oleh

KOMANDAN Bersama APRI Perkuat Kerjasama Bidang SDA Di Indonesia

Rapat Kerja pertama antara Koperasi KOMANDAN bersaam APRI diselenggarakan di Bukit Algoritma, Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat.

INILAHONLINE.COM, SUKABUMI – Koperasi Mineral dan Pengolahan Nusantara (KOMANDAN) merupakan koperasi yang memiliki cakupan nasional tengah memperkuat bidang usahanya dalam pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia. Upaya ini tengah dijajaki dengan menggaet sebuah asosiasi yang sudah ada sebelumnya, bernama Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI). Penguatan kerjasama ini tengah digodok dalam rapat kerja pertama yang diselenggarakan di Bukit Algoritma, Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat, selama dua hari sejak 12 – 13 Februari 2021.

Menurut Ketua Dewan Pengawas KOMANDAN, Budiman Sudjatmiko mengatakan, penambangan rakyat harus jadi perhatian kita semua. Menurutnya, kita bukan cuma negara yg punya keanekaragaman sosial budaya dan keanekaragaman flora fauna terkaya di dunia, tapi kita juga negara memiliki keanekaragaman mineral terkaya di dunia. “Ini harus dioptimalkan utk kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Rapat Kerja bersama KOMANDAN dengan APRI ini untuk mengonsolidasikan para penambang supaya bisa berkerja secara aman dan tetap melestarikan lingkungan hidup. Perlu ada campur tangan teknologi utk meningkatkan nilai tambah tambang rakyat. “Dalam hal ini Bukit Algoritma menawarkan diri sbg tempat riset teknologi rekayasa mineral agar tak dijual mentah saja,” kata penggagas Bukit Algoritma ini dalam sambutannya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua APRI Gatot Sugiharto berharap, kolaborasi ekosistim Bukit Algorima dalam hal ini Koperasi Mineral dan Pengolahan Nusantara ( KOMANDAN ) dengan Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia ( APRI ) nasib penambang Rakyat jangan hanya jadi perasan pihak-pihak tertentu. “Kami siapnerikan sumbangan buat negara sebesar Rp 20 trilyun per tahun. Itu janji kami yang realistis,” tegas Gatot.

Ketua Koperasi MIneral dan Pengolahan Nusantara (KOMANDAN) Budiman Sujatmiko memimpin Rapat Kerja (Raker) bersama Ketua Asosiasi Penambangan Rakyat Indonesia (APRI) Gatot Sugiharto.

Lebih lanjut Gatot mengungkapkan,  penambang rakyat tidak pernah meminta subsidi kepada pemerintah tapi kita jangan dihalang-halangi untuk menambang. “Kami jangan distigmakan merusak alam , kami mempunyai teknologi yang ramah lingkungan dan kami bertanggung jawab atas pasca tambang,” janjinya.

Asosiasi Penambang Rakyat Indoneisa (APRI), berdiri 24 Agustus 2014, saat ini memiliki 34 DPW, 360 DPC, hampir 1.000 kelompok tambang, dan menaungi sekitar 3,6 juta penambang rakyatIndonesiaantusias menyambut adanya gagasanpembangunan Bukit Algoritma, demi meningkatkan manfaat ilmu pengetahuan untuk rakyat.

APRI menyebut kelompok tambang rakyat sebagairesponsible mining community (RMC).  Target sampai akhir tahun 2022 sedikitnya3.000 RMC. Semua RMC akan berbadan hukum koperasi.SetiapRMC akan membuka +500 lapangan kerja dan membayarpajak/retribusi minimal Rp 1 Milyar/tahun. SetiapRMCmembutuhkan 5-10 hektar, makauntuk 3.000 RMCmaksimal membutuhkan 30.000 hektar di seluruh Indonesia.  Dengan 30.000 hektar akan menyediakan +1,5 juta lapangan kerja dan Rp 1,5 Triliuan penerimaan negara. (Bisa dibandingkan dengan luasan yang dikuasai perusahaan tambang besar).

Masih kata Gatot, APRI makin bersemangat ketika Budiman Sudjatmiko membidangi lahirnya Koperasi Mineral dan Pengolahan Nusantara (KOMANDAN) sebagai salah satu komunitas di Bukit Algoritma.  Salah satu kebutuhan penting dalam pengembangan tambang rakyat Indonesia adalah implementasi teknologi untuk meningkatkan recovery/tingkat penangkapan mineral dalam pengolahan,mengurangi biaya, dan penggunaan teknologi ramah lingkungan.  (CJ/Haris Susetyo)

banner 521x10

Komentar