Romahurmuzy, Isu yang Berkembang Presiden Jokowi Pro Komunis Merupakan Fitnah

13/04/2018 21:55:38 Kategori: ,

INILAHONLINE.COM, SEMARANG - Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy menegaskan isu yang berkembang selama ini, bahwa Presiden Joko Widodo pro-komunis sama sekali tidak benar dan jelas-jelas merupakan fitnah dan ''hoax''.

''Sampai sekarang ini, Pak Jokowi masih dilabelkan oleh lawan politik beliau sebagai pro-RRC (Tiongkok), pro-komunis, dan anti-Islam. Itu betul-betul fitnah dan `hoax`,''tegasnya di Semarang usai membuka Munas Alim Ulama kedua di Semarang, Jumat (13/4/2018).

Menurut Gus Romi, sapaan akrab Romahurmuziy ketika Jokowi diusung sebagai calon Wali Kota Solo sampai dua periode, tidak ada isu semacam itu, termasuk ketika partai politik yang sama mengusung Jokowi pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

''Mengapa pada 2014 muncul isu komunis? Artinya isu tersebut rekayasa. Bahkan, isu itu dibuat-buat,apalaagi sampai dibukukan, dan dibagikan dalam satu tabloid, namanya Obor Rakyat yang disebar ke 28 ribu pondok pesantren,''katanya.

Diakuinya, pertarungan politik sekarang ini sangat tidak sehat dan bisa mengganggu keutuhan bangsa, sementara masyarakat tidak tahu apa-apa sehingga isu yang diembuskan palsu karena dikemas dengan sedemikian rupa dan rapi.

''Sebagai parpol yang sudah menetapkan Jokowi sebagai calon presiden pada Pilpres 2019, PPP merasa perlu meminta petunjuk dari para ulama agar segala bentuk fitnah dan "hoax" bisa diakhiri,''paparnya.

Dalam fitnah yang terus berkembang ini, para ulama tentu memiliki perspektif tersendiri terhadap `labeling` yang sebagian besar fitnah sifatnya. ''lalau bagaimana meng-`counter` dan membaliknya dengan sebuah hal positif. Ini yang akan dibahas,''katanya.

Namun demikian dalam forum bernama "bahtsul masa`il" pada Munas Alim Ulama PPP itu, kata dia, dibahas pula mengenai beragam hukum fikih politik, termasuk maraknya media sosial digunakan untuk menyebarkan "hoax".

''Hukum fikih politik kan memang belum secara paripurna kita miliki sekarang ini. Inilah pentingnya ulama dari seluruh Indonesia duduk bersama membahas hukum tentang sesuatu yang sekarang berkembang,'' katanya.

Hanya ketika media sosial digunakan sebagai sarana menebar "hoax" dengan dalih demi kemenangan berbasis agama tertentu, yang juga akan dibahas para ulama mengenai hukumnya di dalam Islam.

''Jadi dalam Alquran, sudah disebutkan bahwa janganlah sekelompok laki-laki mengolok-olok sekelompok laki-laki lain, karena jangan-jangan mereka lebih baik dari yang mengolok-olok, demikian pula perempuan,''tuturnya.

Menurutnya, dalam ajaran dari Alquran seharusnya tidak boleh dilakukan, namun kenapa sekarang ini orang sebegitu mudah mencaci. Seperti sudah kehilangan akal sehat dalam berpolitik, karena dalam pertarungan politik didasari benci.

Dalam forum "bahtsul masa`il" itu, juga dibahas pula berbagai fikih politik kekinian, seperti keberadaan calon kepala daerah yang beragama nonmuslim di daerah yang mayoritas penduduknya nonmuslim.

''Jadi apa hukum mencalonkan nonmuslim di daerah yang mayoritas penduduknya tidak ada umat Islam di sana, dan sebagainya. Bukan hanya menjadi fatwa, tetapi keputusan daerah Majelis Syariah PPP yang harus ditaati,''tegas Romi.(Suparman)