DPR Soroti Inovasi Bulog yang Gagal, Akibatnya Beras Menumpuk dan Rusak di Gudang

INILAHONLINE.COM, SEMARANG

Masih adanya gudang bulog yang ditemukan kondisi beras dalam keadaan tidak baik, sangat disayangkan apalagi beras didalam sangat memperihatinkan.

”Jika jutaan ton beras menumpuk di gudang Bulog. Ribuan ton di antaranya dalam kondisi rusak. Hala ini menunjukkan bahwa kinerja Bulog tidak baik dalam menyimpan dan menyalurkan beras tersebut,”ujar anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasludin, Kamis (16/6/2019).

Menurutnya, masih adan dan ditemukannnya kualitas nberas didalam gudang bulog, berarti cara penyimpanan tidak memnuhi standar dan kaidah yang ditentukan. Melihat kondisi seperti ini yang dinilai menjadi penyebabnya adalah, gagalnya manajemen peningkatan kualitas beras dan inovasi yang dilakukan Bulog.

”Kegagalan dalam dua hal ini diyakini, akan menjadi hal berulang pada penumpukan beras di gudang-gudang Bulog di masa depan,”paparnya.

Anggota Komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasludin menilai, inovasi yang dilakukan oleh Bulog dengan menjual beras dalam kemasan atau sachet tidaklah efektif. Inovasi tersebut dinilai sangat kalah bersaing dengan pasar beras lainnya.

“Sekarang menjual dengan sachet, kalah sama pemain besar. Bulog harusnya jangan main ketengan seperti itu, harusnya bermain skala besar,” kata Andi.

Dia mengamati, salah satu penyebab menumpuknya beras di gudang-gudag, karena program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tidak mewajibkan diambil dari Bulog. Untuk itu, dia mengusulkan, selain ditugaskan untuk menyerap, Bulog dapat diberikan kewenangan untuk menyalurkan.

“Jadi, bagaimana keluarkan dulu itu beras. Misalnya untuk rastra (beras sejahtera), bikin saja aturannya,” tuntutnya.

Hal yang sama disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI Ono Surono. Dia mengatakan, jutaan beras menumpuk di gudang lantaran Bulog tak dapat mensuplai beras ke Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) secara maksimal.

Dikatakan, dewan sebetulnya telah mengingatkan Bulog untuk segera mensinkronisasikan data beras, mulai dari stok di gudang Bulog, produksi hingga kebutuhannya. Namun, manajemen sinkronisasi ini sepertinya belum terlaksana.

“Walaupun perlu impor, tetapi terbatas dan bisa dikendalikan, sehingga tidak mengganggu harga gabah di petani (harga gabah tidak jatuh, petani tidak dirugikan) dan tidak kelebihan stok di Bulog,” jelasnya.

Untuk mencegah penumpukan beras di gudang, Peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania, mendorong Bulog untuk berinovasi memperbaiki kualitas stok berasnya. Dengan kualitas baik, beras diyakini bisa langsung dijual atau disalurkan lewat BPNT.

Beras Bulog selama ini kurang diminati oleh para penerima manfaat BPNT. Akibatnya, pemilik e-warung lebih mengutamakan untuk menyetok beras dari non-Bulog.

“OLeh karena itu, penting bagi Bulog untuk meningkatkan daya tarik produknya agar diminati oleh masyarakat, terutama para penerima BPNT,” tegasnya.

Namun demikian, Pakar Pertanian dari IPB, Dwi Andreas malah tak yakin operasi pasar atau program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) oleh Bulog dapat menyelesaikan masalah. Sebaliknya, langkah ini justru bisa menambah masalah baru, yakni menekan harga gabah di tingkat petani.

“Dulu proses in dan out kan sekitar 230 ribu ton per bulan dilakukan secara rutin, namun ketika ini berubah, Bulog tidak siap menyalurkan ke outlet lain, sehingga beras yang disimpan outnya menumpuk tidak tersalurkan dengan baik, sudah barang tentu beras ada umurnya,” ujarnya.

(Suparman)

banner 521x10

Komentar