Program Tekno Karsa 1.0. BEM SSMI IPB University Sukses Digelar di Desa Leuweung Kolot, Cibungbulang, Kabupaten Bogor

Tak Berkategori320 Dilihat

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Program Tekno Karsa 1.0 yang diinisiasi oleh Departemen Sosial, Politik, dan Lingkungan Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika (BEM SSMI) IPB University dilaksanakan di Desa Leuweung Kolot, sebuah daerah agraris di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor dengan potensi singkong yang tinggi tetapi masih dipasarkan secara mentah. 

Program pengabdian berbasis teknologi ini sukses menggagas hilirisasi pangan yakni inovasi olahan singkong menjadi enye-enye dengan varian rasa kekinian guna meningkatkan nilai jual dan memperluas pemasaran digital. Hal ini selaras dengan tujuan Tekno Karsa 1.0 untuk mendorong digitalisasi ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. 

Program ini mencakup pendampingan pembuatan enye-enye hingga pengemasannya, penentuan harga, serta pelatihan digital marketing untuk membantu masyarakat memasarkan produk secara lebih luas dan modern dan penggunaan sistem pembayaran non-tunai QRIS sebagai bentuk adaptasi terhadap pola transaksi digital yang makin umum di masyarakat. 

Program diawali dengan sosialisasi dan pengenalan konsep kegiatan Tekno Karsa 1.0 serta pengadaan pre-test untuk para peserta. Hal ini sekaligus menjadi pembukaan pelaksanaan Tekno Karsa 1.0 oleh Sekretaris Desa Leuweung Kolot, Ketua Karang Taruna, Ketua BEM SSMI 2024/2025 dan Ketua Pelaksana pada 23 Juni 2025 di Balai Desa Leuweung Kolot. Inisiatif mahasiswa mendapat sambutan baik dari Masyarakat Desa Leuweung Kolot. 

Sekretaris Desa Leuweung Kolot, Andi Irawan menilai program ini memberikan dampak positif nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mengoptimalkan potensi yang ada. Kegiatan ini juga turut menggandeng berbagai unsur desa seperti PKK, Karang Taruna, dan pelaku UMKM lokal dalam rangka membangun ekosistem usaha yang kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan.

Muhammad Abdan Rofi sebagai Ketua BEM SSMI 2024/2025 menegaskan bahwa aktualisasi pengabdian bukan untuk pelengkap administrasi, formalitas, ataupun narasi semata, melainkan bentuk upaya konkret implementasi keilmuan yang sudah diperoleh untuk memberikan solusi terhadap permasalahan di desa.

Abdan pun menjelaskan bahwa kehadiran mahasiswa bukan hanya sekedar figur intelektual, akan tetapi sebagai sosok moral yang dapat memberdayakan masyarakat desa dan menerbakan kebermanfaatan.

“Untuk mencapai ketahanan pangan dibutuhkan transformasi, salah satu upayanya dengan melakukan hilirisasi pangan. Hilirisasi pangan artinya peningkatan ketersediaan pangan, penambahan nilai jual ekonomis, keberlanjutan pasokan, peningkatan kualitas produk pangan serta perluas distribusi pasar. Harapannya dengan mengkombinasikan formulasi hilirisasi dan digitalisasi dapat tercapai ketahanan pangan di Desa Leuweung Kolot.” terangnya.

Sementara itu, Farhana Ginanti Maharani selaku Ketua Pelaksana Tekno Karsa 1.0 menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari tercapainya target pelatihan atau jumlah produk yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan inovasi tersebut secara mandiri.

Menurutnya, pendampingan bersifat partisipatif menjadi kunci untuk memastikan masyarakat benar-benar memahami setiap tahap mulai dari proses produksi, pengemasan, penentuan harga pokok penjualan, hingga strategi pemasaran digital.

“Kami berupaya agar setiap sesi berlangsung dialogis dan aplikatif, sehingga para peserta tidak hanya mendengar teori tetapi mempraktikkan langsung cara membuat akun toko online, menghitung HPP, hingga menggunakan QRIS,” jelasnya.

Farhana juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program melalui pemantauan jarak jauh dan komunikasi terbuka agar masyarakat dapat terus berkonsultasi saat menghadapi kendala. Harapannya, Tekno Karsa 1.0 menjadi langkah awal bagi Desa Leuweung Kolot untuk menuju kemandirian ekonomi digital yang berkelanjutan.

