oleh

Ketua Komisi Pendidikan PWI, Wartawan Harus Mengutamakan Akurasi dalam Penulisan Berita

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Wartawan yang setiap harinya harus berburu mengejar informasi yang aktual, tidak boleh mengabaikan sisi ketepatan dan akurasi infomasi yang akan dipublis melalui media massa. Sedangkan data atau bahan informasi yang dijadikan bahan berita harus valid, tepat dan akurat.

“Berita yang ditulispun harus memenuhi standar jurnalistik dan kode etik jurnalistik (KEJ),” ujar Ketua Komisi Pendidikan PWI Pusat Hendro Basuki ketika menyampaikan penjelasan proses dan materi uji di hadapan prserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan PWI Jateng di Star Hotel Semarang, Kamis (25/7).

Menurutnya, terpenuhinya dua standar itu belum cukup, masih ada faktor lain yang tidak kalah penting, yakni karya jurnalistik harus dipastikan lolos dari aspek kemungkinan munculnya risiko hukum.

”Ketiga hal itu, tidak bisa ditawar dan harus dipenuhi oleh wartawan, baik yang berkarier di media cetak, elektronik maupun online. Karena ketiga keahlian itu akan menjadi pembeda dengan pekerja lain yang sama-sama mencatat peristiwa dan di publikasikan melalui berbagai saluran komunikasi,”paparnya.

Dia menambahkan, seiring dengan berkembangnya teknologi proses kerja wartawan yang dimulai dari mengumpulkan informasi, dilanjutkan dengan menulis dan menyebarluaskannya melalui berbagai saluran komunikasi bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus menjadi wartawan.

Tiga skill itu, tutur Hendro, harus melekat pada diri setiap wartawan dan terklarifikasi secara sistematis yang oleh Dewan Pers standarisasinya dapat diukur melalui UKW.

Setelah dinyatakan memenuhi standar kompetensi yang diamanatkan Dewan Pers, wartawan harus selalu meningkatkan kualitas diri dan selalu berupaya melakukan adaptasi atas berbagai perubahan yang berlangsung cepat.

“Perusahaan Pers bersama organisasi kewartawanan berkewajiban memenuhi tuntutan ini, dengan selalu meningkatkan kualitas wartawannya melalui program-program pendidikan dan latihan ,” ujarnya.

Selain itu, Hendro mengiyaratkan kemajuan teknologi digital yang begitu pesat kini membuat media pun bergeser. Produksi penerbitan media cetak semakin berkurang, karena mahalnya bahan baku kertas dan biaya operasional. Namun, apakah aktivitas jurnalisme, cara kerja wartawan juga ikut berubah?.

Menurutnya, pergeseran media di era yang penuh disruption, tak membuat cara kerja media berubah. Manajemen newsroom tetap tidak berubah. Mereka hanya perlu beradaptasi menyesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang.

Dia menunjuk contoh, media cetak yang mungkin saja menghilang karena bahan baku dan biaya operasional semakin tinggi. Bahkan selera baca masyarakat juga meulai bergeser dari media cetak ke media siber, dan diperkirakan ke depan akan bergeser lagi.

“Namun, apa itu akan mati? Ketika lahirnya TV, radio apa mati? Apa serbuan digital juga membuat TV mati?. Tidak, hanya bergeser dan tinggal membutuhkan proses adaptasi. Cara kerja media juga tidak berubah. Dari saya menjadi wartawan pada 1981 sampai sekarang, manajemen newsroom tidak berubah,” tutur Hendro.

Melihat kondisi tersebut, dia mengajak wartawan untuk bisa mengoptimalkan teknologi digital untuk penyampaian informasi kepada masyarakat. Jika YouTubers saja bisa mencuri perhatian masyarakat dengan konten yang dibuat, wartawan mestinya bisa lebih dari itu. Namun, tentu ada yang mesti ditaati, setidaknya mematuhi Kode Etik Jurnalistik, Undang-undang Pers, Undang-undang ITE, dan Undang-undang Sistem Peradilan Anak.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengapresiasi uji kompetensi yang terus dilakukan PWI Jateng. Menurutnya, uji kompetensi sangat penting mengingat fenomena akhir-akhir ini, kepercayaan masyarakat terhadap pemberitaan mulai menurun.

Mereka, lanjutnya, kesulitan membedakan mana yang benar, mana yang pemberitaan abal-abal. Maka uji kompetensi ini benar harus dilakukan.

“Kalau saat ini ada 35 wartawan muda yang diuji, mungkin ke depan bisa dikembangkan lagi, diperbanyak, sehingga kepercayaan masyarakat, oh, ini lho wartawan sudah diuji kompetensi oleh para pakar, para seniornya. Sehingga kode etik, UU Pers, UU ITE dan sebagainya bisa diterapkan, serta bisa memberikan contoh pada masyarakat,” ujar Gus Yasin panggilan akrab Taj Yasin.

Menurutnya, belakangan ini masyarakat juga menjadi bagian dari media, dengan perkembangan media sosial (medsos) yang semakin pesat, sehingga meminta agar PWI pun ikut memberikan pembelajaran kepada masyarakat, agar masyarakat juga dapat mengetahui kode etik yang harus ditaati, UU ITE, UU Pers, dan sebagainya.

(Suparman)

Komentar