oleh

Saksikan Sore Ini, Bogor Street Festival 2019

INILAHONLINE.COM, BOGOR

Diharapkan sore ini cuaca Kota Bogor cerah bersahabat. Supaya gelaran Bogor Sreet Festival (BSF) 2019 bisa berjalan lancar dan dapat dinikmati dalam suasana nyaman. Apalagi BSF kali ini dijanjikan tampil berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Memang seperti dikatakan Ade Suarsa, selaku Sutradara Opening Bogor Sreet Festival, untuk BSF kali ini ada beberapa perbedaan yang ditampilkan. Pertama, seluruh kegiatan akan berlangsung malam hari. Kedua, akan dipasang lampu warna-warni sebagai pencahayaannya. Keberadaan lampu warna-warni inilah yang menurutnya, menjadi inspirasi dipilihnya tema BSF tahun ini, “Katumbiri Lighting Festival”.

Selain menggambarkan realita malam yang pernuh cahaya,”Warna-warni pelangi juga bisa diibaratkan sebagai keberagaman suku, agama, status sosial yang semuanya berbaur menjadi indah di acara BSF,” jelas Ade. Keberagaman budaya itulah yang akan disuguhkan di BSF Selasa malam ini.

Oleh karena itu di pertunjukan pembukaan pertama-tama akan ditampilkan sebuah kemasan pertunjukan pesona katumbiri. Dimulai dari sebuah ritual budaya Sunda, yang disebut “Rajah”. Disambung kemudian dengan permainan tradisional anak-anak sebagai bentuk keceriaan.

Berikutnya akan ditampilkan penari-penari dengan kostum berwarna-warni sebagai visualisasi dari cerita dongeng bidadari turun dari langit dengan pelangi sebagai jembatannya. Semua itu akan diiringi dengan berbagai atraksi lainnya. Mulai dari Marching Band, Liong, Barongsai, Marawis dan banyak lainnya. “Setelah opening seremoni, dimulailah karnaval atau parade seni budaya, mulai dari kesenian lokal, Nusantara dan mancanegara ditampilkan dengan melibatkan sekitar 1.000 seniman,” lanjut Ade.

Keterlibatan para seniman sebanyak itu, karena menurut Ade agenda rutin tahunan BSF selalu dinanti-nanti para seniman. Melalui ajang inilah para seniman dapat saling bersilaturahmi dengan seniman lainnya dan bisa mempublikasikan hasil karyanya ke masyarakat luas yang hadir menonton BSF. “Banyak seniman yang ingin terlibat di BSF cuma panitia membatasi karena menyangkut waktu dan lainnya, jadi tidak semua bisa diakomodir,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Shahlan Rasyidi mengatakan, setidaknya ada tujuh sanggar dari Kota Bogor yang akan ikut berpartisipasi. Selain sanggar-sanggar Kota Bogor, juga ada sedikitnya lima lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat.

“Disparbud Insya Allah siap, ada tujuh sanggar,” katanya.

Masing-masing Sanggar Andika, Sanggar Bagaskara, Sanggar Edas, Dipokersen, Laras Pakuan, Teater Prabu dan dari FKIP Unpak. Sementara dari luar daerah pesertanya ada dari Kabupaten Bogor, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Sumedang, Kota Bandung dan dari Kabupaten Indramayu.

Seluruh penampil yang terlibat dari Kota Bogor dan berbagai daerah itu, totalnya mencapai 300 orang baik penari maupun pemain musiknya.

“Dari Kabupaten Ciamis nantinya akan menampilkan Wayang Landung, Kabupaten Sumedang Seni Kuda Renggong, Bandung Seni Badawang, kalau dari Kabupaten Indramayu Gadis Ngarot. Kota Bogor sendiri akan menampilkan Jaipong dan bermacam seni sunda lainnya,” katanya.

Selain dari dalam negeri, peserta karnaval juga akan dimeriahkan oleh suguhan budaya dari mancanegara. Antara lain kesenian dari India melalui perwakilan dari Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre (JNICC) dan partisipasi kesenian dari Tainan City.

Walikota Bogor, Bima Arya mengatakan, CGM atau BSF merupakan ajang budaya pemersatu bangsa, dari Bogor untuk Indonesia. CGM bukan kegiatan keagamaan tetapi kegiatan kebudayaan. “Kegiatan kebudayaan ini bukan hanya untuk menghibur, tetapi sebagai momentum dalam menjaga kebersamaan dalam keberagaman,” katanya.

Kegiatan CGM/BSF yang sudah ada sejak dahulu, lanjut Bima, tidak melulu dikaitkan dengan kegiatan keagamaan dan kegiatan politik. Karena, menurutnya, kegiatan festival budaya tahunan ini berbicara tentang kebersamaan dalam keberagaman.

“Karena harta yang paling berharga yang harus kita jaga adalah kebersamaan dan CGM/BSF bukan hanya peristiwa kegiatan budaya, akan tetapi ini adalah warisan bangsa yang perlu kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.

(Advertorial)

Komentar