“Tambak-tambak jadi tidak terurus, pendapatan kami terus menurun, kami jadi enggak bisa pekerjakan orang lagi. Padahal jumlah pekerja tambak tradisional ini ribuan orang lho. Terus karena saluran-saluran tambaknya rusak, dangkal, tercemar limbah, banyak sekali mata pencaharian warga lainnya seperti pencari kepiting, pencari belut, pencari ikan, juga ikut hilang akibat ekosistem lingkungan rusak tercemar,” paparnya diamini Kadra, Idin, Cardia Jiol, Iman serta sesama petambak lainnya.
Dia mencontohkan, sekitar tahun 2000-an silam jauh sebelum ada tambak udang vaname, satu hektar tambak tradisional bisa menghasilkan 10 kg udang Impes per harinya. Udang jenis ini adalah udang alami yang berasal dari laut dan masuk ke areal tambak.
“Bagi kami para petambak tradisional, usaha udang lokal ini merupakan usaha pokok harian, mampu menghidupi kebutuhan keluarga sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anak dan menghidupi para pekerja tambak,” ucapnya.
Dalam satu hektar, tambaknya rata-rata bisa menghasilkan 10 kg udang Impes per hari dengan harga saat itu Rp9.000/kg. Namun kini setelah ada tambak vaname, produksi udang Impes anjlok, bahkan nyaris hilang, menyebabkan penghasilan mereka turun drastis.
“Per hektar cuma dapat 3 ons udang Inpes dengan harga Rp40.000/kg, artinya hampir 99% hilang pendapatan kami, sebab udangnya mati tercemar limbah vaname dan saluran-saluran tambaknya dangkal,” imbuh Kadra, petambak Desa Jayamukti.

Selain usaha pokok harian berupa udang lokal Impes, mereka juga punya usaha pokok musiman berupa usaha budidaya ikan bandeng, udang windu dan bago.
Angga kembali mencontohkan, pada tahun 2000-an, per hektar tambak rata-rata ditanami 2.500 ekor benih ikan bandeng. Dalam kurun 3 bulan kemudian sejak ditanam, pihaknya bisa memanen bandeng 10 blong per hektar, atau totalnya sebanyak 400-500 kg bandeng (1 blong setara rata-rata 50 kg) per hektar per 3 bulan. Dengan harga bandeng saat itu kisaran Rp11.000-15.000/kg.
Lalu di tahun 2010, pihaknya masih bisa menghasilkan ikan bandeng sebanyak 300-400 kg/hektar per 3 bulan dengan harga Rp15.000-17.000/kg.
Namun, setelah ada tambak intensif udang vaname, pendapatan mereka dari usaha pokok musiman inipun turut anjlok. Tak hanya itu, durasi panen yang lazimnya per 3 bulan, saat ini ada perlambatan pertumbuhan ikan menjadi 5 bulan dengan produksi yang menurun drastis.
“Bayangkan saja, begitu ada vaname, kami nanam 10.000 ekor bandengpun enggak pernah hasilnya dapat 5 kwintal. Tahun 2018 kemarin, setelah 5 bulan tanam, kami cuma dapat 2 blong per 2 hektar, totalnya cuma 70 kg, sudah gitu size (ukuran) ikannya kecil-kecil, harganya pun cuma Rp9.500/kg. Jadi setelah ada vaname memang ada perlambatan panen dari biasanya 3 bulan jadi 5 bulan. Karena makanan alami ikan seperti plankton atau lekap hilang atau mati akibat limbah pencemaran. Kami bener-bener rugi besar dari tahun ke tahun,” keluh mereka.
Bahkan saat ini, khusus untuk usaha budidaya udang lokal windu dan bago, kian sedikit yang mengerjakannya. Padahal, sepanjang kurun waktu 1965 hingga 1995-an, usaha udang windu/bago ini pernah jadi primadona usaha pokok musiman bagi warga Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan.
“Waktu itu sangat dikenal banyak petambak bisa pergi ibadah haji berkat penghasilan yang bagus dari udang windu/bago. Tapi sekarang, itu cuma kenangan,” keluhnya.
(Abdulah)





























































Komentar