Dari Seminar Nasional Revitalisasi Dakwah Islam di Tengah Arus Globalisasi, Jangan Jadi Da’i Satu Ayat

Megapolitan482 Dilihat

“Dengan berdakwah, kita menolong agama Allah SWT, Islam. Dan, di situ pula rahmat/pertolongan Allah datang. Jadi, dakwah itu bukan hanya kewajiban, tapi juga kebutuhan. Karenanya, pahami agama, pahami apa yang terjadi, dan pahami keadaan yang konkret. Jangan hanya jadi mubaligh/da’i satu ayat.”

Oleh Mochamad Ircham

Ketidakhadiran Jenderal Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI membuat Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, MSc, Guru Besar sekaligus Direktur Pascasarjana UIKA Bogor menggantikan sahabatnya sebagai keynote speaker pada seminar nasional KPI bertajuk Revitalisasi Dakwah Islam di Tengah Arus Globalisasi, Rabu (28/2/2018).

“Itu risiko saya, taka pa-apa, karena Pak Gatot ketika bertugas di Irian Jaya pernah satu tim dengan saya, sebelum jadi Panglima TNI. Pemikiran Jenderal Gatot ini luar biasa, dan saya terus berkomunikasi dengan beliau,” ungkap Didin ketika menjadi keynote speaker seminar nasional, setelah dibuka oleh Rektor UIKA Bogor, Dr E Baharuddin, MAg dan dihadiri sekitar 323 peserta, termasuk Kadisdik Kota Bogor, Fachruddin.

Di antara komunikasi itu tebersit bahwa Gatot memang dekat dengan ulama dan umat Islam. Karenanya, UIKA mengundang Gatot untuk berbicara seputar dakwah Islam di tengah arus globalisasi, dengan menghadirkan tiga panelis, yaitu Dr KH M Cholil Nafis, Lc, MA, Ketua bidang Dakwah MUI Pusat, Dr KH Amir Faishol Fath, Lc, MA dari Fath Institut, dan Dr Ahmad Sastra, MM dari UIKA Bogor, yang dipandu oleh Syukron Ma’mun.

Prof Didin menyatakan, meskipun Rasulullah SAW pernah menggariskan pentingnya berdakwah, bahkan walaupun satu ayat, namun pada praktiknya, apalagi di tengah arus globalisasi saat ini, “Jangan lantas jadi mubaligh atau da’i satu ayat. Tapi, harus bisa dakwah di hadapan semua kalangan. Mengingat dakwah itu bukan cuma kewajiban, namun juga kebutuhan, maka jangan asal-asalan,” ungkapnya.

Setidaknya, dari dakwah yang dilakukan oleh umat, tak hanya kiai, juga karyawan, wartawan, mahasiswa dan lainnya, pertolongan dan rahmat Allah SWT bakal turun. “Makanya, jangan asal-asalan, paling tidak ada tiga hal yang harus dipahami juru dakwah, pertama, pahami agama dengan baik dan benar. Kedua, pahami apa yang terjadi di tengah umat, dan ketiga, pahami keadaan yang konkret. Seperti, zaman now, pendakwah jangan gaptek. Karena umat kita jadi sasaran pasar ideologi,” tandasnya.

Didin menambahkan, dakwah di hadapan generasi millennial berbeda dengan metode dakwah di kalangan generasi ‘asam urat’, demikian pula ketika dihadapkan pada napi di lapas dan kaum ibu. “Jadi cara dakwah boleh berbeda-beda, tapi substansinya tetap,” tegasnya.

Pada sesi dialog, ada hal menarik yang dikonfirmasi oleh salahsatu peserta dari Jonggol kepada panelis, yaitu seputar surat-surat RA Kartini ke petinggi di Negeri Belanda, yang diperkirakan berisi soal Islam liberal. “Bagaimana kita, terutama kaum ibu menyikapinya?.”

Menanggapi hal itu, M Cholil Nafis kelahiran Sampang, 1 Juni 1975 menyatakan, apapun yang muncul dari surat-surat RA Kartini sebaiknya diadopsi bagian yang positif, dan tinggalkan sisi negatifnya. Apalagi, hal itu belum dikuatkan oleh penelitian yang mendalam. “Kan, kita sebagai umat Islam punya tokoh panutan, seperti Fatimah, Siti Khadijah, Siti Maryam, Aisyah, dan ibu-ibu hebat lainnya,” ungkapnya.

Sisi lain yang juga dipertanyakan peserta, yaitu seputar perbedaan praktik peribadatan, antara Qunut dan tak Qunut yang jadi perdebatan tak habis-habisnya di antara NU dan Muhammadiyah, juga pentingnya berdakwah kepada penguasa, sebagaimana gencar dilakukan oleh Rasulullah SAW.

banner 521x10

Komentar