimpin harus dekat dengan warganya, karena pemimpin harus ada di tengah-tengah warganya, karena pemimpin harus ada, suka dan duka bersama warganya,” ujarnya.(*).

banner 521x10

Komentar