Ramai Lagu “Mas Bahlil Ganteng” di Medsos, Pakar Politik NSL Bilang Begini

Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasarudin Sili Luli. (Foto : Ist)

INILAHONLINE.COM, JAKARTA – Media Sosial (Medsos) belakangan ini dihebohkan dengan lagu “My Little Bolu Ketan’ yang diperbincangkan oleh warganet. Lagu tersebut ditujukan untuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sekaligus Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar.

Dalam unggahan viral di Instagram hingga TikTok lagu tersebut menyertakan lirik MBG (Mas Bahlil Ganteng), buah apa yang paling manis buaahhlil, tambah ganteng aja, my little bolu ketan,” petikan salah satu lirik lagu yang diviralkan oleh warganet tersebut.

Menurut pakar politik sekaligus Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasarudin Sili Luli mengatakan, Untuk memahami lagu ini bukan cuma soal lucu -lucuan tapi unit informasi budaya yang bisa berevolusi dan beradaptasi.

 “Setiap orang yang me-remix atau share berarti ikut berpartisipasi dalam proses penyebaran makna “di zaman sekrang meme itu kayak DNA komunikasi zaman sekarang.”

Buat Gen Z, meme dan lagu bukan sekadar bercandaan. Itu cara mereka ngobrol, menyindir, bahkan memahami dunia. Seperti yang ditulis Crystal Abidin dalam Internet Celebrity: Understanding Fame Online, meme adalah alat untuk membangun komunitas dan menegosiasikan identitas. 

Lanjut Nasarudin dalam konteks ini, ketika mereka bikin lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG), mereka sedang menandai posisi mereka dalam percakapan publik. Mereka tidak hanya menonton politik, tapi ikut main di dalamnya.

Kita membayangkan sekelompok anak muda nongkrong di kafe, buka laptop, dan mulai ngedit foto Bahlil dengan template “rizz level dewa,dan membuat lirik lagu MBG Buat mereka, itu bukan penghinaan. Itu cara mereka mengekspresikan opini sekaligus bermain-main dengan simbol kekuasaan.

Yang menarik, lagu MBG itu egaliter. Semua orang bisa bikin. Kalau dulu opini publik dibentuk lewat media arus utama, sekarang siapa pun bisa ikut membangun narasi. Dalam kasus Bahlil, ribuan orang jadi co-creator dalam membentuk citra dirinya di internet.

Dulu yang pegang kendali itu humas kementerian, sekarang ya netizen.”

Ryan Milner dalam The World Made Meme menyebut fenomena ini sebagai participatory media culture. Di dunia seperti ini, batas antara pembuat dan penonton konten jadi kabur. 

Setiap orang bisa jadi komentator. Di situlah politik digital Gen Z menemukan bentuknya: informal, visual, cepat, dan spontan.Ujarnya

Kalau kita pakai logika komunikasi konvensional, ya jelas gagal paham. Meme Bahlil dan lagu MBG bukan teks biasa. Ia campuran konteks, timing, dan emosi kolektif. Karena itu, waktu seseorang bikin meme tentang gaya bicara Bahlil, itu bukan semata bahan ketawaan, tapi cara publik memahami figur ini dalam lanskap sosial yang lebih luas.

Menurut saya,buat banyak anak muda, meme lagu MBG adalah cara menghadapi dunia yang terlalu rumit. Ketika ekonomi sulit, politik sumpek, dan informasi berseliweran tanpa henti, mereka merespons dengan humor. “Ketawa dulu, mikir belakangan.”

Tapi jangan salah, Meme lagu MBG jadi alat epistemik, cara mereka memahami dunia. Dalam meme tentang Bahlil, misalnya, mereka sedang mencoba memetakan relasi antara kekuasaan dan rakyat, antara otoritas dan representasi.

Maka, daripada dianggap ancaman, meme lagu MBG seharusnya dilihat sebagai pintu komunikasi baru.Kalau zaman dulu kekuasaan punya podium, sekarang publik punya template.”

Pertanyaannya tinggal satu: apakah figur publik siap berdialog dengan bahasa baru ini?

Di sinilah Bahlil mulai bersemangat. Ia yakin, viralnya meme lagu MBG bukan akhir, tapi awal. Meme bisa jadi branding goldmine kalau diolah dengan cerdas. Dalam dunia Gen Z, reputasi nggak dibangun lewat kesempurnaan, tapi lewat otentisitas.

Bahlil  tahu bahwa yang sedang terjadi ini lebih besar dari sekadar meme. Ini tentang cara baru rakyat bicara kepada kekuasaan. Tentang bagaimana humor bisa jadi jembatan antara istana dan warganet. (Piya Hadi)

banner 521x10

Komentar