oleh

BKKBN Jawa Tengah, Berikan Dukungan dan Apresiasi Terhadap Program KB di RS Panti Wilasa Semarang

InilahOnline.com (Semarang-Jateng) – BKKBN Provinsi Jawa Tengah terus memberikan apresiasi dan dukungan terhadapap pelayanan KB Medis Operasi Wanita (MOW) dan Medis Operasi Pria (MOP) di sebuah rumah sakit Panti Wilasa Dr Cipto Semarang.Kunjungan yang dilakukan Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Provinsi Jateng Nanik Budiastuti beserta rombongan tersebut juga untuk mengetahui sampai sejauhmana minat akseptor MOW-MOP di Klinik KB RS Panti Wilasa tersebut.

“Syarat menjadi akseptor KB minimal anaknya dua dan usia anak terakhir lebih dari 5 tahun. Selain itu, pasien harus benar-benar tidak menginginkan anak lagi dan sudah mantap melakukannya,” kata Nanik Budiastuti di Semarang, Kamis (6/7/2017).

Menurut dia, untuk membatasi tingkat pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia khususnya memang harus digalakkan kembali program keluarga berencana secara baik, yang sudah dilakukan seperti jaman orde baru waktu itu. Tapi dengan masih diberlakukan pelayanan KB di Rumah Sakit Panti Wilasa, BKKBN sangat bangga terhadap pelayanan yang terus dilakukan.
”Dengan pelayanan KB yang masih dijalankan ini, maka lembaganya sangat mendukung sekali program yang terus digalakkan,”katanya.

Wakil Direktur Pelayanan RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang Yoseph Chandra menjelaskan bahwa pelayanan KB di RS Panti Wilasa Dr. Cipto gratis setiap harinya dengan beragam pilihan alat kontrasepsi baik itu MOW-MOP, pil, suntik, IUD, maupun implant.

“Di tempat kami (Klinik KB RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang, red.) setiap hari gratis dengan waktu pelayanan mulai pukul 08.00 WIB-12.00 WIB,” katanya sambil menambahkan ada satu dokter yakni Dr. Rudy Hendrarto dan dua bidan yang siap melayani akseptor setiap hari Senin sampai dengan Sabtu.

Ia menyebutkan rata-rata setiap bulan ada 50 hingga 100 akseptor KB MOW-MOP yang tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tetapi juga berasal dari luar daerah seperti Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kendal, Salatiga, Grobogan, bahkan ada yang berasal dari Bandung.

”Hingga saat ini tingkat kesadaran masyarakat untuk ber-KB belum maksimal di antaranya karena masih percaya dengan mitos seperti dapat menyebabkan kandungan kering, impoten, nafsu seks menjadi berkurang, dan lainnya,”ujarnya.

Dijelaskan, sebenarnya tidak ada risiko yang mungkin terjadi jika ber-KB, karena kesehatan selalu terjaga dengan baik dan tidak terus melakukan kelahiran. Sebaliknya, tingkat kematian ibu bisa terjadi karena terlalu sering melahirkan. Selanjutnya adalah risiko ekonomi karena banyak anak sehingga kebutuhan keluarganya terus meningkat.

”Jadi selama ini mereka yang MOW-MOP karena ‘getok tular’ dari mereka yang sudah ber-KB misalnya karena pelayanan dari dokter dan bidan di rumah sakit serta sebagian lainnya karena kesadaran dari diri sendiri dengan latar belakang pendidikannya.”paparnya.

Program KB kata dia, bisa menjadikan keluarga sejahtera. Oleh karena itu, tentu akan beda terhjadap keluarga yang mengurus anak dua dengan yang harus mengurus anak dengan jumlah lebih banyak.”Jadi jangan dijadikan banyak anak akan membawa rezeki sendiri-sendiri,”ujarnya. (Suparman)

Komentar