INILAHONLINE.COM, BOGOR
“Jelang pergantian tahun, isu tak sedap sempat mendera kaum difabel lewat sinyalemen budeg dan buta salahsatu Cawapres terhadap hasil pembangunan rezim berkuasa. Agar tak tersentuh bullyan liar itu, Yayasan DIFFABLE ACTION Indonesia justeru mengupgrade para pengurus dan anggotanya agar tetap eksis.”
Sinyalemennya memang tak ditujukan langsung ke kaum difabel, namun istilah budeg dan buta, secara tak langsung tertuju ke kaum tuna rungu dan tuna netra, sehingga mereka bereaksi terhadap salahsatu Cawapres yang akan bertarung pada 2019. Itulah fenomena anomali politik di alam demokrasi negeri ini.
“Bagi kaum difabel yang sudah punya kemandirian, tak terkecuali tuna rungu dan netra, tak perlu terprovokasi dengan isu itu, cukup upgrade diri kita dengan arts dan skills, di antaranya lewat Training Financial Sustainability,” ungkap Isna, Sekjen YDAI (Yayasan DIFFABLE Action Indonesia) ketika dikonfirmasi, Rabu (21/11/2018).

Agar makin eksis dan bebas bully, YDAI juga menggelar Workshop Art (Decoupage, Terarium, Flanel dan Mozaik Kancing) untuk anggota DIFFABLE ACTION usia pelajar (SD-SMA), workshop pembuatan Aksesoris, Paper Art (dari Koran & Kertas Bekas) dan Beauty Class untuk anggota usia Dewasa, dan Training Leadership, Public Speaking serta Writing untuk jajaran Pengurus Yayasan, Pengurus Daerah, Forked (Forum Keluarga Difabel) dan Komite Difabel.
Dan di antara yang masih berlangsung adalah Training “Digital Marketing” untuk pelaku UMKM Difabel yang tergabung dalam IncuBie UMKM DIFFABLE ACTION. “Training ‘Digital Marketing’ adalah serangkaian sesi training yang nantinya diharapkan bisa memberikan pencerahan dan wacana baru buat teman-teman pelaku UMKM Difabel,” terang Isna.

Training berlangsung selama kurun waktu 45 hari dengan 4 sesi Training, Mentoring selama 15 hari dan terakhir penutupan dengan menampilkan produk untuk khalayak umum. “Training Digital Marketing adalah program kerjasama antara Yayasan DIFFABLE ACTION Indonesia dengan Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jakarta prodi Sarjana Manajemen Bisnis (SMB),” lanjut Isna.
Program tersebut adalah program pengembangan komunitas bertajuk ‘Sharing & Caring’ yang dikomandoi Lia Raudhah bersama tujuh orang temannya, didampingi Dosen Pembimbing Novery Maulana.

Peserta training itu ada sepuluh orang, antara lain Budi Santoso, pengrajin Bunga Kertas untuk Wedding, Teguh, produsen Alat Bantu Mobilitas Difabel & Modifikator Kendaraan Difabel, Ati Nurhayati, pengrajin Fashion Moslem, Tita Nurul, creator Kerajinan Ondel-ondel, Ita – Aksesoris & Pudot, Isna – Decoupage & Flanel Art, Rujak Serut & Cookies, Eka Deliana – Rempeyek, Leni – Puding & Risoles, Didah – Bunga Akrilyc & Nasi Bakar, Rifa – Bolu, Tart dan Cookies.
Training dilaksanakan di Cafe Book Baraya & Cafe Taman Koleksi Bogor. Puncaknya akan ada acara penutupan di kampus Sekolah Tinggi Manajemen PPM di daerah Tugu Tani Jakarta pada Sabtu 15 Desember 2018.

Materi training itu, antara lain – Dasar Digital Marketing & Saluran Promosi untuk Digital Marketing by Sosmed, Membuat Design Foto Produk (plus Captionnya), Membuat Design Sarana Promosi – Kartu Nama, Flyer, Instagram, Facebook Ad, Banner & Backdrop, serta membuat Website Bisnis
“Banyak hal baru yang saya dapat. Meski selama ini saya sudah berpromosi usaha lewat Instagram. Ternyata masih banyak yang harus dibenahi untuk bisa berpromosi secara maksimal,” ujar Ita, salahsatu peserta training.
Training berlangsung gayeng dan setiap sesinya selalu diakhiri dengan games untuk review materi. Leni, produsen Puding dan Risoles mendapatkan award untuk pelaku usaha dengan Tagline yang paling menarik ‘Risoles Gurih Gurih Nyoi.
(Cheyne Amandha Miranda)































































Komentar