oleh

Ketika Musisi Jalanan “Rumah Kolong Bogor” Beraksi Ditengah Pandemi

INILAHONLINE.COM, BOGOR – Seniman jalanan yang biasa disebut “Pengamen” adalah sekelompok orang maupun individu yang melakukan pertunjukan di tempat umum (baik bernyanyi, menari, maupun bermain alat musik) untuk mendapatkan uang. Umumnya, pengamen dilakoni oleh remaja yang putus sekolah, atau mahasiswa droup out kuliah dikarenakan tidak ada biaya pendidikan, akibat ketidakmampuan faktor ekonomi orang tua.

Seperti di Kota Bogor, para wajah para musisi jalanan “kota hujan” di tengah masa pandemi Covid-19, mereka tetap eksis pasca penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang ditandai dengan menurunnya angka Covid-19 di “Kota Hujan”  itu

Seperti biasanya mereka terlihat menghibur disela-sela pengendara saat traffic light berwarna merah menyala, maka para musisi jalanan ini beraksi dengan konsep pertunjukan kecil layaknya di atas panggung dengan genre musik reggae di persimpangan jalan kawasan perempatan Warung Jambu, Bantarjati, Kota Bogor.

Jarum jam mulai menunjukan pukul 8 malam, nampak empat orang personil masih bersemangat menggelar aksi menampilkan permainan beberapa alat musik seperti gitar elektik dan perkusi, Permainan musik yang harmonis terdengar merdu dengan dilengkapi perangkat sound pengeras suara sederhana, agar lebih jelas terdengar di tengah kebisaingan suara mesin kendaraan yang antri di traffic ligh.

Dalam sehari, para musisi jalanan yang tergabung dalam kelompok musisi jalanan Rumah Kolong (RKB) bisa membawakan 15 sampai 20 lagu. Dimulai pukul 8 pagi hingga pukul 8 malam, penghasilan yang didapat bisa mencapai 50 ribu rupiah setiap orang.

Aksi musisi jalanan RKB didominasi genre musik reggae

Menurut Koordinator RKB Regi, banyak apresiasi dari masyarakat, terutama dari para pengendara yang berhenti saat lampu merah menyala. Dengan tetap menjaga ketertiban, para musisi jalanan ini dengan leluasa dan aman saat bermain musik di jalanan.

“Kami berharap kepada pemerintah Kota Bogor dapat memberikan kelonggaran atau fasilitas tempat untuk kami melakukan kegiatan ngamen, yang tentunya sesuai dengan aturan kebijakan Pemkot Bogor agar tertib tanpa mengabaikan protokol kesehatan (Prokes) ditengah pandemi Covid-19 yang belum tuntas dan berdampak pada sektor ekonomi kreatif informal seprti yang kami jalani ini,” ujarnya.

Donasi Non Tunai

Para keliompok musisi jalanan (pengamen-red) bahkan menarik perhatian perusahaan penyedia layanan dompet digital Go-Pay, yakni dengan menggandeng sektor informal ini untuk meningkatkan inklusi transaksi non tunai dengan penggunaan teknologi QR Code.

Koordinator musisi jalanan RKB, Regi (kiri) berkesempatan berpose bersama Pimpinan Umum inilahonline.com

Kali ini, yang disasar adalah musisi jalanan. Go-Pay bekerja sama dengan Institut Musik Jalanan (IMJ), sekolah musik yang diinisiasi oleh aktivis sosial Andi Malewa sejak tahun 2014. Dengan melalui kerjasama ini, musisi jalanan juga menerima pembayaran atau donasi dengan Go-Pay.

“Go-Pay ingin lebih banyak lapisan masyarakat yang terbiasa memanfaatkan teknologi pembayaran nontunai dan merasakan kemudahannya. Kami pun memiliki misi untuk membangun perekonomian Indonesia dari piramida paling bawah dan memberdayakan sektor informal melalui akses terhadap layanan keuangan, termasuk untuk para musisi jalanan,” ujar CEO Go-Pay Aldi Haryopratomo kepada media.

Menurutnya, kini masyarakat yang menaruh apresiasi bisa mendonasikan atau menyumbang kepada musisi jalanan pakai Go-Pay.  Sebagai tahap awal, lebih dari 80 musisi jalanan di bawah binaan IMJ akan mendapatkan kode QR yang dipasang pada alat musik mereka.

“Selain masyarakat dapat lebih mudah mengapresiasi karya mereka dengan pembayaran non tunai, musisi jalanan juga dapat mengakses pendataan transaksi harian dengan lebih mudah. Para musisi jalanan juga akan diberikan ruang yang lebih besar untuk berkarya dengan memanfaatkan ekosistem dari Go-Jek untuk meningkatkan kualitas hidup,” imbuh Aldi. (Piya Hadi)

Komentar