oleh

Diduga Gunakan Dokumen Aspal, Esha Nurhayati Gugat Penetapan Ahli Waris Keluarga Besar Kiai Prabu Kresna

INILAHONLINE.COM, SURABAYA

Pengambilalihan secara melawan hukum atas aset-aset milik Yayasan Pendidikan Dorowati (YPD) yang didirikan oleh KH Abdul Majid Ilyas yang dikenal juga dengan nama Prabu Kresno oleh Jamaah Pengajian Surabaya yang mendirikan sebuah yayasan baru yang diberi nama Yayasan Pendidikan Dorowati Surabaya (YPDS) berbuntut panjang, setelah dilaporkan oleh Ahli Warisnya ke Polrestabes yang sampai saat ini masih dalam penyidikan atas dugaan pidana pemalsuan Akte Pendirian Yayasan Pendidikan Dorowati Surabaya (YPDS). Setelah polisi memeriksa para terlapor: Notaris Dadang Koesboediwitjaksono, SH dan kawan-kawan, mereka berusaha menghambat proses penyidikan tersebut, dengan menampilkan Esha Nurhayati. Esha didorong menggugat ke Pengadilan Agama atas Putusan Penetapan Ahli Waris Keluarga Besar KH Abdul Majid Ilyas yang telah diputuskan pada tahun 2013 dan 2017 tersebut saat ini digugat untuk dibatalkan.

Amiruddin, SH, menggunakan ham biru Kuasa Hukum Keluarga Besar Ahli Waris KH Abdul Majid Ilyas dan Bayu menggunakan kaos hijau tua, saksi sidang di Pengadilan Agama Kota Surabaya, Senin (23/9/2019) depan.

Akibat ulah mereka (YPDS), Izin Operasional Sekolah (IOS) SMP Dorowati di Manukan Lor 43-45, Tandes, Surabaya Barat, Kota Surabaya, Jawa Timur di bawah naungan YPD yang berakhir Desember 2017 tidak diterbitkan lagi oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang dikepalai Dr Ikhsan, SPsi, MM di bawah kepemimpinan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, setelah sempat diterbitkan beberapa tahun sebelumnya. Kini, sekitar 541 siswa SMP Dorowati dimutasikan ke beberapa SMP, di antaranya SMP Tri Karya. Atas pengelolaan sekolah lewat yayasan tersebut, sejumlah pihak belakangan ini melakukan manuver untuk menghambat niat dan itikad baik Keluarga Besar Ahli Waris KH Abdul Majid Ilyas yang sudah berpuluh-puluh tahun mengembangkan dunia pendidikan dan dakwah, di antaranya lewat SMP Dorowati tersebut.

“Setelah KH Abdul Majid Ilyas dan KH Abdullah Sattar wafat masing-masing 20 Mei 1980 dan 2 Oktober 2010, baru kali ini digugat oleh santrinya sendiri. Salah satu bukti yang disampaikan oleh Esha Nurhayati dalam gugatannya di Pengadilan Agama Kota Surabaya berupa Akta Nikah dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, 7 Mei 2007. Tapi, setelah dikonfirmasi ke pihak Kepala Desa pada 11 September 2019 ternyata diklarifikasi bahwa baik Esha Nurhayati maupun Abdullah Sattar masing-masing bukan warga Jalan Raya Palumbon Nomor 80 RT 002/RW 001 Desa Cijati dan Kampung Ciloa RT 013/RW 004 dan Desa Sinargalih, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sebagaimana tercantum di Buku Nikah yang bersangkutan dan juga tidak pernah tercantum di database kedua desa tersebut,”dan kedua bukti ini sudah disampaikan sebagai salah satu alat bukti, ungkap Bro Am, sapaan akrab Amiruddin, SH, Kuasa Hukum Keluarga Besar Ahli Waris KH Abdul Majid Ilyas ketika dikonfirmasi, seusai sidang di Pengadilan Agama Kota Surabaya, Senin (16/9/2019).

Berdasarkan bukti tersebut, lanjut Amir, patut diduga Akta Nikah bernomor register 098/13/V/2007, Nomor Porforasi 1684567 yang disampaikan Esha itu asli tapi palsu alias aspal. Bukti lain yang mengindikasikan bahwa Akta Nikah Esha itu aspal, yakni lampiran untuk mendapatkan Akta Nikah tersebut berupa Surat Keterangan untuk Nikah dari Kepala Desa, baik Cijati maupun Sinargalih pada Mei 2007 berbeda dengan data yang tercantum dalam Akta Nikah.

Dalam Surat Keterangan untuk Nikah atas nama Abdullah Sattar dicantumkan sebagai pria yang lahir di Purwakarta, 1 September 1983, statusnya Jejaka, pekerjaannya Buruh, dan beralamat di Kampung Pasir Wetan, Desa Sinargalih, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, sedangkan Esha Nurhayati disebut lahir di Bandung, 19 November lahir di Bandung, 19 November 1985, statusnya Perawan, dan beralamat di Kampung Pasir Wetan, Desa Sinargalih, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta.

Padahal di Akta Nikah, Abdullah Sattar lahir di Surabaya, 1 September 1948, statusnya Duda, pekerjaannya Swasta, beralamat di Kampung Ciloa, RT 013/RW 004, Desa Sinargalih, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, dan Esha Nurhayati lahir di Surabaya, 19 November 1985, statusnya Perawan, pekerjaannya Swasta, beralamat di Jalan Raya Palumbon Nomor 80 RT 002/RW 001 Desa Cijati, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta. “Bukti-bukti Surat tersebut Itu akan kami perkuat dengan saksi-saksi di persidangan pada Senin, 23 September 2019,” tandas Bro Am.

Amiruddin, SH, Kuasa Hukum ahli waris KH Abdul Majid Ilyas

Ia menambahkan, bukti lain yang disampaikan ke Majelis Hakim Pengadilan Agama tersebut ialah Kutipan Akta Kematian Abdullah Sattar, putra KH Abdul Majid Ilyas, bernomor 3578-KM-17072017-0030 bahwa pada 2 Oktober 2010 Jam 18.30 WIB Abdullah Sattar yang lahir di Surabaya, 1 September 1938 telah meninggal dunia.

Jadi sangat jelas sekali apabila apa yang telah dilakukan oleh Esha tersebut masuk dalam klausul tindak pidana Pemalsuan karena dengan sengaja memakai Akta Nikah, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah-olah benar dan tidak dipalsu sebagaimana tersebut dalam Delik Pemalsuan yaitu Pasal 263, 264 maupun 266 KUHP, akan tetapi biarlah nanti Pengadilan yang akan memutuskannya, kita tetap taat pada aturan dan atau prosedur hukum yang berlaku,”tandasnya.

Esha Nurhayati sendiri, sesuai dengan surat gugatan ke Pengadilan Agama Kota Surabaya tertanggal 26 Maret 2019, lahir di Surabaya, 19 November 1985 beralamat di Rungkut Lor 2/30-A, RT 004/RW 005, Kelurahan Kalirungkut, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya.

(Soleh Widarto/Mochamad Ircham)

Komentar