oleh

PT Semen Indonesia Rembang, Ingin Kuasai Pangsa Pasarnya di Pulau Jawa

INILAHONLINE.COM, SEMARANG – Pabrik Semen Indonesia di Rembang yang kini amdalnya yang diduga masih menjadi pro dan kontra, sehingga diprotes oleh masyarakat sekitarnya diperkirakan jika bisa beroperasi, perusahaan BUMN ini bisa menguasai pangsa pasar di Pulau Jawa.

”Jika sudah beroperasi hasilnya sangat strategis untuk menguasai penjualan di Pulau Jawa,”kata Sekertaris Perusahaan Pabrik Semen Indonesia Agung Wiharto di Semarang, Kamis (31/5/2018).

Menurutnya, adanya para pemain besar semen di dunia di Pulau Jawa ini, tidak menyurutkan penjualan Semen Indonesia di Pulau Jawa. Oleh karena itu, pihaknya mengklaim penjualan di pulau Jawa dapat dikuasai mencapai 38 persen.

“Jadi sebelum beroperasinya pabrik Semen Indonesia di Tuban, mempunyai pesaing yang pabriknya ada di Citeureup, Cirebon, Cibonong, Cilacap, dan Tuban kami tidak menguasai pasar. Kami bhanya isa menguasai 40 persen,”katanya.

Ia mengungkapkan, pabrik semen di Rembang tersebut sebagai salah satu peluru dalam penjualan. Namun pihaknya mengharapkan adanya pabrik lagi di Jawa Barat.

”Jadi sebelum ada pabrik kami mengurangi penjualan di Jawa Barat, karena ongkosnya besar,juga tidak ada margin. Terlebih kompetitor juga membangun pabrik di Jawa Barat,” tuturnya.

Dikatakannya, selain terdapat banyak pemain semen dunia di Indonesia, pemerintah juga masih membuka kran impor. Hal inilah yang sangat memberatkan penjualan semen di Indonesia.

”Dengan masih membuka kran impor maka harga semen jauh lebih, sehingga membuat kami lebih waspada,”paparnya.

Namun demikian, lanjutnya, dilihat dari sisi konsumsi dalam negeri, PT Semen Indonesia saat ini masih mengalami kenaikan 1,3 persen. Hal ini merupakan bentuk gambaran situasi yang sekarang ini terjadi.

”Kami mengambil keuntungan disaat situasi baik dengan menaikkan harga,” ujarnya.

Namun terkait dengan kenaikan konsumsi semen, menurutnya, sangat dipengaruhi adanya pembangunan infrastruktur, apalagi pembangunan infstruktur yang paling banyak mengkonsumsi semen adalah jalan tol.

”Jadi rata-rata pembangunan jalan tol pakai semen tiga ribu ton per kilometer, sedangkan pemerintah akan membangun tol sepanjang 2000 kilometer dalam lima tahun. Inilah peluang besar yang menjadi target pasarnya,”jelasnya.

Ia menambahkan, untuk meningkatkan dalam penjualan pihak semen Indonesia juga membentuk BUMDES di Rembang. Dengan adanya BUMDES tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dalam proses produksinya.

”Perusahaan kami juga memberikan beasiswa, kesehatan,pengobatan agar masyarakat tetap ikut andil keberadaan kami. Meskipun dengan dana terbatas di situasi seperti ini kami tetap komitmen,”tandasnya.(Suparman).

Komentar