oleh

Realisasi Investasi d Jateng Dalam Semester Satu Naik 35 Persen Dibanding Tahun Sebelumnya

INILAHONLINE.COM, SEMARANG – Realsiasi investasi di Jawa Tengah pada semester satu tahun 2018 baru mencapai angka Rp 27,63 triliun, dari target sebesar Rp 47,15 triliun selama satu tahun.

Berdasar data yang dirilis oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, dibandingkan dengan semester satu tahun lalu, pencapaian semester satu tahun ini mengalami peningkatan 35 persen, dari angka Rp 20,437 triliun, meningkat ke Rp 27,63 triliun.

”Angka Rp 27,63 triliun itu, terdiri dari penanaman modal asing (PMA) Rp 12,643 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 14,986 triliun,”kata Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah Prasetyo Aribowo dalam konferensi pers perkembangan invenstasi di Jateng selama semester satu, Rabu (15/8/2018).

Menurutnya, dengan realisasi penyerapan tenaga kerja selama satu semester tahun ini, mengalami penurunan sekitar 3.302 tenaga kerja. Semester satu tahun sebelumnya, terserap sebanyak 71.035 tenaga kerja. Tahun ini, sebanyak 67.733 tenaga kerja, yang terdiri dari sebanyak 67.426 TKI dan 307 TKA.

”Dengan capaian serapan proyek yang melakukan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), sejumlah 1804 proyek terdiri dari PMA 622 proyek dan PMDN 1.182 proyek,”paparnya.

Ia menjelaskan, dibanding dengan tahun sebelumya terjadi kenaikan 361 proyek. Tahun sebelumnya ada 1.443 proyek yang terdiri dari 674 PMA dan 769 PMDN.

”Jadi untuk perkembangan investasi berdasarkan lokasi untuk PMA pada semester satu tahun 2018 ini, Jepara masih menduduki peringkat pertama. Kemudian disusul oleh Batang, Kendal, Brebes, dan Kota Semarang,”ujarnya.

Sedangkan pada tahun sebelumnya urutan peringkat 5 besar adalah Jepara, Batang, Tegal, Kota Semarang, dan Kabupaten Sukoharjo.

“Untuk PMDN, semester satu ini Kota Semarang, berhasil menjadi posisi pertama, disusul Sragen, Pekalongan, Sukoharjo, Cilacap. Sedangkan urutan tahun sebelumnya yakni Karanganyar, Pekalongan, Semarang, Kudus, dan Sukoharjo,”tuturnya.

Namun demikian, menurutnya, jika dilihat perbandingan berdasarkan sektor, untuk PMA sama seperti tahun lalu, semester satu tahun ini masih dikuasai sektor listrik, gas dan air.

”Kemudian untuk PMDN, semester 1 tahun ini, sektor konstruksi berhasil menyodok menggantikan industri tekstil, yang menjadi sektor nomor 1 pada semester satu tahun lalu,” bebernya.

Prasetyo menambahkan, untuk peringkat lima besarnya berdasarkan negara adalah Jepang, Singapura, Korea Selatan, Hongkong RRT, dan Jerman.”Jepang masih mengusai karena Jepang masih membiayai proyek PLTU,”imbuhnya.

Dari pemaparan perkembangan investasi di Jawa Tengah semester satu ini, Prasetyo menilai, untuk sementara PMDN masih lebih unggul dibanding PMA. Hanya PMDN bangkit mengisi portofolio investasi Jawa Tengah. Sementara PMA, walaupun jalan tapi mungkin banyak yang belum lapor.

”Untuk pencapaian tahun 2018 ini, tetap optimis dapat melalui target yang telah ditentukan,”tandasnya.(Suparman)

Komentar