Ibu-Ibu Desa Leuweung Kolot yang menjadi peserta program Tekno Karsa 1.0 sangat antusias dalam menjalani kegiatan pendampingan yang berlangsung pada tanggal 26 – 28 Juni 2025 di LPK Tepi Sawah. Mereka bersemangat dalam pembuatan pengolahan singkong menjadi enye-enye hingga proses pengemasan yang menarik.

Tahapan Rangkaian kegiatan pendampingan berjalan secara sistematis dan partisipatif dari kedua pihak

26 Juni 2025 : Proses produksi awal dimulai dengan pengupasan dan pemarutan singkong hingga menjadi adonan. Setelah dibumbui, adonan dipipihkan di atas daun pisang lalu dikukus. Hasil kukusan langsung dijemur di bawah sinar matahari.

27 Juni 2025 : Proses pemotongan dan penjemuran. Enye-enye setengah kering dilepas dari daun pisang, dipotong menjadi bentuk stik memanjang, lalu dijemur kembali hingga benar-benar kering.

28 Juni 2025   : Proses penggorengan dan pengemasan. Enye-enye kering digoreng, ditiriskan, dan didinginkan. Produk dibuat dalam tiga varian rasa: original, pedas, dan pedas manis. Dikemas seragam dengan stiker label hasil desain kolaboratif sebagai bagian dari pengenalan kemasan, informasi komposisi, dan label produk untuk branding yang menarik.

Pada 2 Juli 2025, kegiatan pendampingan kembali dilakukan dengan fokus pemberian materi digital marketing dan sistem pembayaran QRIS dengan turut menghadirkan narasumber yang telah piawai dalam bidangnya. Masyarakat desa Leuweung Kolot diajarkan strategi sederhana cara memasarkan produk secara daring melalui media sosial dan e-commerce, cara pengemasan, cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), serta diperkenalkan sistem pembayaran non-tunai QRIS yang kian populer di kalangan UMKM.

Mereka sangat terbuka untuk belajar, tampak banyak peserta yang mulai langsung mempraktekkan cara membuat akun shopee penjual dan menyimak cara perhitungan HPP dan  penggunaan serta pembuatan QRIS. 

Puncak program ditandai dengan seremoni peluncuran hasil produk bernama Nyeliwee, sebuah inovasi hasil olahan singkong yang dikreasikan menjadi enye-enye, camilan tradisional dari Sunda yang telah melalui proses produksi dengan sentuhan branding dan digitalisasi. Nyeliwee diambil dari kata Enye-enye Leuweung Kolot menjadi simbol bahwa kolaborasi teknologi dan kearifan lokal dapat mengangkat nilai produk desa Leuweung Kolot. Akhir kegiatan ini sekaligus menjadi penutupan pelaksanaan program Tekno Karsa 1.0. 

Hasil post-test yang diisikan oleh para peserta menunjukkan kegiatan program Tekno Karsa 1.0 ini berjalan secara optimal dan diterima dengan baik oleh masyarakat desa Leuweung Kolot. Sebagai langkah lanjutan, akan dilakukan evaluasi awal dan pendampingan jarak jauh terhadap dampak program, khususnya pemantauan terkait peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pemasaran digital.

Tekno Karsa 1.0 berkomitmen untuk membantu masyarakat memanfaatkan teknologi berkelanjutan dan kemajuan ekonomi. Ini dibuktikan dengan rancangan sistem perhitungan HPP secara otomatis melalui Microsoft Excel yang telah dibuat dan siap membantu masyarakat yang membutuhkan perhitungan produknya.

Program ini menjadi bukti bahwa transformasi digital di desa tidak hanya mungkin, tapi juga dapat dimulai dari hal sederhana. Leuweung Kolot kini tak hanya dikenal sebagai penghasil singkong, tapi juga sebagai desa yang sedang bertransformasi menjadi desa digital mandiri dengan produk inovatif.

Melalui sinergi lintas sektor dan semangat kolaborasi, masa depan desa digital bukan lagi wacana, tetapi kenyataan yang sedang dibangun bersama. Mahasiswa dapat berkontribusi langsung dalam transformasi ekonomi desa dengan membawa ilmu pengetahuan dari ruang kelas ke ruang-ruang sosial yang membutuhkan.

Program Tekno Karsa 1.0 menjadi model pengabdian masyarakat berbasis inovasi digital yang responsif terhadap dinamika ekonomi lokal. Bukan hanya memberikan solusi praktis, tetapi juga membangun kapasitas lokal yang lebih adaptif terhadap era digital. (CJ)

banner 521x10

Komentar